Bisnis.com, MALANG — Kota Malang mengalami inflasi 0,18% pada Mei 2026 yang dipicu terutama kenaikan harga cabai merah.
Kepala BPS Kota Malang, Umar Sjaifudin, mengatakan Kota Malang mengalami inflasi bulan ke bulan (m-to-m) sebesar 0,18%, tahun kalender (y-to-d) sebesar 1,22% dan secara y-on-y mengalami inflasi sebesar 3,10%.
“Penyumbang utama inflasi Mei 2026 secara m-to-m adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,06%, sedangkan komoditas utama penyumbang inflasi adalah cabai merah,” katanya, Selasa (2/6/2026).
Secara y-on-y, kata dia, inflasi pada Mei 2026 dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Adapun komoditas utama penyumbang inflasi yakni emas perhiasan.
Menurutnya, pada Mei 2026, terjadi kenaikan harga BBM dibandingkan April 2026, khususnya pada komoditas Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Adapula kenaikan harga pada komoditas cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah, karena anomali cuaca ekstrem yang menyebabkan keterbatasan produksi dan pasokan.
“Perkembangan harga emas dunia yang menunjukkan kecenderungan penurunan harga, berdampak pada produk turunannya, termasuk emas perhiasan,” ujarnya.
Baca Juga
- Harga Cabai di Jawa Barat Meroket hingga Rp135 Ribu per Kilogram
- BPS: Cabai Merah, Minyak Goreng, dan Beras Jadi Pendorong Inflasi Mei 2026
- Harga Pangan Hari Ini 1 Juni 2026, Cabai Rawit Merah dan Daging Ayam Ras Naik
Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Joko Budi Santoso, menilai inflasi Kota Malang masih terkendali sampai Mei, meski cuaca ekstrem mempengaruhi produksi komoditas pangan.
Wilayah sekitar Kota Malang, yakni Kota Batu dan Kabupaten Malang yang merupakan sentra produksi komoditas hortikultura, maka kenaikan harga komoditas pangan seperti cabai merah masih dapat dikendalikan melalui pasokan dari kedua wilayah tersebut.
Namun demikian, cuaca ekstrem yang masih berlanjut di bulan Juni patut diantisipasi dengan memperkuat pasokan. Selain itu, tekanan imported inflation masih menghantui karena belum redanya gejolak geopolitik di Timur Tengah yang dapat berdampak pada kenaikan harga BBM nonsubsidi sehingga berimbas pada peningkatan biaya logistik, termasuk bahan-bahan input produksi pertanian seperti pupuk dan pakan ternak.
Di sisi lain, kata Joko, fluktuasi harga emas yang mengalami tren penurunan dapat menjadi penyumbang deflasi, artinya dapat menjadi salah satu peredam inflasi karena volatile foods.(K24)





