jpnn.com, JAKARTA - Sekretaris Bidang Kebijakan Ekonomi DPP Partai Golkar, Abdul Rahman Farisi memberi tanggapan soal pernyataan Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, terkait kondisi fiskal Indonesia yang mengkhawatirkan.
Dia menegaskan bahwa kondisi fiskal nasional saat ini masih berada dalam batas aman. Kondisi ekonomi yang terkendali ini disebut berdasarkan indikator-indikator makro fiskal yang juga diakui secara internasional.
BACA JUGA: LPG Industri Dialihkan ke Gas 3 Kg, Abdul Rahman Farisi: Kepentingan Rakyat Prioritas
Menurutnya, ukuran kerentanan fiskal tidak bisa disederhanakan hanya pada narasi 'utang dibayar dengan utang'. Dalam praktik pengelolaan fiskal modern, pembiayaan ulang utang (refinancing) merupakan mekanisme yang lazim dilakukan hampir seluruh negara, selama rasio fiskal tetap terjaga dan kapasitas pembayaran negara masih kuat.
“Secara teknikal, kondisi fiskal Indonesia masih relatif aman. Rasio utang pemerintah terhadap PDB masih berada di bawah 40 persen, jauh di bawah batas maksimal 60 persen sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Keuangan Negara. Bahkan dibanding banyak negara G20, posisi Indonesia masih jauh lebih sehat,” ungkap Abdul Rahman dalam keterangan resmi, Selasa (2/6/2026).
BACA JUGA: Nilai BBM Stabil Selama Lebaran, Abdul Rahman Farisi Apresiasi Arahan Presiden
Mantan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin itu menilai defisit APBN terhadap PDB masih dijaga di bawah ambang batas 3 persen, yang menunjukkan disiplin fiskal pemerintah tetap terpelihara di tengah tekanan ekonomi global.
Terkait defisit keseimbangan primer pada awal 2026, Abdul Rahman merasa kondisi tersebut dipengaruhi strategi pemerintah yang mempercepat belanja pada triwulan pertama untuk menjaga daya beli masyarakat, mempercepat proyek prioritas, dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
BACA JUGA: Begini Komentar Abdul Rahman Farisi Soal Hasil Diplomasi Bilateral Indonesia dan AS
“Target defisit keseimbangan primer tahun 2026 sebesar Rp89,7 triliun, sementara hingga Maret telah mencapai Rp95,8 triliun. Namun perlu dipahami bahwa pola penerimaan negara memang secara historis meningkat pada triwulan II dan III, terutama dari penerimaan pajak dan aktivitas ekonomi domestik,” jelasnya.
Abdul Rahman juga menyoroti bahwa hingga saat ini indikator pasar keuangan masih menunjukkan kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia tetap kuat.
Hal tersebut terlihat dari stabilitas permintaan terhadap Surat Berharga Negara (SBN), cadangan devisa yang masih tinggi, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap positif di tengah perlambatan global.
“Fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Inflasi relatif terkendali, sektor perbankan stabil, dan konsumsi domestik tetap menjadi penopang utama pertumbuhan nasional,” bebernya.
Di akhir pernyataannya, Abdul Rahman mengajak seluruh pihak untuk menjaga optimisme publik dan mengedepankan kritik yang objektif serta berbasis data.
“Kita tidak boleh membangun kepanikan publik dengan narasi yang tidak proporsional. Kritik harus konstruktif, berbasis data, dan menggunakan pendekatan ekonomi yang tepat agar tidak menimbulkan distrust terhadap kondisi ekonomi nasional,” ujarnya.
Abdul Rahman juga meminta masyarakat untuk tetap tenang dan optimis negara akan tetap tumbuh di tengah berbagai tantangan.
“Mari tetap tenang, mari kita beri kesempatan kepada Pemerintah sebagai otoritas fiskal dan Bank Indonesia ssbagai otoritas moneter untuk tetap bekerja menggunakan instrumen kebijakan secara tepat, efektif, dan terukur agar ekonomi nasional dapat tetap bertumbuh dan lebih stabil,” tutup Abdul Rahman Farisi. (jpnn)
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi




