Menjadi Sarjana Akademik Tetap Paling Diminati Ketika Ada Pilihan Sarjana Terapan

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Lulusan SMA/SMK sederajat masih menjadikan jenjang sarjana akademik sebagau pilihan utama dalam Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun 2026. Hal ini menunjukkan jenjang sarjana akademik lebih diminati dibandingkan pilihan sarjana terapan.

Saat ini pilihan sarjana terapan untuk bidang vokasi juga bisa melanjut hingga ke magister dan doktor terapan. Namun peminat utama di pendidikan tinggi vokasi  belum mampu menyeimbangi peminat di pendidikan tinggi akademik.

Hal ini terlihat dari data peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Tahun 20226 yang diumumkan pada Senin (25/5/2026), dari total 871.496 pendaftar, mereka bersaing ketat di pilihan satu dan dua di perguruan tinggi negeri (PTN) akademik.

Padahal, pilihan lain ada jenjang sarjana terapan (Diploma 4) dan Diploma 3 di PTN akademik maupun politeknik (peguruan tinggi khusus vokasi).

Pendaftar yang memilih program sarjana (S-1) di pilihan pertama sebanyak 801.717 orang dan pilihan kedua 743.089 orang. Bahkan, pilihan ketiga di jenjang sarjana pun jauh lebih banyak dari yang memilih pogram sarjana terapan (Diploma 4).

Lulusan SMA/SMK sederajat yang memilih program sarjana terapan sebagai pilihan pertama sebanyak 52.177 orang. Jumlah ini kalah jika dibandingkan pilihan ketiga jenjang sarjana sebanyak 67.067 orang. Pilihan menjadi sarjana terapan baru mulai ramai di pilihan ketiga.

Baca JugaVokasi, Sejak VOC Sampai Jokowi

Demikian juga pilihan untuk kuliah jenjang Diploma 3, peminat yang menetapkan sebagai pilihan utama menurun drastis hanya sebanyak 17. 602 orang. Jumlahnya hampir tidak berda jauh dengan pilihan keempat program sarjana yang berjumlah 14.619 orang.

Pilihan untuk kuliah di jenjang Diploma 3 mulai bermunculan sebagai pilihan ketiga, dan terbanyak sebagai pilihan keempat. Pilihan program studi (prodi) bidang vokasi ini wajib jika peserta UTBK hendak mengoptimalkan pilihan hingga 3 atau 4 prodi.

Peserta harus memilih prodi vokasi alias tidak boleh semuanya sarjana jika hendak sampai pada pilihan ketiga atau keempat. Jika hanya mau memilih hingga dua prodi, boleh semuanya jenjang sarjana.

Bahkan, untuk lulusan SMK yang merupakan jenjang pendidikan vokasi tingkat menengah, pendaftar lebih berorientasi pada sarjana akademik. Lulusan SMK yang terdata diterima di jenjang sarjana akademik tahun ini melalui jalur tes di PTN berjumlah 25. 160 orang, sedangkan yang lulus di program sarjana terapan sebanyak 6.282 orang.

Adapun lulusan SMK yang memilih program Diploma 3 di urutan kedua setelah lulusan SMA. Terlihat juga lulusan satuan pendidikan kerja sama hanya hitungan jari yang lolos di prodi vokasi, utamanya sarjana terapan (13 orang).

Vokasi di PTN Akademik

Ketua Umum Tim Penanggung Jawab Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026 Eduart Wolok mengatakan prodi bidang vokasi sebenarnya mulai diminati. Bahkan, berdasarkan data 10 prodi dengan peminat terbanyak di PTN akademik pada UTBK 2026, tujuh di antaranya merupakan prodi vokasi.

Namun, menurut Eduart, pilihan peserta untuk prodi vokasi masih banyak terpusat pada PTN akademik yang memiliki reputasi dan nama besar di tingkat nasional. Program studi vokasi yang paling banyak dipilih antara lain berada di Universitas Sebelas Maret, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Negeri Jakarta.

”Pemahaman siswa tentang perbedaan jalur akademik dan vokasi masih perlu diperkuat agar mereka dapat memilih prodi yang paling sesuai dengan minat, bakat, dan rencana kariernya,” kata Eduart.

