Florida menggugat OpenAI dan CEO-nya, Sam Altman, pada Senin (1/6/2026), dengan tuduhan bahwa perusahaan tersebut telah memberikan informasi yang menyesatkan mengenai keamanan platform ChatGPT-nya. Gugatan itu menyebut bahwa platform tersebut telah merugikan anak-anak melalui penyediaan informasi kepada pelaku penembakan di sekolah, pemberian panduan tentang cara menyakiti diri sendiri, serta membuat pengguna muda kecanduan.
Sebagai negara bagian pertama yang mengambil tindakan hukum terhadap perusahaan ini, James Uthmeier Jaksa Agung Florida dari Partai Republik mengajukan gugatan tersebut ke pengadilan negara bagian Florida. Gugatan itu merujuk pada insiden penembakan di sebuah universitas di Tallahassee tahun lalu, serta sejumlah kejadian di negara bagian lain di mana ChatGPT diduga telah memberikan informasi kepada orang-orang yang kemudian melakukan tindak kekerasan.
Dalam konferensi pers, Uthmeier menjelaskan bahwa Altman disebutkan secara pribadi karena ia dinilai “sangat berperan sentral” dalam mendorong sejumlah fitur ChatGPT yang dianggap paling berbahaya.
“Orang-orang dirugikan, para orang tua ditipu, dan mereka harus mempertanggungjawabkannya,” ujar Uthmeier seperti dilaporkan Reuters.
Gugatan ini menuntut ganti rugi hingga miliaran dolar, kata Uthmeier, ditambah perintah pengadilan agar perusahaan mengubah cara berinteraksinya dengan pengguna muda.
Juru bicara OpenAI tidak segera merespons permintaan komentar yang diajukan.
OpenAI sebelumnya menyatakan bahwa mereka melatih model-modelnya untuk menolak permintaan yang berpotensi “secara signifikan memungkinkan terjadinya kekerasan,” serta memberi tahu pihak penegak hukum apabila percakapan mengindikasikan “risiko bahaya yang segera dan nyata terhadap orang lain,” dengan melibatkan para ahli kesehatan jiwa untuk menangani kasus-kasus yang meragukan.
Uthmeier mengumumkan pada April lalu bahwa ia sedang memulai penyelidikan pidana terkait peran ChatGPT dalam penembakan massal di Florida State University pada 2025, setelah para jaksa menelaah log percakapan antara tersangka pelaku penembakan dengan program tersebut.
Perusahaan-perusahaan AI kini menghadapi gelombang gugatan hukum yang terus bertambah, dengan tuduhan gagal mencegah interaksi chatbot yang menurut para penggugat turut berkontribusi pada kasus menyakiti diri sendiri, gangguan kesehatan mental, dan tindak kekerasan.
OpenAI juga menghadapi gugatan yang diajukan oleh keluarga seorang pria yang meninggal dunia dalam penembakan di Florida State University, dengan klaim bahwa pelaku penembakan mendapat bantuan dari ChatGPT dalam merencanakan serangannya.
Pada April lalu, anggota keluarga korban dari salah satu penembakan massal paling mematikan di Kanada mengajukan serangkaian gugatan terhadap OpenAI dan Altman, dengan dalil bahwa perusahaan tersebut telah mengetahui delapan bulan sebelum serangan bahwa pelaku sedang merencanakannya melalui ChatGPT, namun tidak memberi tahu pihak kepolisian.(iss/ham)




