REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya meluruskan berbagai isu terkait pembiayaan kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan, biaya tambahan dalam perjalanan luar negeri ditanggung secara pribadi oleh Kepala Negara.
"Masalah biaya di luar negeri. Ini sudah dijelaskan beberapa kali. Jadi, segala kelebihan biaya (biaya tambahan) dari yang telah dianggarkan negara itu sepenuhnya ditanggung pribadi Presiden Prabowo," kata Seskab.
Dalam unggahan resmi Sekretariat Kabinet, Senin (1/6/2026) itu, Seskab merespons dan mengapresiasi atas aspirasi yang disampaikan mantan wakil menteri luar negeri Dino Patti Djalal terkait perjalanan luar negeri yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto.
Pernyataan Seskab ini sekaligus menjawab sorotan Dino terkait kunjungan luar negeri yang dinilai menghabiskan biaya besar dalam salah satu video yang diunggah di akun media sosial miliknya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ia pun menjelaskan mengenai anggota rombongan yang berangkat dalam perjalanan luar negeri, yang jumlahnya sudah berkurang dibandingkan periode sebelumnya. "Jadi, kalau dulu, itu sekali ke luar negeri bisa lebih dari 120 orang. Zaman Pak Dino seperti itu. Nah, zaman Presiden Prabowo jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal," katanya.
Menurut dia, kunjungan Kepala Negara dilakukan salah satunya untuk membangun hubungan yang dekat antarpemimpin dunia dan negara masing-masing. Hal itu penting mengingat dinamika global saat ini, mulai dari konflik di Ukraina hingga krisis di Timur Tengah.
Beberapa manfaat yang didapat Indonesia dari hubungan yang baik itu termasuk stok bahan bakar minyak (BBM) terjaga, harga subsidi BBM tidak naik, dan keamanan persediaan pangan.
Dia juga menyoroti implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) ditargetkan mulai berlaku pada 2027, yang akan memberlakukan tarif nol persen untuk komoditas utama Indonesia.