Dokter Sarah Rafika Nursyirwan spesialis anak konsultan kardiologi mengingatkan orang tua untuk waspada terhadap gejala infeksi jantung pada anak yang sering kali sulit dikenali karena menyerupai penyakit ringan seperti flu.
Sarah menjelaskan, keterlambatan mengenali gejala dapat memperburuk kondisi anak dan meningkatkan risiko komplikasi serius.
“Tentu harus kita sosialisasikan. Jangan sampai kalau keluhannya sudah memberat, jangan sampai terlambat dibawa ke dokter. Contohnya bila sesak napasnya makin memberat atau bibir dan kukunya tampak kebiruan, ini artinya perfusi atau aliran darah ke bagian ujung-ujung tubuh jadi terganggu,“ kata Sarah.
Menurut anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Kardiologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tersebut, gejala awal infeksi jantung pada anak sering kali berupa demam yang tidak kunjung membaik, tubuh lemas, berat badan menurun, hingga kondisi kesehatan yang terus menurun tanpa penyebab yang jelas.
Oleh karena itu, orang tua perlu segera memeriksakan anak apabila mengalami keluhan tersebut agar dapat diketahui apakah terdapat infeksi jantung atau gangguan kesehatan lain yang memerlukan penanganan medis.
Selain itu, keluhan seperti nyeri dada, jantung berdebar, hingga pingsan mendadak juga perlu mendapat perhatian khusus karena bisa menjadi tanda adanya gangguan pada jantung.
Pada bayi, gejala infeksi jantung sering kali tidak spesifik sehingga membutuhkan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis.
“Pada bayi memang gejalanya kadang tidak khas. Tapi tentu salah satunya pemeriksaan yang akan dilakukan dokter, EKG, ekokardiografi (USG jantung), atau rontgen toraks akan lebih mengarahkan apakah ini memang ada penyakit infeksi jantung pada bayi ini, harus segera dibawa periksa,” jelasnya dilansir dari Antara pada Rabu (3/6/2026).
Sarah menjelaskan, infeksi jantung pada anak umumnya terjadi akibat kuman yang menyerang jaringan jantung. Namun, kondisi tersebut juga dapat dipicu reaksi autoimun setelah tubuh mengalami infeksi tertentu, sehingga antibodi yang terbentuk justru menyerang organ jantung.
Infeksi yang tampak ringan, seperti infeksi kulit maupun penyakit infeksi lainnya, dapat berkembang menjadi lebih serius dan menyerang organ vital apabila tidak ditangani dengan baik, terutama pada anak dengan daya tahan tubuh rendah.
Salah satu penyebab yang sering diabaikan adalah radang tenggorokan akibat bakteri Streptococcus grup A. Jika tidak diobati secara tuntas, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi demam reumatik akut yang berujung pada penyakit jantung rematik.
“Radang tenggorokan ini bukan sesuatu yang sepele ya. Memang paling sering karena virus, tapi kalau ternyata penyebabnya karena kuman Streptococcus dan tidak diobati tuntas, tentunya akan berlanjut ya menjadi kerusakan lebih lanjut ke jantung,” tuturnya.
Sarah menyebut terdapat empat jenis utama infeksi jantung pada anak, yakni perikarditis, miokarditis, endokarditis, dan demam reumatik akut atau Rheumatic Heart Disease (RHD) yang dikenal sebagai penyakit jantung rematik.
Meski berpotensi menimbulkan komplikasi serius, sebagian besar kasus infeksi jantung pada anak dapat dicegah melalui deteksi dini, pengobatan yang tuntas, serta upaya mencegah kekambuhan penyakit.
Pada kasus penyakit jantung rematik, misalnya, pasien perlu mendapatkan antibiotik Benzathine Penicillin G (BPG) secara berkala setiap tiga hingga empat minggu, bahkan dalam beberapa kasus hingga seumur hidup.
Selain pengobatan, imunisasi juga berperan penting dalam melindungi anak dari berbagai penyakit infeksi yang dapat memicu gangguan pada jantung.
“Infeksi jantung pada anak ini memang harus dikenali lebih dini karena kita harus melindungi jantung anak karena anak masih akan bertumbuh sampai dia dewasa. Infeksi jantung pada anak sifatnya bisa serius, tapi sebagian besar komplikasinya bisa dicegah dengan pengenalan gejala yang cepat dan penanganan yang tepat,” ujar Sarah. (ant/saf/ipg)




