Bisnis.com, JAKARTA — Ketepatan memilih nilai oktan atau Research Octane Number (RON) menjadi faktor krusial dalam menentukan tingkat efisiensi, performa, dan keberlangsungan usia komponen mekanis mesin kendaraan.
Di tengah tren penyesuaian tarif bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di SPBU, penggunaan varian oktan tinggi seperti RON 98 atau Pertamax Turbo memerlukan pemahaman mendalam dari para pemilik kendaraan.
Mengingat setiap jenis mesin memiliki spesifikasi teknologi dan rasio kompresi yang berbeda, pengaplikasian bahan bakar premium ini dapat berdampak optimal sekaligus memicu sisa pembakaran yang tidak sempurna jika tidak diselaraskan dengan kebutuhan ruang bakar.
Secara mendasar, RON merupakan indikator utama berupa angka standar yang mengukur tingkat stabilitas bensin agar tidak terbakar secara spontan sebelum dipercikkan oleh busi di dalam ruang silinder.
Semakin tinggi angka oktan yang tertera, maka bahan bakar tersebut memiliki ketahanan yang lebih kokoh terhadap fenomena ledakan prematur atau knocking (mesin ngelitik). Fenomena merugikan ini rentan terjadi ketika bensin meledak prematur akibat tekanan ekstrem sebelum piston mencapai posisi optimal, yang pada jangka panjang berpotensi merusak piston secara drastis.
Dilansir dari laman Suzuki, Selasa (2/6/2026) dalam konteks operasional, bahan bakar RON 98 dirancang khusus untuk mengakomodasi kendaraan dengan performa tinggi, mobil mewah, ataupun sepeda motor berkapasitas silinder besar yang memiliki rasio kompresi tinggi di atas 12:1.
Baca Juga
- Penyesuaian Harga BBM Pertamina per 1 Juni 2026: dari Pertamax Turbo, Dexlite hingga Avtur
- Update Harga BBM Pertamina Juni 2026, Pertamax Turbo Naik Jadi Rp20.750 per Liter
- Daftar Harga BBM Pertamina 1 Juni 2026: Dexlite Turun, Pertamax Turbo Naik
Kendaraan di kelas ini umumnya sudah mengadopsi teknologi turbocharger atau sistem manajemen mesin sensitif yang sangat bergantung pada stabilitas bahan bakar untuk menahan suhu ekstrem.
Penggunaan Pertamax Turbo pada jenis mesin modern ini akan mendorong efisiensi konsumsi bahan bakar, meminimalkan risiko penumpukan kerak karbon, serta menghasilkan semburan tenaga yang optimal karena dorongan piston bekerja secara maksimal.
Namun, aspek teknis mencatatkan dampak sebaliknya jika RON 98 dipaksakan masuk ke dalam ruang bakar mesin berkompresi rendah (di bawah 10:1).
Ketidaksesuaian ini justru mengakibatkan sisa bahan bakar tidak dapat terbakar dengan tuntas, sehingga menyisakan residu kimia yang mengotori ruang silinder dan memicu hilangnya kompresi. Kesalahan fatal tersebut juga mempercepat kerusakan komponen sensor emisi seperti Oxygen Sensor atau Catalytic Converter.
Meskipun fluktuasi kenaikan harga BBM oktan tinggi kerap memicu pengendara beralih ke varian oktan rendah demi menghemat pengeluaran harian, otoritas otomotif menilai langkah tersebut kurang tepat.
Penghematan jangka pendek di pompa bensin berisiko menimbulkan pembengkakan biaya perawatan akibat kerusakan mekanis internal. Oleh karena itu, di tengah dinamika pergerakan harga komoditas energi, penyesuaian konsumsi bensin yang mengacu pada buku manual kendaraan tetap menjadi langkah investasi paling aman untuk menjaga kesehatan mesin jangka panjang.





