Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi meminta Iran menjamin keselamatan seluruh kapal yang melintas di Selat Hormuz, tanpa memandang asal negaranya.
Dikutip dari Bloomberg, Selasa (2/6), permintaan itu disampaikan dalam percakapan telepon ketiganya dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.
"Saya sekali lagi dengan tegas meminta agar seluruh kapal, termasuk kapal Jepang dan negara-negara Asia lainnya, dapat melintas di Selat Hormuz secara bebas dan aman sesegera mungkin," kata Takaichi kepada wartawan setelah percakapan telepon selama 15 menit pada Senin.
Dalam pembicaraan tersebut, Takaichi juga menegaskan kembali sikap Jepang bahwa ketegangan harus diturunkan melalui dialog.
"Saya menyampaikan harapan agar Iran terus menunjukkan fleksibilitas maksimal untuk mencapai kesepakatan secepat mungkin," ujarnya.
Percakapan itu terjadi ketika Presiden AS Donald Trump mengeklaim negosiasi dengan Iran mengalami kemajuan dan kedua pihak hampir mencapai kesepakatan. Trump bahkan mengatakan kepada ABC News bahwa kesepakatan bisa tercapai dalam waktu sekitar satu minggu. Namun Iran membantah laporan bahwa kesepakatan sementara sudah dekat.
Menurut unggahan Pezeshkian di platform X, Iran akan memastikan kapal-kapal Jepang dapat melintas di Selat Hormuz dengan lebih mudah dan tanpa masalah. Hambatan utama, kata dia, justru berasal dari pembatasan dan kendala yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap pelayaran dan perdagangan Iran.
Unggahan tersebut tidak lagi tersedia pada Selasa pagi dan belum diketahui apakah telah dihapus.
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, mengatakan percakapan telepon itu berlangsung pada momen penting dalam perundingan AS-Iran.
"Kami akan terus mendukung upaya diplomatik negara-negara penengah dan melanjutkan diplomasi kami sendiri semaksimal mungkin, bekerja sama dengan negara lain untuk mendorong tercapainya kesepakatan cepat antara Iran dan Amerika Serikat," kata Kihara.
Jepang Khawatir Dampak ke EnergiJepang sangat bergantung pada minyak dari Timur Tengah. Karena itu, semakin lama perang di kawasan tersebut berlangsung, semakin besar pula dampaknya terhadap perekonomian Jepang.
Sejak Iran secara efektif menutup akses Selat Hormuz setelah serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari, hanya sedikit kapal yang terkait dengan Jepang berani melintas di jalur tersebut.
Beberapa kapal Jepang yang tercatat melintas antara lain kapal tanker LNG kosong pada awal April, kapal tanker minyak raksasa Idemitsu Maru pada akhir April, serta supertanker Eneos Endeavor yang melakukan pelayaran langka melalui jalur tersebut pada Mei.
Saat itu, Takaichi mengungkapkan masih ada 39 kapal yang berafiliasi dengan Jepang berada di Teluk Persia, termasuk satu kapal yang diawaki warga Jepang.
Pemerintah Jepang juga mulai menyiapkan anggaran tambahan untuk menghadapi dampak perang antara AS-Israel dengan Iran. Menjelang musim panas yang diperkirakan meningkatkan konsumsi energi, isu biaya listrik dan energi menjadi perhatian utama pemerintah maupun masyarakat.
Pemerintah berencana menggunakan sekitar USD 3,2 miliar dari dana cadangan anggaran tahun ini untuk membiayai subsidi utilitas. Anggaran tambahan diperlukan karena dana tersebut mulai menipis.





