Mengubur Masa Lalu di Panti Lansia

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Secangkir kopi dan sepotong biskuit kecil hampir selalu menjadi teman bagi Cecep Selamat (66) untuk memulai hari selama enam tahun terakhir tinggal di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL), Bekasi, Jawa Barat. Di pagi yang tenang itu, tersimpan kisah panjang tentang jatuh bangun kehidupannya untuk tetap tangguh dan berdaya di usia senja.

Dahulu, Cecep bekerja sebagai eksportir beragam komoditas seperti cengkeh dan pala yang didapatnya dari wilayah Indonesia timur. Usaha ini dibangunnya dari nol hingga memiliki jaringan bisnis internasional yang cukup luas hingga ke India, Vietnam, dan China.

Usaha ayah beranak dua asal Tangerang, Banten ini terus berkembang hingga memiliki banyak relasi dagang di berbagai negara. Bahkan, sampai sekarang ia masih menerima permintaan ekspor melalui surat elektronik dari mitra-mitra lama, meskipun sudah tidak lagi ia tanggapi.

Baca JugaLansia Jepang dan Inggris Melawan Renta dengan Olahraga dan Dansa

Selama masa produktif itu, ia tak pernah merasa kekurangan. Berbagai aset seperti rumah, apartemen, hingga mobil dia miliki. Namun, kehidupan yang mapan tersebut perlahan sirna. Aset dan tabungan habis menguap begitu saja akibat salah pergaulan masa muda.

"Jadi buat anak muda, kalau kita berbisnis itu harus punya akhlak yang benar, kalau enggak benar semuanya berantakan, hilang begitu saja," kata Cecep saat ditemui di STPL, Bekasi, Jawa Barat, Senin (1/6/2026).

Di saat yang sama, ia mengalami masalah kesehatan serius. Awalnya ia mengalami luka infeksi yang kemudian berkembang menjadi tetanus dan akhirnya menjadi kanker ganas. Kondisi tersebut berkembang sangat cepat, hanya dalam waktu sekitar delapan bulan hingga kini kaki kirinya harus diamputasi dan diganti dengan kruk.

"Sebetulnya mau dibilang menyesal, ya menyesal. Tapi itu sudah tidak bisa dikembalikan lagi seperti semula. Istri sudah enggak ada, anak sudah jauh. Anak juga bukan aset buat masa tua saya, mereka punya kehidupan sendiri. Jadi saya lebih bagus seperti begini saja. Terima kenyataan," tuturnya.

Anak juga bukan aset buat masa tua saya, mereka punya kehidupan sendiri.

Setelah istrinya meninggal dunia dan anak-anaknya sibuk dengan kehidupan masing-masing, Cecep menghadapi babak baru yang tidak mudah. Kesepian mulai datang. Ia juga menyadari bahwa anak-anaknya memiliki tanggung jawab dan masa depan sendiri.

Baca JugaLansia dan Pemerintahan Baru

Alih-alih bergantung kepada anak yang entah pergi kemana, Cecep mengambil keputusan yang menurutnya paling realistis yakni tinggal di panti jompo. Pada tahun 2020, ia menulis surat kepada Menteri Sosial agar mau menerimanya di panti jompo milik negara.

Setelah melalui berbagai asesmen yang cukup ketat, Cecep diterima di STPL Bekasi pada tahun 2021 hingga sekarang. Ketika pertama kali datang ke panti, ia terkejut karena pelayanan yang diterimanya ternyata tidak dipungut biaya sepeser pun. Kebutuhan sandang, pangan, papan, semuanya dipenuhi oleh negara.

Menemukan semangat hidup

Perlahan, Cecep mulai menemukan kembali semangat hidup. Kini, hari-harinya diisi dengan mengikuti apel pagi, bercengkerama dengan sesama lansia, dan menikmati hidup dengan lebih tenang. Ia aktif mengikuti berbagai kegiatan seperti membuat kerajinan, mengelola kios, bermain musik, hingga membudidaya ikan gurame dan lele.

Berkat pengalaman bisnisnya, ia juga dipercaya menjadi ketua koperasi di lingkungan STPL Bekasi. Meski koperasi tersebut menghadapi berbagai keterbatasan, ia tetap berupaya membagikan pengetahuan dan pengalamannya kepada penghuni lain.

Baca JugaLansia Korban Berita Bohong, Bercerai hingga Kehilangan Penghidupan

Ketangguhan di usia lanjut ini, menurut Cecep, bukan berarti tidak pernah mengalami kesedihan atau penyesalan. Ia mengakui ada banyak hal dalam hidup yang ingin ia perbaiki jika waktu bisa diputar kembali. Namun, ia memilih berdamai dengan keadaan.

"Kalau saya sekarang sudah menyadari bahwa semua yang terjadi itu karena perilaku kita sendiri, bukan lagi menyalahi orang lain. Kita mau senang, kita mau susah, itu tergantung perilaku kita sendiri," ucap Cecep.

