Jakarta (ANTARA) - Pereli nasional Rifat Sungkar membagikan kisah menarik tentang bagaimana dirinya menemukan bakat tersembunyi sang anak, El Mayka Rifat Sungkar, di dunia balap sprint rally.
Bakat tersebut terendus lewat sebuah momen tidak terduga saat mereka melakukan race di Semarang.
"Jadi saya coba ajak Mayka berada dalam mobil. Bukan jadi driver, tapi jadi navigator atau co-driver," ujar Rifat dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.
Rifat menjelaskan keterlibatan El Mayka sebagai navigator merupakan bagian dari proses pembelajaran di lingkungan balap yang sesungguhnya.
Dengan berada di dalam mobil reli saat kompetisi berlangsung, El Mayka diharapkan dapat memahami ritme balapan, membaca situasi, dan membangun kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk menjadi pembalap pada masa mendatang.
"Konsepnya adalah membuat ini menjadi seperti on the job training. Di dalam mobil dia ikut, dalam mobil balap yang pace-nya benar, speed-nya benar, sehingga dia nanti akan terbiasa bagaimana mengantisipasi dan mengendarai mobil ini di waktu yang akan datang," kata Rifat.
Sebelum memulai debut, Rifat menceritakan bahwa ia hanya memberikan dasar-dasar membaca catatan perjalanan (pace note) secara sederhana kepada Mayka di meja makan rumah mereka.
"Saya cuma ngajarin pelan-pelan, bukan level profesional. Ibaratnya pakai arah jarum jam untuk menentukan sudut belokan," tuturnya.
Baca juga: Rifat Sungkar siapkan program pembinaan untuk putranya di motorsport
Namun, kejutan terjadi saat mereka turun langsung ke lapangan untuk melakukan reconnaissance (survei lintasan). Ketika Rifat dan navigator utamanya memperkirakan jarak sebuah tikungan sejauh 150 meter, Mayka yang saat itu berada di dalam mobil justru mengoreksi sang ayah.
"Mayka bilang, 'Enggak Papi, ini 300 (meter)'. Saya pikir itu cuma bercanda. Tapi pas putaran kedua kami cek kilometernya, ternyata benar 300 meter. Saya yang salah," kata Rifat.
Kemampuan Mayka dalam membaca pace note dengan akurat di usia dini langsung membuat Rifat terkejut sekaligus bangga. Ia mengaku tidak menyangka dengan perkembangan putranya yang dinilai mampu beradaptasi dengan cepat dalam peran sebagai navigator.
"Dia membaca pace note seperti orang yang sudah duduk lima tahun di mobil balap. Saya merasa ada diri saya di dalam dia. Waktu event awal saya tidak menyangka," ujar Rifat.
"Kita cuma belajar sebentar, ternyata dia passion-nya ada. Mudah-mudahan kita bisa meneruskan tradisi keluarga untuk bisa berprestasi."
Sementara itu, El Mayka mengakui bahwa pengalaman pertamanya mencicipi aspal kompetisi di Semarang sempat membuatnya sangat gugup. Namun, ia berhasil mengatasi hal tersebut melalui persiapan yang matang.
"Itu pertama kali Mayka balap, dan waktu itu nervous banget, deg-degan. Cara menghindari rasa nervous itu pakai practice, jadi tidak gugup lagi," ujar Mayka.
Kerja keras dan ketenangan anak berusia 12 tahun tersebut membuahkan hasil yang manis pada debut perdananya.
Ketika ditanya mengenai hasil akhir dari balapan pertamanya di Semarang tersebut, Mayka menjawab dengan singkat dan bangga, "Podium."
Baca juga: Honda Racing Indonesia perkenalkan Rachel Cia untuk musim balap 2026
Baca juga: Empat dekade quattro Audi, dari reli ke elektrifikasi
Bakat tersebut terendus lewat sebuah momen tidak terduga saat mereka melakukan race di Semarang.
"Jadi saya coba ajak Mayka berada dalam mobil. Bukan jadi driver, tapi jadi navigator atau co-driver," ujar Rifat dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.
Rifat menjelaskan keterlibatan El Mayka sebagai navigator merupakan bagian dari proses pembelajaran di lingkungan balap yang sesungguhnya.
Dengan berada di dalam mobil reli saat kompetisi berlangsung, El Mayka diharapkan dapat memahami ritme balapan, membaca situasi, dan membangun kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk menjadi pembalap pada masa mendatang.
"Konsepnya adalah membuat ini menjadi seperti on the job training. Di dalam mobil dia ikut, dalam mobil balap yang pace-nya benar, speed-nya benar, sehingga dia nanti akan terbiasa bagaimana mengantisipasi dan mengendarai mobil ini di waktu yang akan datang," kata Rifat.
Sebelum memulai debut, Rifat menceritakan bahwa ia hanya memberikan dasar-dasar membaca catatan perjalanan (pace note) secara sederhana kepada Mayka di meja makan rumah mereka.
"Saya cuma ngajarin pelan-pelan, bukan level profesional. Ibaratnya pakai arah jarum jam untuk menentukan sudut belokan," tuturnya.
Baca juga: Rifat Sungkar siapkan program pembinaan untuk putranya di motorsport
Namun, kejutan terjadi saat mereka turun langsung ke lapangan untuk melakukan reconnaissance (survei lintasan). Ketika Rifat dan navigator utamanya memperkirakan jarak sebuah tikungan sejauh 150 meter, Mayka yang saat itu berada di dalam mobil justru mengoreksi sang ayah.
"Mayka bilang, 'Enggak Papi, ini 300 (meter)'. Saya pikir itu cuma bercanda. Tapi pas putaran kedua kami cek kilometernya, ternyata benar 300 meter. Saya yang salah," kata Rifat.
Kemampuan Mayka dalam membaca pace note dengan akurat di usia dini langsung membuat Rifat terkejut sekaligus bangga. Ia mengaku tidak menyangka dengan perkembangan putranya yang dinilai mampu beradaptasi dengan cepat dalam peran sebagai navigator.
"Dia membaca pace note seperti orang yang sudah duduk lima tahun di mobil balap. Saya merasa ada diri saya di dalam dia. Waktu event awal saya tidak menyangka," ujar Rifat.
"Kita cuma belajar sebentar, ternyata dia passion-nya ada. Mudah-mudahan kita bisa meneruskan tradisi keluarga untuk bisa berprestasi."
Sementara itu, El Mayka mengakui bahwa pengalaman pertamanya mencicipi aspal kompetisi di Semarang sempat membuatnya sangat gugup. Namun, ia berhasil mengatasi hal tersebut melalui persiapan yang matang.
"Itu pertama kali Mayka balap, dan waktu itu nervous banget, deg-degan. Cara menghindari rasa nervous itu pakai practice, jadi tidak gugup lagi," ujar Mayka.
Kerja keras dan ketenangan anak berusia 12 tahun tersebut membuahkan hasil yang manis pada debut perdananya.
Ketika ditanya mengenai hasil akhir dari balapan pertamanya di Semarang tersebut, Mayka menjawab dengan singkat dan bangga, "Podium."
Baca juga: Honda Racing Indonesia perkenalkan Rachel Cia untuk musim balap 2026
Baca juga: Empat dekade quattro Audi, dari reli ke elektrifikasi



