Dulu Jadi Primadona Anak Sekolah, Kini Es Goyang Bertahan Berkat Nostalgia

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah gempuran minuman kekinian, es krim modern, dan aneka jajanan viral yang silih berganti muncul di media sosial, es goyang masih bertahan sebagai salah satu jajanan tradisional yang menyimpan tempat tersendiri di hati masyarakat.

Meski jumlah pedagangnya terus berkurang dan popularitasnya tak lagi setinggi beberapa dekade lalu, jajanan berbahan santan yang dahulu menjadi primadona anak sekolah itu belum sepenuhnya hilang dari ruang publik.

Bagi sebagian orang, es goyang bukan sekadar makanan penutup atau pelepas dahaga.

Jajanan ini menyimpan kenangan masa kecil, menghadirkan kembali suasana sekolah, serta menjadi bagian dari memori kolektif lintas generasi.

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat menilai fenomena bertahannya es goyang tidak dapat dilihat hanya sebagai persoalan kuliner semata.

"Es goyang ini memiliki posisi penting sebagai bagian dari budaya jajan tradisional yang merepresentasikan identitas lokal dan memori kolektif masyarakat," kata Rakhmat saat dihubungi Kompas.com, Selasa (2/6/2026).

Baca juga: Es Goyang, Jajanan Tradisional yang Bertahan di Tengah Kota Modern

Menurut dia, di tengah maraknya makanan dan minuman modern yang dipasarkan secara masif, terutama kepada generasi Z dan generasi Alpha, es goyang tetap menjadi simbol kesederhanaan sekaligus warisan budaya kuliner yang menghubungkan generasi masa lalu dengan masa kini.

Meski demikian, Rakhmat mengakui bahwa generasi muda saat ini semakin sedikit yang mengenal jajanan tersebut.

"Keberadaannya bukan hanya soal konsumsi, tetapi juga pengalaman sosial yang pernah hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat," ujar dia.

KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Sebatang es goyang rasa cokelat diletakkan di atas nampan stainless steel untuk dilapisi dengan taburan remahan kacang tanah sangrai, Jakarta Pusat, Jumat (29/5/2026).

Ia menjelaskan, es goyang mampu bertahan dalam ingatan kolektif karena melekat pada pengalaman emosional masa kecil, interaksi sosial di lingkungan sekolah, serta kedekatan dengan kehidupan komunitas.

"Nostalgia yang muncul menjadikan jajanan ini memiliki nilai simbolik yang lebih kuat dibandingkan sekadar produk makanan," kata Rakhmat.

Karena itu, meski kini semakin jarang ditemui, kenangan tentang es goyang masih hidup dalam memori banyak orang.

Rakhmat mengingatkan bahwa jika jajanan tradisional dan para pedagangnya perlahan menghilang dari ruang publik, dampak sosial yang muncul tidak hanya soal hilangnya sebuah produk kuliner.

"Yang terjadi adalah berkurangnya ruang interaksi sosial, melemahnya transmisi budaya antar-generasi, serta hilangnya sumber penghidupan bagi pelaku ekonomi informal. Fenomena ini juga dapat mengurangi keberagaman budaya kuliner lokal," ujarnya.

Baca juga: Es Goyang Bukan Sekadar Jajanan, tapi Aset Ekonomi Kerakyatan Jakarta

Agar tetap relevan, menurut dia, diperlukan inovasi tanpa menghilangkan ciri khas tradisionalnya.

Promosi melalui media digital, pelibatan dalam festival budaya, hingga edukasi kepada generasi muda mengenai nilai sejarah dan budaya yang terkandung dalam es goyang dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutannya.

Membeli rasa, sekaligus kenangan

Fenomena nostalgia itu terlihat jelas di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Jumat (29/5/2026).

Di bawah rindangnya pepohonan taman kota, sejumlah pengunjung tampak menghampiri gerobak es goyang yang terparkir di sisi jalur pedestrian.

Sebagian membeli karena penasaran, sebagian lainnya karena ingin mengulang pengalaman masa kecil yang lama tidak dirasakan.

Ria (38), seorang ibu rumah tangga yang datang bersama anaknya, mengaku spontan membeli setelah melihat gerobak es goyang di area taman.

"Karena sekarang jarang sekali lihat. Tadi lagi jalan-jalan sama anak, terus lihat ada es goyang. Langsung tertarik beli," kata Ria saat ditemui.

Ia memilih rasa kacang hijau yang dicelup cokelat dan dibalut taburan kacang tanah.

Menurut dia, cita rasa es goyang berbeda dengan banyak produk es krim modern yang beredar saat ini.

"Yang terasa itu santannya, gurih, manisnya juga pas. Tidak terlalu manis seperti es krim kemasan sekarang," ujarnya.

Baca juga: Nostalgia dalam Sebatang Es Goyang, Jajanan Masa Kecil yang Masih Dicari Warga

Namun bukan hanya rasa yang membuatnya membeli. Ria mengaku jajanan tersebut langsung mengingatkannya pada masa sekolah dasar.

"Waktu saya SD dulu, penjual es goyang sering lewat depan sekolah. Kalau jam istirahat kami sudah nungguin. Jadi pas lihat lagi sekarang rasanya seperti kembali ke masa kecil," katanya.

Pengalaman serupa dirasakan Hanun (27), seorang karyawan swasta yang mengaku jarang menemukan penjual es goyang saat ini.

"Biasanya yang sering terlihat kan es krim modern atau minuman kekinian. Jadi tadi pas lihat gerobaknya saya langsung mampir," kata Hanun.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ia menilai es goyang masih relevan untuk anak muda karena memiliki karakter rasa yang berbeda dari produk modern.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
FTSE Keluarkan 4 Saham Asal Indonesia, Apa Alasannya?
• 2 jam lalukatadata.co.id
thumb
Dukung Pergantian Pimpinan BGN, Dasco Minta Fokus Perbaiki Kinerja
• 1 jam laluokezone.com
thumb
BRIN Minta Maaf Gunakan Lambang Garuda Pancasila yang Tidak Sesuai
• 16 jam lalukompas.com
thumb
Alkohol Meningkatkan Risiko Berbagai Jenis Kanker dan Penyakit Hati Kronis
• 12 jam lalukompas.id
thumb
KPK Panggil Bos Maktour Fuad Hasan Saksi Kasus Korupsi Kuota Haji
• 13 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.