Di tengah berbagai keterbatasan yang datang bersama usia, Cecep menunjukkan bahwa menjadi lansia bukan berarti kehilangan daya. Dengan pengalaman hidup, kemauan untuk beradaptasi, dan semangat untuk tetap bermanfaat, Cecep terus membuktikan bahwa ketangguhan tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh kemampuan seseorang untuk bangkit, menerima kenyataan, dan tetap melangkah ke depan.

Cecep terus membuktikan bahwa ketangguhan tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh kemampuan seseorang untuk bangkit, menerima kenyataan, dan tetap melangkah ke depan.

Baca JugaLansia Pekerja dalam Kondisi Rentan
Kedepankan kesabaran

Pekerja sosial, Dedek Roslina mengungkapkan, Cecep hanya satu dari 73 lansia dengan latar belakang berbeda yang kini dirawat dan lindungi negara di STPL Bekasi. Sebagian dari mereka ada yang sudah tidak bisa bergerak karena mengidap penyakit, tetapi tak sedikit pula yang masih bisa aktivitas mandiri.

Menurut Dedek, lansia yang masuk ke sentra datang melalui berbagai jalur. Ada yang datang atas inisiatif sendiri, dirujuk oleh dinas sosial atau lembaga kesejahteraan sosial, hingga dibawa oleh keluarga. Tidak sedikit pula yang ditemukan dalam kondisi terlantar setelah ditinggalkan keluarganya.

"Bahkan ada yang ditinggal di pinggir jalan oleh keluarganya di depan gerbang kami, lalu ditinggal begitu saja," kata Dedek.

Sebagai pekerja sosial, Dedek juga harus menghadapi berbagai persoalan psikologis lansia, termasuk demensia. Banyak penghuni panti yang mudah marah, berkonflik dengan sesama penghuni, atau mengulang cerita yang sama selama berjam-jam. Bagi Dedek, kesabaran menjadi kunci utama.

"Ya sabar saja, kitanya yang harus menyesuaikan dengan mereka, memahami kondisi mereka," ucapnya.

Meski setiap hari melihat realitas pahit tentang keterlantaran lansia, Dedek tetap berpegang pada keyakinan bahwa tempat terbaik bagi orang tua adalah di tengah keluarga. Dia menegaskan, tujuan utama panti ini adalah rehabilitasi dan mengembalikan lansia ke keluarganya.

Pada kenyataannya, banyak lansia yang justru kembali lagi ke sentra setelah dipulangkan. Sebab, kebanyakan dari mereka merasa tidak diperhatikan atau tidak mendapatkan kebutuhan dasar yang layak di keluarganya.

Banyak penghuni panti yang mudah marah, berkonflik dengan sesama penghuni, atau mengulang cerita yang sama selama berjam-jam. Bagi Dedek, kesabaran menjadi kunci utama.

Baca JugaLansia dan Bonus Demografi Kedua

Dedek menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam rehabilitasi lansia bukanlah fasilitas atau tenaga perawat, melainkan keterlibatan keluarga. Baginya, kemiskinan memang menjadi persoalan besar, tetapi kehilangan perhatian dan kasih sayang keluarga sering kali jauh lebih menyakitkan bagi para lansia yang menghabiskan sisa hidup mereka di panti sosial.

Sementara itu, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial, Kemensos, Supomo menyebut pemerintah telah melakukan berbagai program untuk kesejahteraan lansia. Mulai dari operasi katarak, penyaluran bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (Atensi), pemberian alat bantu dan sarana kamar, pemeriksaan kesehatan gratis, layanan fisioterapi, pemenuhan hak sipil, kampanye sosial, penguatan peran duta lansia, hingga program kewirausahaan bagi lansia.

Supomo juga menegaskan bahwa peringatan Hari Lanjut Usia Nasional bukan sekadar seremonial tahunan. Tema "Lansia Tangguh Indonesia Tumbuh" yang diusung tahun ini mengajak masyarakat untuk melihat lansia bukan hanya sebagai penerima bantuan, tetapi juga sebagai bagian penting dalam pembangunan.

Baca JugaLansia Jepang dan Inggris Melawan Renta dengan Olahraga dan Dansa

Pengalaman hidup para lansia bisa menjadi guru, tangan mereka masih dapat terus bermanfaat, dan ketulusan doa mereka turut menjaga bangsa. Karena itu, lansia perlu diberi ruang untuk tetap aktif, sehat, mandiri, dan terlibat dalam kehidupan sosial.

"Masyarakat harus menjadi ruang yang paling aman dan pemerintah harus menjadi garda terdepan membangun layanan ramah lansia. Kita semua memastikan tidak ada opa dan oma yang merasa sendiri, terlantar atau dilupakan,” kata Supomo.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kabar Baik! Lulusan MagangHub Kini Dapat 15 Sertifikasi Kompetensi
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Jelang Berakhirnya Musim Haji 2026, Satgas dan Otoritas Saudi Perkuat Perlindungan Jamaah RI
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Rapat dengan Komisi X, Mendiktisaintek Tegaskan Tak Ada Kebijakan Tutup Prodi
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Timnas U19 Indonesia Bungkam Myanmar 3-0, Nova Arianto Akui Skuad Garuda Muda Sempat Nervous
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Meriahkan HUT ke-499 Kota Jakarta, Masuk Ancol Gratis 8-19 Juni 2026
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.