Kementerian Pertanian (Kementan) mengakui pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turut mendongkrak harga sapi perah impor.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun, mengatakan sapi perah impor selama ini menjadi salah satu sumber peningkatan populasi sapi perah nasional.
“Memang sekarang ada kenaikan harga sapi perah. Umumnya kita ngambilnya dari Australia, walaupun negara seperti New Zealand juga beberapa negara yang lain, kita tidak ada masalah,” kata Makmun dalam konferensi pers Hari Susu Nasional di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (2/6).
Menurut dia tahun lalu pelaku usaha mengimpor sapi perah bunting seharga Rp 45 juta per ekor, dan diperkirakan tahun ini harga tidak melebihi Rp 50 juta per ekor.
“Tahun ini tidak sampai Rp 50 (juta per ekor). Ada kenaikan, tapi tidak sampai ke Rp 50 (juta per ekor). Ada di bawah juga, ada kenaikan tidak terlalu jauh juga sih dari kondisi yang ada,” jelasnya.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga memberikan tekanan terhadap biaya bahan baku industri pengolahan susu.
General Manager Research & Development PT Indolakto, Tjatur Lestijaman, mengatakan sekitar 80 persen kebutuhan bahan baku susu nasional masih bergantung pada impor sehingga pergerakan kurs dolar berpengaruh terhadap biaya produksi.
“Kurang lebih karena 80 persen dari kebutuhan susunya masih impor, dan harganya juga terpaut dengan dolar. Sedikit banyak memang ada pengaruh terhadap biaya bahan baku Indomilk dalam hal ini,” katanya.
Meski demikian, dia menegaskan perusahaan tidak akan sepenuhnya membebankan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen. Menurut dia perusahaan masih berupaya menjaga keterjangkauan harga produk di tengah daya beli masyarakat yang menjadi perhatian.
Untuk menekan dampak pelemahan rupiah, Indolakto menjalankan berbagai program efisiensi di pabrik serta mengoptimalkan penyerapan susu segar dalam negeri yang saat ini berkontribusi sekitar 20 persen terhadap total kebutuhan bahan baku perusahaan.
“Semoga dengan usaha-usaha dan kerja sama kita, supply chain jadi bisa lebih efisien ke depannya. Ketersediaan susu dalam negeri bisa meningkat, sehingga pengaruh-pengaruh eksternal seperti dolar ini tidak membebani kita,” tuturnya.
Menurut Tjatur, kombinasi penggunaan susu lokal dan efisiensi operasional membuat dampak kenaikan biaya akibat pelemahan rupiah dapat ditekan.
"Dampaknya itu bisa tidak lebih sampai 10 persen. Tapi memang harus diimbangi dengan usaha-usaha penyediaan suplai dan efisiensi logistik," katanya.





