jpnn.com, JAKARTA - Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto hadir ke acara pameran foto, surat, dan komik Bung Karno di halaman Patung Multatuli, Saidjah, dan Adinda, Rangkasbitung, Lebak, Banten, Selasa (2/6).
Diketahui, acara pameran ini masih masuk dalam peringatan hari lahir Pancasila sekaligus menandai pembukaan Bulan Bung Karno 2026.
BACA JUGA: Soal Lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme, Hasto PDIP Singgung Spirit Pembebasan Rakyat
Hasto hadir ke lokasi dengan didampingi Ketua DPP PDIP Ribka Tjiptaning dan Kepala Badan Sejarah PDIP Bonnie Triyana.
Ketua dan Sekretaris DPD PDIP Banten Ade Sumardi serta Wanto Sugito tampak menyambut kehadiran Hasto ke lokasi.
BACA JUGA: Refleksi Hari Lahir Pancasila, Hasto PDIP Ungkit Visi Geopolitik Bung Karno
Panitia acara menyambut Hasto dengan menampilkan kesenian Angklung Buhun dari Sanggar Lebak Membara.
Setelah itu, upacara pembukaan dilakukan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan penampilan Celempung dari Kanekes.
BACA JUGA: Bulan Bung Karno 2026 di Banten, Bonnie Triyana Libatkan UMKM hingga Budayawan
Ketua Panitia yang juga Anggota DPR RI Komisi X Fraksi PDIP Bonnie Triyana melaporkan bahwa perayaan akan berlangsung sebulan penuh dari 1 hingga 30 Juni 2026.
Sementara itu, Hasto dalam sambutan memberi semangat pada seluruh peserta yang duduk di bawah teriknya matahari.
"Jangan takut dengan panasnya sinar matahari. Ketika saya di penjara karena memperjuangkan kebenaran dan cita-cita, sinar matahari menjadi langka. Bersyukutlah kita bisa mendapat sinar Sang Surya yang telah memberi energi kehidupan," ujarnya, Selasa.
Hasto menuturkan energi matahari ikut menggerakkan peringatan Bulan Bung Karno ini yang diawali dengan peringatan hari lahir Pancasila tanggal 1 Juni.
“Pancasila bukan hanya ideologi bangsa, tetapi Pancasila juga harus membangun suatu tata dunia baru,” kata Hasto.
Dia menjelaskan bahwa pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 sebagai gugatan terhadap imperialisme dan kolonialisme yang bekerja ratusan tahun di Indonesia.
Alumnus Universitas Pertahanan (Unhan) juga menyoroti warisan Multatuli yang melalui tulisan Max Havelaar (1860) mampu mengguncangkan Belanda hingga melahirkan politik etis.
Hasto melontarkan kritik tajam terhadap kehidupan demokrasi saat ini dengan mengutip penelitian Zeitgeist yang menyatakan Indonesia tidak lagi menjadi negara demokrasi.
Sebab, kata dia, belakangan muncul berbagai bentuk pembungkaman dan demokrasi hanya prosedural.
“Ketika ada pihak manapun yang mencoba menghancurkan kebebasan kita untuk membela kepentingan rakyat, itu tanda-tanda hadirnya kolonialisme baru dalam sistem sosial politik kita,” kata dia.
Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah dalam sambutan menyatakan bahwa dirinya berdiri di tempat yang bersejarah karena memakai namq Multatuli.
Sebab, dia menyebut Multatuli mampu menorehkan pena untuk melawan penindasan terhadap rakyat Lebak.
“Multatuli melalui pena, Bung Karno melalui pidato, tujuannya sama, menegakkan keadilan. Saya jawab tegas, keduanya pembela yang lemah,” ujar Wabup.
Dia kemudian menambahkan warisan ketiga, yaitu Baduy dengan kejujurannya yang selaras dengan Pancasila sebagai ajaran hidup.
“Tidak tertulis di kertas, tetapi dijalankan dalam laku setiap hari. Jujur pada alam, jujur pada janji, jujur pada sesama. Itulah hakikat kejujuran. Baduy adalah Pancasila yang hidup,” kata Amir Hamzah.
Dia juga menyerukan gotong royong untuk membangun jalan ke Baduy, menjadikan museum sebagai sumber api keberanian untuk berbicara kebenaran.
“Jangan sekali-kali kita meninggalkan sejarah. Sebab Baduy tidak akan meninggalkan sejarahnya, begitu pula Multatuli tidak akan meninggalkan jejaknya," katanya.
Acara puncak simbolis pembukaan Pameran Foto, Surat, dan Komik Bung Karno dilakukan dengan membunyikan alat musik celempung yang diikuti oleh suara dari Sanggar Celempung.
Bonnie Triyana ditemani oleh Wakil Bupati Amir Hamzah, Sekjen Hasto Kristiyanto, serta anggota DPP PDI Perjuangan menuju ke Pendopo Museum Multatuli. (ast/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Daftar 26 Pemain Timnas Spanyol untuk Piala Dunia 2026
Redaktur : Rah Mahatma Sakti
Reporter : Aristo Setiawan




