JAKARTA, KOMPAS– Penyakit perlemakan hati non-alkoholik sering kali tidak disadari. Pasien biasanya baru mengetahui kondisi penyakitnya saat sudah terjadi komplikasi berupa sirosis hati yang dapat meningkatkan risiko kanker hati.
Kesadaran akan pencegahan dan deteksi dini mesti ditingkatkan. Sebab, faktor risiko di masyarakat semakin tinggi, terutama terkait kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam dialog kesehatan bertajuk “Bicara tentang Hati: Solid Habit, Strong Liver”, di Jakarta, pada Selasa (2/6/2026), mengatakan, penyakit hati atau liver saat ini sebagian besar masih disebabkan oleh virus.
Sekitar 55 persen kasus penyakit hati disebabkan oleh virus Hepatitis B dan Hepatitis C. Sementara sekitar 25 persen lainnya disebabkan oleh faktor metabolisme yang terkait dengan konsumsi alkohol.
“Sekitar 15 persen disebabkan perlemakan hati (non-alkohol). Ini yang kenaikannya paling tinggi. Itu karena masalah metabolisme lain, biasanya karena obesitas dan gula (diabetes),” tuturnya.
Mengutip data yang dipublikasi dalam jurnal Clinical and Molecular Hepatology, Desember 2022, prevalensi kasus perlemakan hati nonalkohol secara global meningkat dari 26 persen pada tahun 2005 menjadi 38 persen pada 2016. Peningkatan tersebut sejalan dengan meningkatnya faktor risiko yang terkait, yakni obesitas dan diabetes.
Perlemakan hati atau yang dikenal dengan fatty liver merupakan kondisi yang ditandai dengan peningkatan kandungan lemak pada hati. Umumnya, kasus perlemakan hati tak menyebabkan masalah serius. Akan tetapi, jika tak ditangani dengan baik, kondisi ini bisa memburuk hingga menyebabkan fibrosis sampai dengan sirosis hati.
Perlemakan hati atau yang dikenal dengan fatty liver merupakan kondisi yang ditandai dengan peningkatan kandungan lemak pada hati.
Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) yang juga Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterologi Hepatologi RS Cipto Mangunkusumo, Irsan Hasan, menuturkan, kondisi penyakit hati kerap tak disadari karena sering tidak bergejala. Bahkan saat sudah pada kondisi sirosis pun banyak yang tak merasakan gejala.
“Sirosis itu hatinya berubah menjadi berbenjol, tidak rata, mengecil, dan menjadi keras. Uniknya, sehebat ini pun kondisi sirosis, keluhan tidak terasa, tidak ada nyeri. Itu karena di liver tidak ada saraf. Jadi, sinyal nyeri tidak muncul,” tuturnya.
Karena itu, Irsan mengatakan, upaya deteksi dini menjadi sangat penting. Deteksi dini perlu dilakukan tanpa harus ada gejala yang muncul. Deteksi sebaiknya dilakukan sejak dini sebelum kondisi sirosis terjadi.
Ketika penyakit hati terdeteksi sejak dini, upaya penyembuhan bisa dilakukan dengan optimal. Pada kondisi fibrosis hati atau penumpukan jaringan parut akibat peradangan, pasien masih bisa sembuh. Namun, jika sudah pada kondisi sirosis yang buruk, kerusakan bisa permanen.
Deteksi bisa dilakukan, antara lain dengan tes darah untuk pemeriksaan enzim hati seperti SGOT dan SGPT, USG perut, maupun biopsi hati. Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut dapat dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas.
Namun, menurut Irsan, saat ini ketersediaan fasilitas untuk pemeriksaan kesehatan hati masih belum merata di Indonesia. Hal ini yang dinilai menjadi salah satu tantangan dalam upaya deteksi dini di masyarakat.
Budi menyampaikan, pemerintah berupaya meningkatkan upaya deteksi dini penyakit, termasuk penyakit hati, melalui skrining dalam program cek kesehatan gratis. Pemeriksaan bisa dilakukan di puskesmas dengan pemeriksaan darah. Jika dari hasil pemeriksaan diketahui ada risiko penyakit hati, pasien bisa dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan.
“Yang terpenting pada upaya pencegahan. Jangan banyak makan gula, perbanyak gerak supaya tidak obesitas. Obesitas dapat menjadi fatty liver yang nanti bisa menyebabkan kanker. Selain itu, lakukan pemeriksaan fungsi hati,” tuturnya.
Pada kesempatan sama, ahli gizi Rita Ramayulis menyatakan, konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak jadi salah satu pemicu perlemakan hati. Itu meliputi antara lain, minuman bersoda, jus kemasan, sirop, permen, cokelat manis, donat, daging sapi, jeroan, keripik kentang, kentang goreng, serta makanan lain dengan kandungan garam tinggi.
“Makanan yang tinggi kalori terutama dengan kandungan gula, lemak jenuh, dan sodium yang tinggi memang membuat rasa menjadi lezat. Itu termasuk junk food yang dapat memicu terjadinya perlemakan hati nonalkohol,” ungkapnya.
Menurut Rita, risiko perlemakan hati akibat konsumsi makanan tak sehat amat berisiko bagi masyarakat Indonesia. Data telah menunjukkan 61,7 persen penduduk Indonesia mengonsumsi minuman manis setidaknya satu kali sehari.
Selain itu sebanyak 29,7 persen penduduk mengonsumsi makanan asin atau tinggi garam sekali sehari serta 41,7 persen mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol lebih dari satu kali sehari.
Rita menambahkan, makanan tinggi gula, garam, dan lemak harus dikurangi. Sebaliknya, masyarakat diharapkan bisa memperbanyak asupan makanan yang memiliki manfaat baik untuk kesehatan hati misalnya ubi ungu, buah naga, terong, bunga telang, bayam merah, dan stroberi.
Makanan-makan terebut dapat meningkatkan aktivitas enzim pelindung hati sekaligus mencegah perlemakan hati dengan memperbaiki sensitivitas insulin.
Selain itu konsumsi sayuran silang perlu ditingkatkan untuk menjaga kesehatan hati misalnya brokoli, lobak, bunga kol, kale, kubus, dan selada air. Jenis sayuran tersebut mengandung glukosinolat yang dapat mengoptimalkan fungsi hati dan menurukan risiko perlemakan hati.
“Untuk mengurangi lemak yang dapat menumpuk di hati, perlu juga menurunkan berat badan. Setidaknya dengan menurunkan berat badan 5 persen, lemak yang menumpuk di hati bisa berkurang. Jika berat badan menurun sampai 10 persen, itu bisa mengatasi peradangan dan memperbaiki jaringan parut di hati,” ujar Rita.





