Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan impor migas pada April 2026 mencapai 82,52 persen secara tahunan. Kenaikan impor energi tersebut ikut menekan kinerja neraca perdagangan Indonesia yang hanya mencatat surplus USD 89,1 juta atau menjadi yang terendah sejak Mei 2020.
Berdasarkan data BPS, nilai impor Indonesia pada April 2026 mencapai USD 25,21 miliar atau meningkat 22,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan tersebut didorong oleh impor migas yang mencapai USD 4,60 miliar, melonjak 82,52 persen secara tahunan. Sementara itu, impor nonmigas tercatat sebesar USD 20,62 miliar atau naik 14,11 persen dibandingkan April 2025.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan lonjakan impor migas terutama berasal dari kenaikan nilai impor minyak mentah.
“Nah kenaikan impor migas 82,52 persen ini disebabkan oleh peningkatan nilai impor minyak mentah yaitu 67,49 persen yang berasal dari negara terbesarnya adalah Nigeria, Brasil, dan Kazakhstan. Kemudian peningkatan nilai impor hasil minyak sebesar 87,76 persen dengan negara asal impornya itu Malaysia, Singapura, dan Mesir,” ujar Pudji dalam konferensi pers BPS, Selasa (2/6).
Secara kumulatif, sepanjang Januari-April 2026 nilai impor Indonesia mencapai USD 86,51 miliar atau naik 13,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Impor migas tercatat sebesar USD 12,93 miliar atau meningkat 17,58 persen, sedangkan impor nonmigas mencapai USD 73,58 miliar atau naik 12,70 persen.
Selain migas, kenaikan impor juga terjadi pada kelompok bahan baku dan penolong yang mencapai USD 61,82 miliar sepanjang empat bulan pertama tahun ini. Kelompok ini menjadi penyumbang terbesar peningkatan impor nasional, didorong oleh kebutuhan bahan bakar mineral, mesin dan perlengkapan elektrik, serta berbagai produk kimia.
Di tengah lonjakan impor tersebut, ekspor Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar USD 25,30 miliar atau naik 21,98 persen secara tahunan. Nilai ekspor nonmigas mencapai USD 24,15 miliar, sedangkan ekspor migas sebesar USD 1,15 miliar.
Meski ekspor masih tumbuh lebih dari 20 persen, laju impor yang tinggi membuat surplus perdagangan menyusut tajam. Pada April 2026, neraca perdagangan barang Indonesia hanya mencatat surplus USD 89,1 juta.
“Jadi surplus April 2026 ini merupakan surplus terkecil sejak Mei 2020 atau selama surplus 72 bulan berturut-turut,” kata Pudji.
BPS mencatat surplus April 2026 masih ditopang oleh perdagangan nonmigas yang mencatat surplus USD 3,53 miliar. Komoditas penyumbang surplus terbesar berasal dari lemak dan minyak hewani atau nabati (HS15), bahan bakar mineral (HS27), serta besi dan baja (HS72).
Namun pada saat yang sama, neraca perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar USD 3,44 miliar. Defisit tersebut berasal dari impor minyak mentah, hasil minyak, dan gas alam yang masih lebih besar dibandingkan ekspornya.
Secara kumulatif, Indonesia masih membukukan surplus perdagangan sebesar USD 5,64 miliar pada Januari-April 2026. Surplus tersebut ditopang oleh surplus nonmigas sebesar USD 14,16 miliar, sementara neraca migas mencatat defisit USD 8,52 miliar.





