Di tengah padatnya jadwal belajar atau bekerja, tanggal merah bagaikan hujan di padang gurun yang kedatangannya selalu dinantikan. Namun, di Wisma Lansia Harapan Asri di Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah, tanggal merah datang dan dinikmati oleh para warga lansia setiap hari.
Selama puluhan tahun, Hanogo Djati Utomo (85), warga Kabupaten Pati, Jateng, bekerja keras dari pagi hingga petang. Hari-harinya banyak dihabiskan di bengkel yang ia kelola di Kecamatan Pati.
Saat usianya menginjak 82 tahun, Hanogo memutuskan untuk membeli satu unit rumah di Wisma Lansia Harapan Asri untuk ditempati. Pada mulanya, rumah itu hanya dikunjungi sesekali oleh Hanogo bersama istrinya. Ia bersama istrinya hanya datang dan menginap sesekali dalam sepekan di tengah kesibukan mengelola bengkelnya.
Tahun 2024 atau saat Hanogo berusia 84 tahun, ia membuat keputusan besar. Hanogo memutuskan untuk menutup usaha yang telah dirintisnya selama puluhan tahun itu. Alasannya, ia tidak mau lagi menunggu datangnya tanggal merah. Ia berkeinginan membuat kalendernya menjadi tanggal merah semua supaya bisa bersantai.
”Dulu kan harus menunggu. Waktu tiba tanggal merah, libur, senang. Sekarang, semuanya tanggal merah,” ucap Hanogo, Sabtu (29/5/2026), sambil tergelak.
Di masa-masa awal tinggal di Wisma Lansia Harapan Asri, istri Hanogo tidak begitu kerasan. Hanogo menduga, hal itu karena istrinya terbiasa tinggal di lingkungan rumah yang luas saat di Pati. Sementara itu, di wisma, tempat tinggal mereka lebih kecil, berukuran sekitar 60 meter persegi.
Pada 2025, istri Hanogo meninggal karena sakit. Sejak saat itu, Hanogo tinggal sendiri di situ.
Meski tinggal sendirian, Hanogo mengaku tidak kesepian. Sebab, banyak teman-teman lansia di lingkungan itu yang mengisi hari-hari Hanogo. Kegiatan-kegiatan rutin di wisma juga membuat hari-hari Hanogo berwarna.
Hanogo mengaku tidak kesepian. Sebab, banyak teman-teman lansia di lingkungan itu yang mengisi hari-hari Hanogo.
”Di sini ketemu teman-teman bisa ngobrol-ngobrol. Kalau siang biasanya main kartu sampai pukul 14.00, lalu kembali untuk istirahat. Nanti sorenya, selesai makan itu kumpul lagi, ngobrol-ngobrol lagi,” katanya.
Tiga kali dalam seminggu, Hanogo dan para warga lansia di wisma itu diajak berolahraga senam untuk menjaga kebugaran. Dua kali dalam sepekan, mereka berkaraoke. Di sela-sela kegiatan rekreasional, ada juga kegiatan keagamaan yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan rohani para warga lansia.
Anak beserta menantu Hanogo sehari-hari tinggal dan bekerja di Jakarta. Saat sedang ada acara tertentu, mereka mengunjungi Hanogo di wisma. Mereka lalu menghabiskan waktu bersama dengan berjalan-jalan atau makan bersama, baik di wisma maupun di luar wisma.
Hanogo merupakan satu dari 71 warga lansia yang tinggal di Wisma Lansia Harapan Asri. Puluhan warga lansia itu datang dari berbagai macam latar belakang dan dari berbagai wilayah. Tak hanya dari dalam negeri, sebagian warga lansia yang sebelumnya menetap puluhan tahun di Amerika atau Eropa pulang ke Tanah Air untuk menghabiskan sisa umurnya di wisma tersebut.
