Kita mungkin pernah bertanya-tanya kenapa banyak generasi muda yang tetap rela menghabiskan uang untuk nongkrong di kafe atau membeli kopi Rp40 ribuan meski kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Fenomena ini ternyata punya istilah tersendiri dalam psikologi dan ekonomi, yaitu lipstick effect.
Lipstick effect adalah fenomena ketika masyarakat tetap membeli barang atau pengalaman kecil yang terasa menyenangkan saat kondisi ekonomi sedang sulit. Jika dulu identik dengan pembelian lipstik atau kosmetik, sekarang bentuknya jauh lebih luas, mulai dari kopi mahal, makanan viral, nongkrong di kafe estetik, sampai langganan streaming.
Merangkum dari Yonder Consulting, berikut beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang lipstick effect dan alasan fenomena ini semakin dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia saat ini.
Pengertian Lipstick EffectPengertian lipstick effect/Foto: Magnefic.com/Freepik
Istilah ini pertama kali populer ketika para pakar ekonomi menyadari bahwa penjualan kosmetik, terutama lipstik, justru melonjak tajam selama masa Depresi Besar di Amerika Serikat. Ketika rumah, mobil, atau liburan ke luar negeri terasa mustahil untuk dijangkau, sebatang lipstik premium menjadi cara cepat untuk mengurangi stres tanpa menguras rekening bank secara drastis.
Sekarang, bentuk lipstick effect sudah jauh lebih beragam. Fenomena ini bisa terlihat dari kebiasaan membeli kopi kekinian, checkout barang lucu saat diskon, staycation singkat, sampai berburu makanan viral di media sosial. Buat sebagian orang, pengeluaran kecil seperti ini ibarat hadiah setelah menjalani hari yang melelahkan atau menghadapi tekanan hidup yang semakin padat.





