Semakin Di-scroll, Semakin Menggiring Opini dan Ideologi Kita

harianfajar
4 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Andi Sahtiani Jahrir
Dosen UNM

Pernahkah Anda membuka media sosial hanya untuk mengisi waktu luang beberapa menit, tetapi tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton video, membaca komentar, dan mengikuti berbagai isu yang sedang ramai diperbincangkan? Lebih menarik lagi, pernahkah Anda merasa tiba-tiba setuju, marah, simpati, atau bahkan membenci sesuatu setelah terus-menerus melihat konten yang serupa?

Jika pernah, Anda tidak sendirian. Fenomena tersebut bukan sekadar persoalan kebiasaan menggunakan media sosial. Di balik aktivitas sederhana menggulir layar atau scrolling, terdapat proses yang jauh lebih kompleks. Semakin sering kita mengonsumsi informasi, semakin besar pula kemungkinan opini dan cara pandang kita dibentuk oleh bahasa yang terus-menerus hadir di hadapan kita.

Banyak orang masih percaya bahwa media hanya menyampaikan fakta. Padahal, dalam kajian analisis wacana, bahasa tidak dipandang sebagai alat komunikasi yang netral. Bahasa bukan hanya menyampaikan realita, tetapi juga membentuk realita. Cara sebuah peristiwa diberitakan, kata-kata yang dipilih, siapa yang diberi ruang untuk berbicara, dan siapa yang tidak ditampilkan, semua itu akan memengaruhi cara masyarakat menanggapi persoalan.

Hal inilah yang saya temukan dalam penelitian yang dilakukan bersama mahasiswa pada mata kuliah Analisis Wacana Kritis. Dengan menggunakan pendekatan Linguistik Sistemik Fungsional (SFL) yang dikembangkan oleh M.A.K. Halliday, kami membedah dua berita yang membahas kasus yang sama, yakni kasus Chromebook yang menyeret nama mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim. Hasilnya cukup menarik. Meskipun membahas peristiwa yang sama, kedua media membangun kesan yang berbeda melalui pilihan bahasa yang berbeda pula.

Salah satu media lebih banyak menggunakan diksi yang berkaitan dengan hukum, alat bukti, proporsionalitas hukuman, dan kepentingan negara sehingga pembaca diarahkan untuk melihat kasus tersebut sebagai persoalan hukum yang harus diuji melalui mekanisme peradilan. Sementara itu, media lainnya lebih menonjolkan rasa kecewa, frustrasi, dan pengalaman pribadi tokoh sebagai CEO Gojek sehingga pembaca lebih mudah terhubung secara emosional. Akibatnya, meskipun membaca peristiwa yang sama, pembaca dapat membangun pemahaman yang berbeda.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa media memang tidak mengubah fakta, tetapi media memiliki kemampuan untuk memframing. Dalam kajian bahasa, proses tersebut dapat dilihat melalui pilihan kata, struktur kalimat, dan strategi penyampaian informasi.

Fenomena yang sama dapat kita temukan hampir setiap hari. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, ada media menyebutnya sebagai investasi masa depan bangsa. Namun, ada juga menyebut sebagai beban fiskal negara. Kedua ungkapan tersebut merujuk pada objek yang sama, tetapi menghasilkan persepsi yang berbeda. Yang satu menimbulkan optimisme, sementara yang lain memunculkan kekhawatiran.

Begitu pula ketika media memberitakan kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah. Sebagian media menggunakan istilah rupiah anjlok, sementara yang lain memilih istilah rupiah mengalami penyesuaian. Data yang digunakan sama, tetapi dampak psikologis yang diterima pembaca tidak sama. Kata anjlok menciptakan kesan negara dalam keadaan krisis, sedangkan kata penyesuaian terdengar lebih tenang dan terkendali.

Masalahnya, di era media sosial saat ini, proses pembentukan opini tidak lagi hanya dilakukan oleh media massa. Algoritma media sosial ikut mengambil peran yang sangat besar. Setiap kali kita memberikan tanda suka, membagikan konten, atau menonton video hingga selesai, sistem akan merekam perilaku tersebut. Selanjutnya, kita akan disuguhi konten-konten yang serupa.

Lama-kelamaan kita merasa bahwa semua orang berpikir seperti yang kita pikirkan. Padahal yang terjadi adalah kita sedang ditempatkan dalam ruang informasi yang semakin sempit dan membentuk realitas otak kita. Di titik inilah bahasa dan algoritma bekerja bersama-sama. Bahasa membentuk cara kita memahami kejadian demi kejadian, sementara algoritma menentukan, bahasa seperti apa yang paling sering kita lihat. Kombinasi keduanya menciptakan rangkaian yang membentuk opini publik.

Tanpa disadari, kita mulai menganggap suatu pandangan sebagai kebenaran mutlak hanya karena terus-menerus melihatnya. Kita merasa sedang mengambil keputusan secara mandiri, padahal sebagian cara berpikir kita telah dipengaruhi oleh arus informasi yang berulang. Semakin sering sebuah narasi muncul, semakin akrab narasi tersebut di pikiran kita. Semakin mudah pula kita mempercayainya.

Karena itu, tantangan terbesar masyarakat modern bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kemampuan untuk bersikap kritis terhadap informasi yang melimpah. Kita perlu membiasakan diri untuk tidak langsung percaya pada judul, reels, atau unggahan yang memancing emosi. Kita harus menanyakan, mengapa kata ini yang dipilih untuk menympaikan informasi? Mengapa sudut pandang ini yang ditampilkan? Siapa yang diuntungkan dari cara penyajian informasi tersebut?

Kesadaran seperti ini penting agar kita tidak mudah terseret arus opini yang dibangun oleh pihak-pihak tertentu. Sebab, di era digital, pengaruh tidak selalu datang dalam bentuk paksaan. Sering kali pengaruh hadir dalam bentuk kata-kata yang tampak biasa saja dan video yang terlihat sederhana.

Namun, informasinya terus-menerus muncul di layar ponsel kita, mereka hadir bukan tanpa tujuan yang jelas, tapi semakin di-scroll, semakin besar kemungkinan opini dan ideologi kita sedang dibentuk. Bukan karena kita dipaksa, melainkan karena bahasa dan informasi bekerja secara perlahan, berulang, dan nyaris tanpa kita sadari. (*/)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
13 Potongan Tubuh Ditemukan di Lokasi Ledakan Bom Era Perang Dunia II di Biak Numfor
• 14 jam laluokezone.com
thumb
Sinergi Indonesia-Taiwan: Pemuda Muhammadiyah dan NCKU RDF Fokus pada Pelatihan Profesional Berbasis Industri
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Belanda Gelar Latihan Angkatan Darat Terbesar 2026 dengan Libatkan 7.000 Prajurit
• 14 jam lalupantau.com
thumb
Mendikdasmen Ingatkan Julukan Fisik Bisa Jadi Bullying
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Kebakaran Hebat di Kemayoran Jakpus, 250 Rumah Warga Hangus
• 17 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.