Pemimpin Wisma Lansia Harapan Asri, Heri Suparno, menyebut, wisma itu sudah berdiri sejak tahun 2009. Meskipun didirikan oleh yayasan Katolik, orang lansia yang tinggal di wisma itu berasal dari berbagai agama.
Secara rutin, pihak pengelola memanggil pemuka agama untuk memberikan siraman rohani bagi para warga lansia. Tak jarang, para orang lansia juga diantar untuk beribadah di luar wisma.
Selain kegiatan yang rutin diselenggarakan pengelola, para warga lansia juga sering kali mengikuti acara dan kegiatan yang digelar lembaga atau institusi lain di wisma tersebut. Bentuknya macam-macam, ada yang kegiatan seperti pelatihan merangkai bunga dan melukis.
”Kalau untuk kegiatan produktif lain, seperti bekerja, itu tidak ada karena di sini mereka lebih mau menikmati hidup setelah puluhan tahun bekerja keras. Di sini mereka itu lebih banyak bersosialisasi, kadang juga pergi berkelompok untuk aktivitas di luar karena ada beberapa yang ke sini itu membawa mobil,” kata Heri.
Untuk bisa tinggal di wisma tersebut, para orang lansia membayar Rp 3 juta hingga Rp 9 juta per bulan. Besaran biaya itu menyesuaikan dengan jenis rumah atau kamar yang ditempati. Ada orang lansia yang tinggal di kamar-kamar, ada juga yang tinggal di paviliun. Ada yang tinggal sendiri, ada juga yang dengan pasangannya.
Untuk bisa tinggal di wisma tersebut para warga lansia membayar Rp 3 juta hingga Rp 9 juta per bulan.
Di wisma tersebut, semuanya tersedia. Mereka hanya tinggal terima bersih dan beres. Untuk urusan makan, para warga lansia itu mengonsumsi makanan yang nutrisinya sudah dihitung oleh ahli gizi sesuai dengan kebutuhan setiap orang lansia.
Akses kesehatan di wisma itu juga memadai. Ada perawat yang berjaga 24 jam, pendamping warga lansia, pekerja sosial, dan fisioterapis. Selain itu, ada juga dokter umum yang berkunjung sekali dalam sepekan untuk memeriksa kondisi para warga lansia. Namun, jika ada keperluan mendadak, pihak pengelola bisa mendatangkan dokter umum ataupun dokter spesialis sesuai dengan kebutuhan para orang lansia.
Di wisma tersebut juga ada psikolog dan psikiater. Mereka membantu menyelesaikan persoalan psikologis yang dikeluhkan para warga lansia. ”Dalam berinteraksi sehari-hari, tentu saja ada ketegangan-ketegangan yang terjadi. Psikolog akan membantu memberikan solusi atau kadang dari karyawannya itu nanti juga berkonsultasi mengenai masalah yang dihadapi para lansia, kemudian diberikan solusi harus diatasi seperti apa,” ucapnya.
Heri menyebut, para warga lansia selalu diajak menyadari bahwa mereka adalah the beautiful sunset atau matahari terbenam yang indah. Setelah bersinar sepanjang hari, akan tiba waktunya bagi matahari terbenam dengan indah. Hal itu disebut Heri sama dengan warga lansia, yang saat ini sampai pada masa menikmati keindahan di sisa umurnya.
”Mereka saya ajak untuk menikmati keindahan hidup ini sehingga tidak usah merasa takut saya sudah lansia nanti tidak ada guna. Oh, tidak. Justru dengan lansia ini banyak orang berdatangan ingin menimba ilmu, bagaimana caranya bisa hidup sampai lansia,” ujar Heri.
Sebelum masuk ke Wisma Harapan Asri, para warga lansia bakal lebih dulu menjalani asesmen fisik dan mental. Hasilnya akan dikaji dan dikonsultasikan ke dokter dan psikolog untuk menentukan apakah warga lansia tersebut memungkinkan untuk tinggal di wisma atau tidak.