Baca JugaProgram Sarjana Terapan Belum Populer di Masyarakat

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), lulusan pendidikan tinggi vokasi, terutama di jenjang Diploma 1/2/3 sebenarnya lebih besar peluangnya mendapatkan pekerjaan.

Data BPS tahun 2025 menunjukkan tingkat pengangguran lulusan universitas mencapai 5,39 persen, naik dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 5,25 persen.

Kenaikan ini terjadi dalam tiga tahun terakhir.  Ada ketidakselarasan (mismatch) antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan dunia kerja menjadi salah satu penyebabnya.

Sebaliknya, jenjang Diploma 1/2/3 tahun 2025 pengangguran sebesar 4,31 persen. Menurut Direktur  Politeknik Negeri Batam Hendrawan mengatakan sebenarnya kebutuhan riil dunia kerja saat ini secara struktural masih cukup besar terhadap lulusan diploma III.

”Namun, minat terhadap program diploma III terus menurun. Banyak calon mahasiswa yang lebih memilih diploma IV atau sarjana terapan,” kata Bambang.

Bambang yang juga Wakil Forum Direktur Politeknik Negeri se-Indonesia (FDPNI) mengatakan  data di Seleksi Nasional berdasarkan tes /UTBK 2026 yang menunjukkan 7 dari 10 prodi paling diminati di PTN akademik justru berasal dari program vokasi atau pendidikan terapan.

Hal ini menjadi sinyal bahwa generasi muda sebenarnya tertarik pada pendidikan yang aplikatif, dekat dengan industri, dan menjanjikan prospek kerja yang jelas. Sayangnya, mereka masih melihat bentuk perguruan tingginya.

Lebih lanjut, Bambang mengatakan fenomena tersebut sekaligus memperlihatkan tantangan besar pendidikan tinggi vokasi Indonesia.

Selain Banyak calon mahasiswa tetap memilih “universitas” yang sejatiya berorientasi akademik dengan dukungan sumberdaya yang pastinya tidak bisa fokus  meskipun program yang dipilih adalah vokasi.

“Sementara politeknik yang sejatinya merupakan perguruan tinggi vokasi yang seluruh sumber dayanya didedikasikan untuk vokasi  sering dipilih karena alasan alternatif atau terpaksa saat peserta ingin menambah pilihan,” kata Bambang.

” Artinya, persoalan utamanya bukan pada kualitas pendidikan vokasinya, tetapi pada positioning kelembagaan dan persepsi sosial terhadap nomenklatur politeknik itu sendiri,” tuturnya.

Menurut Bambang, FDPNI meyakini wacana lahirnya Polytechnic University (PU) di Indonesia menjadi semakin relevan dan mendesak. Meskipun ada PU, bukan berarti politeknik berubah menjadi universitas akademik biasa.

“PU tetap berada di jalur pendidikan tinggi vokasi. Justru yang ingin dibangun adalah ekosistem pendidikan vokasi lebih kuat, berlapis, dan saling melengkapi. PU tidak hanya melahirkan lulusan siap kerja dari jenjang D4 hingga pascasarjana terapan, tetapi juga menjadi mesin inovasi terapan nasional yang mendukung agenda strategis Indonesia menuju Indonesia Emas 2045,” ungkap Bambang.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemenhaj Ingatkan Jamaah Haji: Dilarang Bawa Air Zamzam di Koper Bagasi dan Kabin
• 4 jam lalumatamata.com
thumb
Gempa M 5,4 Guncang Sarmi Papua, BMKG: Waspada Gempa Susulan
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ungkap Alasan Panggil Rayhan Hannan ke Timnas Indonesia, John Herdman Jajal Atribut Spesial sang Pemain
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Mendiktisaintek Bakal Bawa Skandal Riset Palsu ke Jalur Hukum
• 3 jam laluokezone.com
thumb
Duduk Perkara YouTuber Gean Kelana Diintimidasi di Bekasi dan Alasan Pilih Jalur Damai
• 8 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.