JAKARTA, KOMPAS – Jumlah penduduk lanjut usia akan terus bertambah seiring dengan masuknya fase penuaan penduduk di Indonesia. Saat ini, jumlah orang lansia lebih dari 30 juta orang. Dengan jumlah yang besar tersebut, layanan kesehatan dinilai belum memadai.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus Ketua Umum Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (Pergemi) Siti Setiati mengatakan, Indonesia saat ini memiliki sekitar 12 persen penduduk lansia atau sekitar 30 juta jiwa. Jumlah penduduk lansia atau generasi silver ini akan terus bertambah menjadi 40 juta jiwa pada 2030. Bahkan, pada 2045 diperkirakan jumlah warga lansia mencapai 20 persen dari total penduduk.
Angka kelahiran yang menurun serta semakin bertambahnya usia harapan hidup masyarakat membuat jumlah penduduk lansia akan semakin meningkat. Hal itu menjadi tantangan yang mesti dipersiapkan dengan baik oleh semua pihak, terutama untuk memastikan orang lansia di Indonesia bisa tetap sehat dan mandiri.
Jutaan warga lansia berpotensi menghabiskan masa tua dalam kondisi sakit dengan keterbatasan fungsi dan ketergantungan yang tinggi.
”Tantangan terbesar kita tidak hanya semata-mata menjaga agar lansia bisa hidup lama. Namun, lansia juga harus hidup sehat, tetap mandiri, aktif, dan bermartabat,” ujar Setiati saat dihubungi dari Jakarta, Senin (1/6/2026).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2024 menunjukkan angka harapan hidup (AHH) penduduk Indonesia kini telah mencapai 74,15 tahun. Namun, angka harapan hidup sehat (HALE) masih pada kisaran 60,7 tahun. Kesenjangan lebih dari 13 tahun ini mengindikasikan bahwa jutaan orang lansia berpotensi menghabiskan masa tua dalam kondisi sakit dengan keterbatasan fungsi dan ketergantungan yang tinggi.
Setiati menuturkan, beban kesehatan pada warga lansia semakin kompleks. Umumnya warga lansia yang sakit tidak hanya mengalami satu atau dua jenis penyakit. Penyakit yang dialami pun bersifat kronis sehingga butuh perawatan jangka panjang.
Penyakit itu antara lain hipertensi, diabetes, stroke, penyakit jantung, dan gangguan ginjal. Selain itu, kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya angka demensia atau kepikunan yang terjadi bersamaan dengan beberapa penyakit lain.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, hipertensi menjadi penyakit dengan prevalensi tertinggi pada orang lansia yang mencapai 63,5 persen. Masalah kesehatan lain yang cukup tinggi adalah obesitas (14,06 persen), diabetes melitus (5,7 persen), dan pneumonia (5,6 persen). Selain itu, menurut The Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), diperkirakan sebanyak 6,73 persen penuduk lansia usia lebih dari 70 tahun mengalami demensia.
Fenomena multimorbiditas atau banyaknya penyakit dalam sekali waktu menjadi salah satu tantangan yang tengah dihadapi dan bisa terus terjadi di masa yang akan datang. Padahal, warga lansia dengan banyak penyakit yang mengharuskan mengonsumsi banyak obat justru dapat membawa implikasi yang serius bagi kualitas hidup.
Di sisi lain, orang lansia juga dihadapkan pada persoalan sosial yang membuat mereka hidup dalam kesepian. Banyak orang lansia yang hidup sendiri karena jauh dari anak. Tidak sedikit pula yang hidup tanpa pasangan karena meninggal terlebih dahulu. Masalah kesepian memberikan dampak psikologis yang semakin membebani hidup warga lansia.
Dengan beban tersebut, pola hidup warga lansia tidak mendukung kondisi kesehatannya. Banyak warga lansia yang minim aktivitas fisik, pola makan yang tidak sehat dengan gizi kurang, serta keterbatasan mengakses teknologi yang membuat warga lansia rentan terhadap isolasi sosial. Perubahan iklim yang membuat suhu semakin ekstrem turut meningkatkan kerentanan warga lansia.
