JAKARTA, DISWAY.ID - Pelibatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam operasi pemberantasan begal di Jakarta menjadi sorotan media asing.
Dalam laporannya, media berbasis Hong Kong, South China Morning Post (SCMP), mengulas pro dan kontra di balik operasi gabungan TNI dan Polri yang dibentuk untuk menekan maraknya kejahatan jalanan di ibu kota.
SCMP menyoroti dukungan masyarakat terhadap langkah tegas aparat dalam memburu pelaku begal, namun di sisi lain juga mengangkat kekhawatiran sejumlah aktivis hak asasi manusia (HAM).
BACA JUGA:Heboh Kaki Pria di Tambora Putus Disebut Korban Begal, Ternyata Korban Kecelakaan Tunggal
Mereka menilai keterlibatan militer dalam penegakan keamanan sipil berpotensi mengingatkan publik pada praktik Penembakan Misterius (Petrus) yang terjadi pada era pemerintahan Presiden Soeharto pada 1980-an.
SCMP mengambil sumber dari suara para aktivis hak asasi manusia yang memperingatkan bahwa pelibatan tentara dalam penegakan hukum sipil dapat mengaburkan batas antara fungsi kepolisian dan militer, sekaligus membangkitkan kenangan tentang pembunuhan di luar proses hukum pada masa lalu Indonesia.
Pada 15 Mei, Polda Metro Jaya mengumumkan pembentukan satuan tugas patroli gabungan yang beroperasi 24 jam untuk memburu pelaku begal, istilah yang umum digunakan untuk menyebut perampokan dengan kekerasan yang sering dilakukan oleh pelaku bermotor.
BACA JUGA:Bantu Buru Begal, TNI Terjunkan Batalyon Tempur Amankan Ibu Kota!
Tim yang dijuluki Begal Hunter Team dan didukung oleh Komando Daerah Militer Jaya (Kodam Jaya) itu telah menangkap 173 tersangka hingga 22 Mei.
Menurut Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Iman Imanuddin, pihaknya menerima 1.283 laporan kejahatan jalanan sepanjang 1–22 Mei. Dari jumlah tersebut, 651 kasus merupakan pencurian dengan pemberatan.
Iman mengatakan polisi bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI), pemerintah daerah, kepolisian sektor dan distrik, hingga "aktivis media sosial" untuk menekan angka kriminalitas.
Ia menyebut Jakarta Barat sebagai wilayah paling rawan begal karena memiliki populasi yang cukup heterogen.
Ia juga mengungkapkan bahwa sejumlah tersangka ditembak di bagian kaki karena melawan petugas atau berusaha melarikan diri. Dua tersangka yang baru ditangkap di Jakarta Barat, misalnya, diduga terlibat dalam 190 aksi perampokan sejak Desember hingga Mei.
BACA JUGA:Begal Bikin Resah Warga, Kenneth Minta 'Batman' Harus Hadir di Jakarta Barat
Desakan Tindakan Lebih KerasSCMP melaporkan sejumlah anggota DPR mendukung langkah tegas terhadap begal.
- 1
- 2
- 3
- »





