JAKARTA, KOMPAS.com - Di antara riuh aktivitas warga dan deretan kendaraan yang melintas di kawasan Jakarta Pusat, seorang pria paruh baya masih setia mendorong gerobak es goyangnya setiap pagi.
Namanya Edy (51), pedagang es goyang yang sudah lebih dari tiga dekade bertahan menjajakan jajanan tradisional berbasis santan dan es beku itu di berbagai sudut ibu kota, khususnya kawasan Pasar Senen.
Bagi Edy, es goyang bukan sekadar dagangan. Ia menyebutnya sebagai warisan keluarga yang ia pelajari secara turun-temurun sejak awal 1990-an.
“Saya mulai sekitar tahun 1992 atau 1993. Sudah lebih dari 30 tahun,” kata Edy saat ditemui Kompas.com, Jumat (29/5/2026).
Sebelum menjadi pedagang es goyang, Edy bekerja sebagai pembuat tas dengan upah sekitar Rp 40.000 per minggu.
Baca juga: Es Goyang, Jajanan Tradisional yang Bertahan di Tengah Kota Modern
Namun, pekerjaan itu tidak bertahan lama. Ia kemudian beralih ke dunia usaha kecil karena dorongan ekonomi keluarga.
Perjalanannya sempat terhenti pada 2004–2005 ketika harga bahan baku naik dan usaha menurun. Namun, dorongan dari keluarga dan pemberitaan media membuatnya kembali mendorong gerobak es goyang hingga hari ini.
“Pernah berhenti, tapi akhirnya balik lagi. Ini sudah jadi hidup saya,” ujar dia.
Edy menjelaskan, es goyang yang ia jual sebenarnya dikenal juga sebagai es lilin.
Namun, seiring waktu, istilah “es goyang” lebih populer karena proses pembuatannya yang digoyang-goyang saat dibekukan secara manual menggunakan campuran es batu dan garam.
“Dari Bandung awalnya es lilin. Di Betawi berkembang jadi es goyang karena cara bikinnya digoyang,” kata Edy.
Resep turun-temurun dan bahan alamiDalam sehari, Edy bisa memproduksi puluhan hingga ratusan batang es. Ia tetap mempertahankan resep lama dari keluarganya tanpa perubahan signifikan.
“Semua turun-temurun dari ibu saya. Santan harus asli, gula asli, buah juga asli,” ujarnya.
Varian yang dijual pun beragam, mulai dari kacang hijau, ketan hitam, kelapa, stroberi, nangka, hingga cokelat.
Namun, menurut Edy, rasa kacang hijau tetap menjadi favorit pelanggan dari dulu hingga sekarang.
Meski harga bahan baku terus naik, ia tetap menjual es goyang seharga Rp 5.000 per batang sejak 2017.
“Harusnya sudah naik, tapi saya tahan karena pembeli juga harus terjangkau,” katanya.
Baca juga: Penyebab BKT Rorotan-Cakung Menjadi Surga Begal: Jalur Sepi hingga PJU Dicuri
Edy mengakui bahwa kondisi usaha es goyang saat ini jauh berbeda dibandingkan masa kejayaannya.
Pada awal 2000-an, ia bisa menjual ratusan batang dalam sehari. Kini, penjualan jauh lebih sepi.
Ia juga menyebut jumlah pedagang es goyang semakin berkurang drastis. Dari puluhan pedagang di satu kawasan, kini tersisa belasan saja.
“Dulu bisa 50-an orang, sekarang paling 12 orang kalau kumpul,” katanya.
Bagi Edy, es goyang bukan sekadar pekerjaan, melainkan warisan yang ia jaga agar tidak hilang ditelan zaman. Namun ia juga menyadari, tidak semua anak muda tertarik melanjutkan usaha ini.
“Kalau saya mungkin pensiun nanti. Tapi saya harap masih ada yang lanjutkan,” katanya.
Ekonom: nostalgia bukan cukup untuk bertahanPengamat ekonomi sekaligus Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menilai keberadaan es goyang menunjukkan bahwa jajanan tradisional masih memiliki daya tahan di tengah perubahan besar industri kuliner modern.
Menurut dia, ketahanan es goyang tidak semata ditopang oleh faktor harga yang terjangkau, tetapi juga oleh nilai emosional dan nostalgia yang melekat pada masyarakat.
“Ketahanannya bukan hanya karena harga yang relatif murah, tetapi juga karena adanya nilai nostalgia dan kedekatan emosional dengan masyarakat,” ujarnya saat dihubungi.