Kerentanan pada orang lansia setidaknya telah digambarkan dari hasil cek kesehatan gratis pada 2025. Hasil skrining kesehatan tersebut menunjukkan sebanyak 64,6 persen orang lansia mengalami keterbatasan mobilitas, 38,4 persen mengalami gangguan penglihatan, 34,2 persen mengalami gangguan kognitif, 16,9 persen mengalami depresi, 17,1 persen mengalami gangguan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari, 9,2 persen mengalami gangguan pendengaran, dan 10,1 persen orang lansia mengalami malanutrisi.
Menurut Setiati, penyakit serta keterbatasan pada penduduk lansia tersebut tidak boleh dianggap wajar. Penduduk lansia bisa hidup panjang dengan kondisi sehat dan mandiri. Penyakit bisa dicegah atau setidaknya diperlambat perkembangannya.
Kuncinya pada deteksi dini, pola hidup sehat yang dibangun sejak usia muda, serta melakukan pemeriksaan kesehatan yang teratur. Namun, sayangnya, kesadaran untuk melakukan hal itu masih amat rendah di Indonesia. Stigma di masyarakat yang mewajarkan terjadinya kemunduran fungsi fisik dan kognitif semakin memperburuk kondisi orang lansia.
Kesehatan usia lanjut merupakan hasil dari investasi jangka panjang. Lansia yang sehat dan berkualitas perlu dibangun jauh sebelum seseorang menjadi tua.
”Sering kali orang suka salah dan menganggap wajar pada sesuatu yang terjadi pada orang tua. Jika mudah lupa, suka jatuh, atau jadi lebih banyak tidur, malah dianggap biasa. Padahal, perubahan mendadak pada lansia sudah harus jadi peringatan yang tidak boleh diabaikan,” ujar Setiati.
Menurut dia, kesehatan usia lanjut merupakan hasil dari investasi jangka panjang. Orang lansia yang sehat dan berkualitas perlu dibangun jauh sebelum seseorang menjadi tua. Penuaan yang sehat harus dibangun sejak usia muda.
Di lain sisi, ekosistem di masyarakat yang ramah terhadap orang lansia juga harus dibangun dengan baik. Saat ini setidaknya ada beberapa faktor yang perlu diperbaiki, khususnya dalam pelayanan kesehatan warga lansia.
Fakto-faktor itu antara lain penguatan fasilitas kesehatan primer untuk layanan geriatri (penyakit pada orang lansia), penguatan posyandu lansia, kejelasan sistem rujukan pasien geriatri, pengembangan kota ramah lansia, serta peningkatan kapasitas caregiver atau pengasuh orang lansia. Berbagai upaya tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, masyarakat sipil, profesi kesehatan dan akademisi, hingga pihak swasta.
Secara khusus, Setiati menyoroti layanan kesehatan pada warga lansia di Indonesia. Saat ini, layanan kesehatan yang berjalan dinilai belum memadai kebutuhan warga lansia. Layanan bagi mereka harus komprehensif.
Sayangnya, tenaga medis yang punya kompetensi untuk menangani kompleksitas masalah geriatri masih sangat terbatas. Hingga kini tercatat hanya ada 82 dokter spesialis geriatri di Indonesia. Artinya, satu dokter harus menangani sekitar 365.000 orang lansia. Itu jauh dari angka ideal, yakni satu dokter seharusnya menangani tidak lebih dari 700 pasien.
Ia menekankan, pemeriksaan penduduk lansia membutuhkan asesmen yang komprehensif yang disebut penilaian paripurna geriatri. Pemeriksaan itu tidak hanya menilai kondisi fisik lansia, tetapi juga status kognitif, kondisi mental, dan nutrisi secara lengkap. Layanan tersebut yang saat ini belum berjalan dengan baik di Indonesia.
Selain itu, masalah pembiayaan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) perlu diperbaiki. Skema program JKN kini belum mengakomodasi kompleksitas kebutuhan pasien geriatri. Penduduk lansia biasanya tidak datang dengan satu atau dua penyakit. Sementara pembiayaan dalam BPJS Kesehatan dinilai belum bisa mengakomodasi layanan geriatri yang kompleks tersebut.
