Es Goyang Bukan Sekadar Jajanan, tapi Aset Ekonomi Kerakyatan Jakarta

kompas.com
6 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memandang keberadaan pedagang es goyang tidak hanya sebagai pelaku usaha kecil biasa.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) DKI Jakarta Elisabeth Ratu Rante Allo menyebut pedagang es goyang merupakan aset penting ekonomi kerakyatan sekaligus penjaga warisan kuliner tradisional perkotaan.

“Pedagang es goyang adalah bagian integral dari UMKM yang melestarikan warisan kuliner tradisional perkotaan. Keberadaan mereka mempertahankan memori kolektif kuliner tradisional di tengah modernisasi yang terjadi,” kata Ratu saat dihubungi Kompas.com, Senin (1/6/2026).

Baca juga: Es Goyang, Jajanan Tradisional yang Bertahan di Tengah Kota Modern

Menurut dia, meskipun tidak terdapat data sensus khusus yang mencatat jumlah pasti pedagang es goyang di Jakarta, pengamatan lapangan menunjukkan jumlah penjual mandiri terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Sebatang es goyang rasa cokelat diletakkan di atas nampan stainless steel untuk dilapisi dengan taburan remahan kacang tanah sangrai, Jakarta Pusat, Jumat (29/5/2026).

Pergerakan pedagang yang dahulu mudah ditemukan di berbagai sudut kota kini semakin terbatas.

Banyak di antaranya hanya muncul saat festival kuliner atau acara rakyat tertentu.

Meski demikian, Ratu melihat adanya perubahan pola usaha.

Sebagian pelaku mulai bertransformasi melalui konsep kemitraan atau waralaba skala kecil dengan gerobak yang lebih modern, bersih, dan menarik.

“Jumlah pedagang gerobak keliling tradisional memang semakin langka. Namun ada pergeseran tren di mana usaha ini mulai bertransformasi menjadi konsep kemitraan dengan tampilan yang lebih modern,” ujarnya.

Ia menilai tantangan terbesar yang dihadapi usaha es goyang saat ini bukan hanya persaingan dengan produk modern, tetapi juga rendahnya minat generasi muda untuk meneruskan usaha yang selama ini dijalankan secara turun-temurun.

Baca juga: Nostalgia dalam Sebatang Es Goyang, Jajanan Masa Kecil yang Masih Dicari Warga

Selain itu, minimnya inovasi produk, keterbatasan permodalan, hingga meningkatnya tuntutan konsumen terhadap standar kebersihan dan higienitas menjadi hambatan yang harus dihadapi pedagang.

Untuk menjaga keberlangsungan usaha tersebut, Dinas PPKUKM membuka berbagai fasilitas melalui ekosistem Jakpreneur.

Dukungan yang diberikan antara lain pelatihan desain kemasan, sanitasi dan higienitas pangan, manajemen bisnis, hingga pendampingan legalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), PIRT, dan sertifikasi halal.

“Pelestarian kuliner tradisional seperti es goyang sangat krusial dalam mendukung ekonomi kerakyatan karena membuka lapangan pekerjaan mandiri dengan modal relatif kecil,” kata Ratu.

KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Papan nama seng bertuliskan Es Goyang Djadoel Rp. 5.000 terpasang di bagian dalam penutup gerobak dagangan, Jakarta Pusat, Jumat (29/5/2026.

“Dari sisi identitas budaya, es goyang adalah bagian dari sejarah kuliner Nusantara yang memiliki keunikan cara pembuatan dan penggunaan bahan lokal yang tidak tergantikan oleh produk modern,” lanjut dia.

Bertahan di tengah penurunan jumlah pedagang

Di bawah rindangnya pepohonan kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, seorang pedagang es goyang tampak setia menunggu pembeli di sisi jalur pedestrian, Jumat (29/5/2026).

Gerobak berwarna hijau toska dengan aksen merah mencolok menjadi penanda keberadaannya di tengah aktivitas warga yang berolahraga, berjalan santai, maupun menikmati suasana taman kota.

Pria itu adalah Dudin (49), salah satu pedagang es goyang yang masih bertahan di Jakarta.

Dudin mengaku telah berjualan sejak 2011 setelah mengikuti jejak saudaranya yang lebih dahulu menekuni usaha tersebut.

“Awalnya saya main ke sini, ngikut sama saudara. Lama-lama tertarik dan akhirnya jualan es goyang sampai sekarang,” kata Dudin saat ditemui.

Baca juga: Ari-ari Kami Ditanam di Sini Alasan Korban Kebakaran Kemayoran Tolak Pindah ke Rusun

Selama sekitar 15 tahun berjualan, ia menyaksikan perubahan besar dalam bisnis yang dahulu begitu populer itu.

Menurut Dudin, banyak orang mengenal jajanan tersebut sebagai es goyang, padahal nama awalnya adalah es lilin yang berasal dari Jawa Barat.

“Sebenarnya nama awalnya es lilin. Di Jawa Barat kebanyakan disebut es lilin. Tapi karena yang jualan banyak di Betawi dan proses bikinnya digoyang-goyang, akhirnya dikenal sebagai es goyang,” ujar dia.

Metode pembuatannya hingga kini masih mempertahankan cara tradisional.

Adonan dimasukkan ke dalam cetakan kemudian dibekukan menggunakan campuran es batu dan garam sambil terus digoyangkan.

“Kalau pakai freezer bisa sampai satu jam. Kalau pakai cara ini sekitar 15 menit sudah beku,” kata dia.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Dalam sekali produksi, Dudin dapat membuat sekitar 33 batang es.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
"Ari-ari Kami Ditanam di Sini" Alasan Korban Kebakaran Kemayoran Tolak Pindah ke Rusun
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Kesaksian Sopir Ojol Korban Begal BKT Rorotan: Ditodong Golok hingga Dipukul
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Indonesia-Arab Saudi Sepakati Penguatan Koordinasi dan Teknologi untuk Lindungi Jemaah Haji
• 12 jam lalukompas.com
thumb
Ada yang Penasaran Kapan Kiamat Terjadi, Ini Jawaban Bijak Rasulullah
• 2 jam lalurepublika.co.id
thumb
[FULL] Wali Kota Jakpus soal Skema Ujian Sekolah Siswa Terdampak Kebakaran Kemayoran
• 4 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.