Citra satelit terbaru menunjukkan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) sedang memperluas fasilitas senjata nuklir di kawasan gurun Xinjiang. Skala pembangunan tersebut mengejutkan banyak pihak. Para pakar menilai langkah Beijing bertujuan mempercepat ekspansi kekuatan nuklirnya dan memperkuat kemampuan pencegahan strategis terhadap Amerika Serikat, sehingga meningkatkan risiko keamanan regional. Namun, para analis juga berpendapat bahwa PKT tidak berani benar-benar melancarkan serangan nuklir.
EtIndonesia.com. Baru-baru ini, kantor berita Reuters mengungkap bahwa Beijing tengah membangun jaringan besar yang terdiri dari landasan peluncuran, bunker perlindungan, dan simpul komunikasi di sekitar silo rudal nuklir di kawasan gurun Xinjiang. Silo-silo tersebut menyimpan rudal dengan jangkauan terjauh yang dimiliki PKT.
Foto satelit menunjukkan adanya lebih dari 80 landasan peluncuran, serta fasilitas yang digunakan untuk peperangan elektronik, komunikasi satelit, dan komando operasi militer.
Pakar militer menjelaskan tujuan di balik perluasan fasilitas nuklir tersebut.
“Perluasan besar-besaran pangkalan rudal balistik berbasis darat saat ini sebenarnya tidak mengejutkan. Alasan utamanya adalah untuk memperkuat kemampuan pencegahan nuklir terhadap Amerika Serikat,” ujar Pembawa acara Military Intelligence Bureau , Zhou Ziding.
Selama bertahun-tahun, pemimpin PKT terus menekankan narasi seperti “kebangkitan kekuatan besar” dan “Timur bangkit, Barat merosot”. Dalam kerangka tersebut, jumlah senjata nuklir dianggap sebagai salah satu indikator kekuatan sebuah negara besar.
Saat ini, Amerika Serikat dan Rusia masing-masing memiliki sekitar 1.500 hulu ledak nuklir yang aktif ditempatkan. Jika termasuk hulu ledak yang disimpan dan dinonaktifkan sementara, total persediaan nuklir kedua negara mencapai sekitar 5.000 unit. Sementara itu, PKT diperkirakan memiliki sedikitnya 600 hulu ledak nuklir dan terus menambah sekitar 100 hulu ledak baru setiap tahun.
Zhou Ziding menambahkan: “PKT selalu berharap bahwa jika memiliki kemampuan nuklir yang cukup kuat dan menjadi negara besar pemilik senjata nuklir, maka Amerika Serikat akan bertindak lebih hati-hati apabila terjadi konflik dengan PKT atau ketika terlibat dalam situasi di Selat Taiwan.”
Dr. Shen Mingshi, peneliti di Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, mengatakan: “Kemungkinan besar tidak akan benar-benar digunakan untuk menyerang. Jika senjata nuklir digunakan, hasil akhirnya adalah saling meluncurkan serangan yang berujung pada kehancuran bersama yang terjamin (mutually assured destruction), bahkan dapat mengancam kelangsungan bumi. Fungsi utamanya tetap sebagai alat pencegahan nuklir.”
Menghadapi ekspansi kekuatan nuklir PKT yang terus berlanjut, Presiden Donald Trump pada Januari 2025 memerintahkan pengembangan sistem pertahanan rudal berteknologi tinggi yang disebut “Golden Dome” (Kubah Emas). Jika program tersebut berhasil diwujudkan, ancaman nuklir dari PKT dan Rusia diyakini akan berkurang secara signifikan.
Sumber : NTDTV.com





