Sebelum pagi terang, Mustafa (84) duduk bersila di trotoar jalan di sekitar Pasar Daya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (1/6/2026). Beberapa kendaraan berlalu-lalang di depannya, menuju pasar yang mulai ramai.
Ia lalu mengeluarkan sebuah botol bekas air mineral. Pedagang pakaian bekas ini membuka penutup dan meminum cairan putih di dalamnya. Setelah dua teguk ia kembali menutup botol. Di dasar botol ada gumpalan nasi putih.
”Tadi mau bikin teh, air saya masak di pemanas yang masih ada nasinya. Tapi tidak tahu apa tehnya masuk atau tidak,” ceritanya sambil tersenyum. ”Maklum, mata sudah rabun. Susah melihat.”
Memakai kemeja putih usang dan celana panjang yang kumal, kakek 32 cucu ini menjalani rutinitas harian. Setelah subuh, ia keluar dari kamar kontrakan dan berkeliling pasar. Ia akan kembali ke sebuah tempat yang menjadi arena dagangan pakaian bekas miliknya.
Setiap pagi, ia duduk di trotoar. Tidak mengemis. Tidak ada kardus atau tempat meminta uang seperti pengemis.
Namun, ia menerima jika ada yang memberi sesuatu, baik makanan maupun lainnya. Hal ini ia telah lakukan selama beberapa tahun lamanya.
Menurut Mustafa, ia telah menetap di kawasan ini selama lebih dari dua pertiga hidupnya. Dari kawasan yang kosong hingga telah penuh bangunan. Ia mengenal hampir semua warga dan pedagang. Rekan seangkatannya hanya tersisa satu orang.
Selama menetap, ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Beberapa menumpang, hingga mengontrak. Saat ini, ia mengontrak satu kamar kos yang dihargai Rp 10.000 per hari. Ia membayarnya saat mempunyai uang.
Kamar berukuran 3x4 meter itu cukup untuk dirinya dan istri keduanya, Lia (68). Anak dan cucu dari istri pertama tersebar di beberapa kota.
Setiap hari, ia mengaku mendapat banyak pertolongan orang dan tetangga. Seorang tetangganya yang bertugas di Angkatan Udara hampir tiap hari membawakan makanan. Ia memakannya bersama sang istri.
Mustafa bukan satu-satunya warga lansia yang masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup di usia senja. Di Kota Bandung, Jawa Barat, cerita serupa juga dijumpai.
Pada Sabtu (30/5/2026), jarum jam baru menunjukkan pukul 06.00 WIB, aktivitas di dalam Kompleks Mitra Dago, Kecamatan Antapani, belum sepenuhnya menggeliat. Jalan-jalan perumahan belum ramai dilalui kendaraan. Akhir pekan, sebagian besar warga memilih berada di dalam rumah lebih lama.
Namun, Zumli Romli (80) seperti tak mengenal akhir pekan. Dia kembali mengayunkan sapu lidinya. Perlahan ia menyapu dedaunan yang berserakan di sepanjang jalan.
Di usia senja, Zumli masih setia menjalani rutinitas yang sama setiap pagi. Kurang lebih dua dekade ia menjadi petugas kebersihan khusus sampah organik daun di kompleks tersebut.
Zumli Romli (80) seperti tak mengenal akhir pekan. Dia kembali mengayunkan sapu lidinya. Perlahan ia menyapu dedaunan yang berserakan di sepanjang jalan.
Tubuhnya masih tegap, tetapi rambutnya sudah memutih. Gerakannya tidak lagi secepat dulu, tetapi tetap teratur dan telaten. Zumli mengatakan, ia biasa bekerja mulai pukul 06.00 hingga 10.00 WIB.
Dibayar Rp 300.000 per minggu, ia setiap hari berjalan kaki sekitar satu kilometer dari rumahnya di Kelurahan Antapani Kulon menuju tempat kerja.
Bagi sebagian orang, penghasilannya mungkin tidak besar. Namun, untuk lansia seperti dia dengan peluang kerja yang terbatas, uang itu sangat berharga.
Apalagi, istrinya kesulitan untuk beraktivitas dalam beberapa tahun terakhir. ”Istri saya sudah tidak bisa berjalan. Kedua kakinya harus diamputasi karena diabetes,” tutur Zumli dengan mata berkaca-kaca.
Zumli memilih bekerja karena tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Dia tahu, kondisi keuangan mereka juga tidak lebih baik darinya.
Dua anak laki-lakinya kini bekerja serabutan sambil membiayai keluarga masing-masing. Anak perempuannya yang telah menikah juga hidup pas-pasan.
”Alhamdulillah, Allah masih memberi saya kesehatan sampai sekarang,” ujarnya.
Ola (32), seorang warga, mengatakan telah lama mengenal Zumli. Mereka kerap melihatnya bekerja sejak pagi hari tanpa banyak mengeluh. ”Dia itu rajin sekali. Hampir setiap hari selalu datang tepat waktu,” katanya.
Kisah Zumli bukan satu-satunya gambaran tentang warga lansia yang masih bekerja di Kota Bandung. Sekitar 10 kilometer dari Kompleks Mitra Dago, tepatnya di kawasan Jalan Sukajadi, seorang perempuan lansia juga masih berjuang.
Hidupnya bergantung dari hasil penjualan jamu dalam botol-botol bekas wadah sirup. Menggunakan gerobak, dia setiap hari menjajakan kepada siapa saja yang ia temui di jalan.
Nama perempuan itu Sarwanti (62). Sudah 30 tahun ia menjalani profesinya sebagai penjual jamu. ”Setiap hari saya berjualan dari pukul delapan pagi sampai sekitar jam dua belas siang di kawasan Sukajadi,” ujarnya.
Di usia senjanya, Sarwanti harus tetap bergerak dan bekerja. Penghasilan dari berjualan jamu dan bakso adalah penopang ekonomi keluarga.
Jamu bukan satu-satunya mata pencarian Sarwanti. Selesai berjualan jamu dengan pendapatan bersih sekitar Rp 100.000 per hari, ia membantu suaminya berjualan bakso di dekat rumah kontrakan mereka di Sukajadi.
Di usia senjanya, Sarwanti harus tetap bergerak dan bekerja. Penghasilan dari berjualan jamu dan bakso adalah penopang ekonomi keluarga.
”Saya dan suami tidak ingin merepotkan anak-anak. Mereka juga sudah punya keluarga masing-masing,” katanya.
Bertambahnya jumlah penduduk lansia membuat kisah Zumli dan Sarwanti berpotensi sering dijumpai di Kota Bandung. Berdasarkan Profil Perkembangan Kependudukan Kota Bandung Tahun 2025, jumlah warga lansia di Kota Bandung mencapai 311.202 jiwa atau sekitar 12 persen dari total penduduk yang mencapai 2,6 juta jiwa.
Belum ada data pasti mengenai jumlah warga lansia yang masih bekerja di Kota Bandung. Data Publikasi Keadaan Angkatan Kerja di Provinsi Jawa Barat 2024 menunjukkan, dari kelompok lansia yang masuk angkatan kerja, sekitar 98,95 persen berstatus bekerja dan 1,05 persen lainnya menganggur. Mayoritas warga lansia tersebut bekerja di sektor informal.
Di sisi lain, tidak semua warga lansia memiliki kondisi ekonomi yang memadai. Sebanyak 94.478 warga lansia di Kota Bandung tercatat dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) pada 2025.
Dari jumlah itu, sekitar 85.000 orang telah menerima berbagai bantuan sosial, seperti Penerima Bantuan Iuran (PBI), Bantuan Langsung Tunai (BLT), dan Program Keluarga Harapan (PKH). Meski demikian, masih ada sekitar 9.000 warga lansia yang belum terjangkau perlindungan sosial.
Pemerintah Kota Bandung juga masih menghadapi persoalan warga lansia terlantar. Pada 2024 tercatat 455 kasus warga lansia telantar, turun 40,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebelumnya, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, tantangan yang dihadapi warga lansia tidak mudah. Dia menyebut, banyak warga lansia yang hidup dari pensiunan, tunjangan sosial, dan program pemerintah.
Ia mencontohkan pemanfaatan makanan siap saji dari hotel dan restoran sebelum kedaluwarsa yang dilakukan di tahun 2025. Harapannya, kerja sama itu bisa membantu meringankan beban hidup warga lansia dan warga tidak mampu lainnya.
Mustafa juga tidak terdaftar sebagai penerima program BPJS Kesehatan.
Mustafa juga menghadapi kenyataan serupa di Makassar. Keterbatasan ekonomi membuat mereka tetap bekerja atau bergantung pada bantuan orang-orang di sekitar.
Di umurnya yang tidak lagi muda, Mustafa mengaku tidak pernah menjadi penerima bantuan resmi pemerintah. Dia, misalnya, tidak mendapat bantuan seperti Program Keluarga Harapan (PKH). Bahkan, Mustafa juga tidak terdaftar sebagai penerima program BPJS Kesehatan.
Padahal, kesehatannya kian menurun. Selain mata, ia memiliki keluhan rematik dan tekanan darah tinggi. Saat penyakit itu menyerang, ia hanya datang ke apotek terdekat yang dikenalnya. Petugas dan pemilik apotek itu selalu baik kepadanya dan memberi obat gratis.
Meski tidak mendapatkan bantuan pemerintah, ia bersyukur banyak yang peduli kepadanya. Orang-orang sekitar dan beberapa perusahaan rutin datang memberi bantuan. Hal itu dirasa cukup untuk keseharian.
”Kita sudah terbiasa hidup susah. Mandiri. Jadi, kalau ada yang bantu, alhamdulillah saja. (Bahkan), kalau tidak ada bantuan, makan yang ada saja. Saya cukup nasi sama gula pasir atau gula merah,” katanya.





