Rupiah Hari Ini (2/6) Dibuka Melemah Jadi Rp17.882 per Dolar AS

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan Selasa (2/6/2026) seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) yang didorong meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta solidnya data ekonomi AS.

Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures, rupiah dibuka melemah sebesar 0,43% ke level Rp17.882.

Pelemahan mata uang Garuda terhadap dolar AS sejalan dengan depresiasi mayoritas mata uang Asia lainnya. Hal ini ditunjukkan dari Yen Jepang terhadap dolar AS melemah 0,03%, diikuti dolar Singapura terhadap dolar AS yang melemah 0,01%, won Korea melemah 0,22%, dolar Hong Kong ikut melemah 0,01%.

Dolar Taiwan terhadap dolar AS juga terdepresiasi 0,07%, selanjutnya peso Filipina turut terdepresiasi 0,02%.

Sementara itu, yuan China terhadap dolar AS mengalami penguatan 0,03%, dan rupee India menguat 0,01%. Penguatan terhadap dolar AS juga terjadi untuk baht Thailand melemah 0,10%. Adapun, Ringgit Malaysia terpantau stagnan.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan sentimen utama pelemahan rupiah datang dari keputusan Iran untuk menghentikan komunikasi dan perundingan tidak langsung dengan Amerika Serikat. Di saat yang sama, Teheran juga mengancam akan menutup sepenuhnya Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi jalur distribusi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. 

Baca Juga

  • Saham Dividend Yield Tinggi Jadi Incaran MI di Tengah Pelemahan Rupiah
  • Kurs Riyal ke Rupiah Hari Ini, Acuan Jemaah Haji jika Tukar Uang dan Beli Oleh-Oleh
  • Nilai Tukar Rupiah Perkasa di Awal Juni, Ancaman dari Timur Tengah Masih Membayangi

Ketegangan geopolitik tersebut turut memicu lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan harga energi berpotensi memperkuat tekanan inflasi global dan meningkatkan ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama, faktor yang biasanya mendukung penguatan dolar AS terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain faktor geopolitik, dolar AS juga memperoleh dukungan dari data sektor manufaktur AS yang menunjukkan kinerja lebih kuat dibandingkan ekspektasi pasar. Kombinasi data ekonomi yang solid dan meningkatnya permintaan aset aman membuat indeks dolar bergerak menguat di pasar global.

Di tengah sentimen tersebut, pelaku pasar juga mencermati perkembangan negosiasi antara Iran dan AS terkait konflik yang berlangsung di kawasan Timur Tengah. Ketidakpastian yang masih tinggi berpotensi menjaga volatilitas pasar keuangan global dalam jangka pendek.

"Secara teknikal, rupiah diperkirakan bergerak dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS pada perdagangan hari ini," ujarnya, Selasa (2/6/1/2026).

Hal itu sejalan dengan penguatan greenback di pasar global dan meningkatnya permintaan aset lindung nilai akibat risiko geopolitik yang kembali memanas.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Alami Kendala Rem, Truk Ini Mogok di Flyover Ciputat Tangsel
• 20 jam laludetik.com
thumb
Tiongkok Kirim Bantuan Medis Darurat untuk Tangani Wabah Ebola di Kongo
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Rano Karno Cek Lokasi Kebakaran Kemayoran, Singgung Bahaya Korsleting
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Respons Dino Patti Djalal, Bahtra Tekankan Pentingnya Diplomasi Tatap Muka
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Bupati dan Ketua DPRD Tana Toraja Terima WTP BPK RI Tiga Kali Berturut-turut
• 1 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.