Bisnis.com, JAKARTA — Bank Dunia (World Bank) memperkirakan harga minyak mentah masih akan bertahan pada level tinggi dalam jangka pendek sebelum berangsur turun, dengan rata-rata mencapai US$86 per barel pada 2026 dan US$70 per barel pada 2027.
Dalam laporan Commodity Markets Outlook edisi April 2026 yang dirilis baru-baru ini, Bank Dunia menyebut proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa fase paling parah dari gangguan pasokan akibat konflik di Asia Barat berakhir pada Mei 2026.
Laporan tersebut mencatat harga minyak Brent rata-rata berada di level US$69 per barel selama dua bulan pertama 2026, sebelum melonjak menjadi sekitar US$100 per barel pada Maret dan April.
“Proyeksi ini juga mengasumsikan ekspor minyak dari Asia Barat akan pulih setelah periode gangguan mencapai puncaknya, dan kembali stabil mendekati level sebelum perang pada kuartal IV/2026,” tulis Bank Dunia dalam laporannya dikutip dari The Star, Selasa (2/6/2026).
Menurut Bank Dunia, lonjakan harga minyak yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir diperkirakan akan mereda secara bertahap apabila produksi yang sempat terhenti kembali berjalan dan aktivitas perdagangan global kembali normal pada paruh kedua tahun ini.
Pada akhir 2026, pasar minyak diperkirakan mulai kembali ke dinamika sebelum konflik. Namun, premi risiko geopolitik diperkirakan masih bertahan seiring dampak berkepanjangan dari gangguan pasokan yang signifikan dan tingginya ketidakpastian selama periode konflik.
Baca Juga
- Harga Minyak Global Memanas, Pasar Cemas Konflik Israel-Lebanon Meluas
- Harga Minyak Melonjak di Tengah Kebuntuan Perundingan AS-Iran
- Harga Referensi CPO Turun pada Juni 2026, Kakao Naik Imbas Penutupan Selat Hormuz
Pada sisi permintaan, konsumsi minyak global diproyeksikan turun 0,1 juta barel per hari (mbpd) atau sekitar 0,1% pada 2026. Penurunan tersebut dipicu oleh pembatasan konsumsi di sejumlah negara akibat gangguan pasokan dari Asia Barat, meskipun sebagian negara lain masih mampu meningkatkan konsumsi, namun di bawah perkiraan sebelumnya.
Sementara itu, pada kuartal II/2026, pasokan minyak dunia diperkirakan merosot hampir 7 juta barel per hari menjadi 98,4 juta barel per hari. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar secara kuartalan sejak pandemi Covid-19.
Apabila asumsi dasar Bank Dunia terealisasi dan gangguan pasokan di Timur Tengah mulai mereda pada pertengahan tahun, produksi minyak global diperkirakan pulih ke rata-rata 108,3 juta barel per hari pada semester II/2026.
Bank Dunia menilai risiko terhadap proyeksi harga minyak masih cenderung mengarah ke kenaikan. Harga minyak berpotensi lebih tinggi apabila gangguan pasokan dan perdagangan akibat perang berlangsung lebih luas dibandingkan asumsi dasar yang digunakan dalam proyeksi.
Adapun risiko penurunan harga berasal dari percepatan adopsi kendaraan listrik, perlambatan pertumbuhan ekonomi global yang lebih dalam dari perkiraan, serta peningkatan pasokan minyak yang lebih besar, terutama pada 2027.
Selain minyak, Bank Dunia juga memperkirakan fase paling parah dari gangguan produksi dan perdagangan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) akan berakhir pada Mei 2026.
Ekspor LNG dari Asia Barat diperkirakan kembali berjalan dalam beberapa bulan berikutnya dengan asumsi tidak terjadi kerusakan tambahan pada infrastruktur energi.
“Harga gas di Eropa diperkirakan melonjak sekitar 25% secara tahunan pada 2026. Gangguan pasokan LNG dari Asia Barat dan kerusakan fasilitas jangka menengah di Qatar memicu persaingan global yang ketat untuk memperoleh LNG guna mengisi kembali cadangan yang menipis,” tulis Bank Dunia.
Bank Dunia menambahkan harga gas Eropa diperkirakan turun sekitar 20% pada 2027 seiring meredanya gangguan pasokan global.





