Jaringan Miliarder AS Superkaya di Balik Misi Canary yang Melawan Akvitis Pro Palestina

republika.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Pada 2015, gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) genap berusia satu dekade.

Selama sepuluh tahun itu, Israel tampaknya tidak memberi perhatian serius terhadap gerakan boikot global tersebut, atau mungkin tidak membayangkan bahwa gerakan itu akan memperoleh pengaruh yang cukup besar, terutama di kalangan masyarakat Amerika dan Eropa.

Baca Juga
  • Trump Bekukan Serangan ke Lebanon, Netanyahu Membangkang, Iran Beri Peringatan Keras
  • Media Sebut Trump Kalah Perang Lawan Iran, Sementara Publik AS Saling Ribut Sendiri
  • Informasi Intelijen Ungkap Koalisi Internal Iran Semakin Menguat dan Luput dari Analisis Barat

Namun dalam waktu yang relatif singkat itu, BDS berhasil bertransformasi dari sekadar sekelompok aktivis Palestina yang bermimpi mengisolasi Israel secara ekonomi dan politik menjadi apa yang kemudian disebut sebagai "ancaman strategis terbesar bagi Israel" di luar wilayahnya.

Sebagai respons, Israel segera melancarkan upaya besar untuk menghadapi gerakan boikot tersebut.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Pada awalnya, pemerintah Israel memfokuskan perhatian pada penyebaran pengaruh BDS di kampus-kampus Amerika Serikat.

Dari upaya inilah lahir salah satu instrumen propaganda dan pengawasan paling kontroversial yang pernah digunakan untuk menghadapi aktivisme pro-Palestina.

Instrumen itu adalah sebuah situs bernama Canary Mission.

Mengutip Aljazeera, Selasa (2/6/2926), situs ini menjalankan berbagai kampanye yang menargetkan mahasiswa dan akademisi pendukung Palestina.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Perdagangan Air Global Tembus Puluhan Triliun, China Penguasanya
• 17 menit lalucnbcindonesia.com
thumb
Ledakan Bom Sisa Perang Dunia II di Biak Numfor Rusak 12 Rumah dan Gereja, 5 Tewas 19 Luka
• 13 jam lalurctiplus.com
thumb
Bom Sisa Perang Dunia II Meledak di Biak, 5 Orang Tewas dan 3 Korban Hilang Masih Dicari
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
Oppo Find X10 Pro Max dalam pengembangan, usung kamera telefoto 200MP
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Iran Hancurkan 20 Fasilitas Militer AS Sejak Perang Dimulai
• 3 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.