REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Pada 2015, gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) genap berusia satu dekade.
Selama sepuluh tahun itu, Israel tampaknya tidak memberi perhatian serius terhadap gerakan boikot global tersebut, atau mungkin tidak membayangkan bahwa gerakan itu akan memperoleh pengaruh yang cukup besar, terutama di kalangan masyarakat Amerika dan Eropa.
Baca Juga
Trump Bekukan Serangan ke Lebanon, Netanyahu Membangkang, Iran Beri Peringatan Keras
Media Sebut Trump Kalah Perang Lawan Iran, Sementara Publik AS Saling Ribut Sendiri
Informasi Intelijen Ungkap Koalisi Internal Iran Semakin Menguat dan Luput dari Analisis Barat
Namun dalam waktu yang relatif singkat itu, BDS berhasil bertransformasi dari sekadar sekelompok aktivis Palestina yang bermimpi mengisolasi Israel secara ekonomi dan politik menjadi apa yang kemudian disebut sebagai "ancaman strategis terbesar bagi Israel" di luar wilayahnya.
Sebagai respons, Israel segera melancarkan upaya besar untuk menghadapi gerakan boikot tersebut.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Pada awalnya, pemerintah Israel memfokuskan perhatian pada penyebaran pengaruh BDS di kampus-kampus Amerika Serikat.
Dari upaya inilah lahir salah satu instrumen propaganda dan pengawasan paling kontroversial yang pernah digunakan untuk menghadapi aktivisme pro-Palestina.
Instrumen itu adalah sebuah situs bernama Canary Mission.
Mengutip Aljazeera, Selasa (2/6/2926), situs ini menjalankan berbagai kampanye yang menargetkan mahasiswa dan akademisi pendukung Palestina.