”Penanganan lansia itu harus komprehensif. Tidak bisa cuma dilihat dan diobati sakit jantungnya saja, atau lambungnya saja, atau otaknya saja. Pengobatan harus menyeluruh, satu kesatuan yang saling terkait,” kata Setiati.
Pendekatan aktivitas intergenerasional pun perlu dikembangkan di masyarakat. Konsep intergenerasional dilakukan dengan mempertemukan orang lansia dengan generasi yang lebih muda dalam berbagai kegiatan bersama.
”Ada aktivitas antara lansia dan generasi yang lebih muda. Itu bisa membuat lansia lebih happy dan merasa lebih muda. Ini juga bisa menunda kerentanan sosial dan fisik (lansia)-nya,” tutur Setiati.
Menurut dia, perhatian pemerintah pada orang lansia harus diperkuat. Masalah pembangunan lansia mesti jadi prioritas. Warga lansia bukan beban, melainkan potensi yang dapat dioptimalkan jika disiapkan dengan baik.
Sejumlah negara, seperti Jepang, dapat menjadi contoh baik yang menunjukkan generasi lansia tetap bisa sehat, bahkan berkontribusi bagi negara, secara ekonomi dan sosial. Warga lansia yang sehat dapat diberdayakan menjadi bagian dari pembangunan bangsa.
Sejumlah negara, seperti Jepang, dapat menjadi contoh baik yang menunjukkan generasi lansia tetap bisa sehat, bahkan berkontribusi bagi negara, secara ekonomi dan sosial.
Namun, persoalannya, jika pemerintah tidak mempersiapkan generasi lansia yang baik. Beban demografi justru yang bisa terjadi. ”Ini masa depan kita semua. Setiap orang akan menjadi tua. Kalau tidak diperjuangkan sejak dini, kita akan mengalami kondisi yang sulit di masa depan,” kata Setiati.
Secara terpisah, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan Imran Pambudi menyampaikan, pemerintah telah melakukan sejumlah upaya untuk meningkatkan layanan kesehatan orang lansia yang lebih baik. Pemeriksaan dan skrining kesehatan lansia telah berjalan di puskesmas yang terintegrasi dalam program cek kesehatan gratis.
Jejaring layanan lansia pun diperluas hingga ke tingkat desa melalui puskesmas pembantu dan posyandu lansia. Setidaknya 8.914 puskesmas atau 87,18 persen posyandu di Indonesia telah menjalankan konsep posyandu santun lansia.
Pemerintah juga telah mengadopsi pendekatan yang dikembangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni Integrated Care for Older People (ICOPE). Pendekatan tersebut menekankan penguatan kapasitas dan kemampuan fungsional lansia dengan fokus pada deteksi dini, intervensi dini, serta keterlibatan aktif dari keluarga dan komunitas.
”Bagi lansia dengan ketergantungan sedang, berat, hingga total yang jumlahnya mencapai 2,8 persen, pemerintah telah mengembangkan perawatan jangka panjang berbasis komunitas untuk memastikan kesinambungan perawatan dan dukungan sosial di lingkungan tempat tinggal lansia. Sudah ada 77,13 persen puskesmas yang menjalankan pelayanan ini,” tutur Imran.
Ia menambahkan, pemerintah tengah memperkuat kolaborasi lintas sektor lewat Strategi Nasional Kelanjutusiaan. Strategi ini meliputi penguatan regulasi untuk lansia, pengembangan lingkungan ramah lansia, peningkatan literasi kesehatan lansia, dukungan bagi keluarga dan caregiver, penguatan potensi ekonomi, serta pemanfaatan teknologi kesehatan untuk memperluas akses pada lansia.
”Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya bertambahnya jumlah lansia, tetapi bagaimana memastikan para lansia dapat menua dengan sehat, bermartabat, mandiri, dan tetap berpartisipasi dalam kehidupan sosial maupun pembangunan,” ucap Imran.