Justru dengan lansia ini banyak orang berdatangan ingin menimba ilmu, bagaimana caranya bisa hidup sampai lansia
Dalam asesmen kesehatan, para warga lansia diidentifikasi, apakah ada penyakit menular atau tidak, apa saja penyakit bawaannya, dan lain-lain. Kemudian, dari asesmen psikologi, akan digali bagaimana kesehatan mental dan kepribadian lansia tersebut. Dengan begitu, para petugas di wisma bisa menyesuaikan dengan kebutuhan setiap warga lansia.
”Supaya kami juga bisa menempatkan diri, bagaimana pendekatannya dengan lansia. Sebab, para lansia ini kan berbeda, ada yang introvert, ada yang ekstrover, ada yang suka dikunjungi, ada yang tidak suka dikunjungi, dan lain-lain. Kita harus tahu dulu, tidak bisa langsung masuk ke mereka," kata Marlin Tei (27), salah satu perawat di Wisma Harapan Asri.
Dalam berkomunikasi dengan para warga lansia, petugas juga harus pandai menyesuaikan diri. Sebab, ada warga lansia yang menginginkan panggilan khusus, seperti opa-oma atau pak dan bu. Kemudian, mereka juga punya kecenderungan yang berbeda-beda terkait bahasa yang digunakan.
Sebagian warga lansia menginginkan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, ada juga yang hanya mau dengan bahasa Jawa. Padahal, tidak semua pekerja di wisma itu bisa berbahasa Jawa dengan lancar. Kalau sudah begitu, bahasa tubuh yang disebut Marlin lebih banyak digunakan.
Menurut Marlin, semua petugas di wisma itu punya tujuan yang sama, ingin supaya warga lansia bahagia dan sejahtera. Para petugas mengaku bisa mendapatkan kepuasan tersendiri apabila para warga lansia yang datang merasa lebih baik setelah tinggal di wisma.
Marlin bercerita, pernah ada seorang warga lansia yang datang dalam kondisi tidak bisa berdiri dan berjalan. Seiring berjalannya waktu, warga lansia itu dirawat dan menjalani fisioterapi. Orang lansia itu juga sering melihat teman-teman warga lansia lain beraktivitas dengan lincah.
Kondisi itu lantas memotivasi orang lansia tersebut untuk bangkit berdiri dan mencoba berjalan tanpa alat bantu. Meski tidak bisa pulih sepenuhnya, warga lansia itu disebut Marlin bisa kembali mandiri.
Dinas Sosial Jateng memiliki sejumlah program yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan orang lansia. Untuk warga lansia yang berada di rumahnya masing-masing, tetapi sudah tidak produktif, akan diberi bantuan lewat Program Keluarga Harapan dari Kementerian Sosial dan bantuan pangan.
Sementara itu, para warga lansia yang telantar akan ditampung di panti-panti yang dikelola dinsos. Hal itu supaya mereka bisa tetap terawat. Di panti, Dinas Sosial Jawa Tengah mengembangkan program Sinergitas Masyarakat Peduli (Si Gemati) yang merupakan wadah kolaborasi berbagai unsur untuk meningkatkan kesejahteraan orang lansia di panti pelayanan sosial.
Program itu, disebut Kepala Dinsos Jateng Imam Maskur, untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam memberikan dukungan moral dan fisik bagi warga lansia, meningkatkan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan warga lansia, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya merawat dan menghormati para warga lansia.
”Seluruh masyarakat itu berhak mendapatkan kesejahteraan, termasuk para lansia. Selama ini, di Jateng masih ada ratusan ribu warga, termasuk lansia, yang telantar. Dari jumlah itu, baru sekitar 9.000 orang yang kami openi (rawat) di panti-panti, baik swasta maupun pemerintah, sehingga kami memerlukan partisipasi semua pihak supaya seluruhnya bisa kita openi," ucap Imam.





