Purwanto dan Keyakinan bahwa Kebaikan Masih Menjadi Pilar Peradaban

erabaru.net
8 jam lalu
Cover Berita

oleh: Fadjar Pratikto

Di tengah sorotan publik terhadap dunia pendidikan dan karakter generasi muda, sosok Dr. H. Purwanto, M.Pd. muncul sebagai figur yang menarik untuk diperbincangkan. Mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta itu kini memegang amanah yang jauh lebih besar sebagai Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

Jabatan tersebut bukan sekadar posisi birokrasi bergengsi. Di pundaknya kini bertumpu harapan lebih dari lima juta peserta didik Jawa Barat, provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia.

Tantangan yang dihadapi Purwanto juga tidak ringan. Bahkan, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi secara terbuka pernah mengingatkan bahwa keberhasilan menjaga dan membina karakter generasi muda menjadi salah satu ukuran keberhasilan kepemimpinannya.

Saat pelantikan pejabat pimpinan tinggi pratama di kawasan industri BYD, Subang, Mei 2025 lalu, Dedi Mulyadi meminta Dinas Pendidikan Jawa Barat memastikan kebijakan jam malam pelajar berjalan efektif.

Menurut Dedi, anak-anak sekolah harus sudah berada di rumah paling lambat pukul 21.00 WIB, kecuali dalam kondisi tertentu seperti bersama orang tua, bekerja membantu ekonomi keluarga, atau keadaan darurat lainnya.

Lebih jauh, Dedi menegaskan bahwa apabila masih terjadi peristiwa yang menimpa pelajar pada jam malam tersebut, maka Kepala Dinas Pendidikan harus bertanggung jawab.

Pernyataan itu menjadi perhatian publik. Namun bagi Purwanto, tugas membangun karakter generasi muda bukanlah sesuatu yang baru. Ia telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk dunia pendidikan dan pembentukan karakter manusia.

Dari Guru Desa Menjadi Doktor Pendidikan Karakter

Purwanto lahir di Kabupaten Ciamis pada 5 Maret 1974. Kariernya dimulai dari bawah, sebagai guru sekolah dasar di SDN Buniwangi, Kabupaten Sukabumi pada tahun 1997.

Empat tahun kemudian ia berpindah ke Purwakarta dan mengajar di SDN Munjuljaya. Pengalaman sebagai guru kelas inilah yang membentuk cara pandangnya tentang pendidikan. Ia memahami langsung bagaimana sekolah menjadi ruang pertama yang membentuk watak seorang anak setelah keluarga.

Kariernya kemudian berkembang ke ranah birokrasi. Ia pernah bertugas di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Purwakarta, menjadi Sekretaris Dinas Pendidikan, hingga dipercaya menjabat Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta sejak 2018.

Di tengah kesibukannya sebagai pejabat publik, Purwanto tidak berhenti belajar. Ia menyelesaikan studi doktoralnya di Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dengan predikat cum laude.

Disertasinya berjudul Model Kepemimpinan Partisipatif Kepala Sekolah Dasar dalam Implementasi Pendidikan Berkarakter di Kabupaten Purwakarta.

Tema tersebut bukan sekadar kajian akademik. Itu adalah refleksi dari keyakinannya bahwa pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan siswa yang pintar secara intelektual, tetapi juga harus melahirkan manusia yang berkarakter.

“Guru terbaik adalah pengalaman. Ujian sesungguhnya ada pada kehidupan sehari-hari. Semoga kita semua menjadi orang yang terus bisa memperbaiki diri dan bermanfaat untuk alam semesta,” ujar Purwanto usai meraih gelar doktor.

Selain aktif di dunia pendidikan, Purwanto juga memiliki pengalaman panjang dalam organisasi. Ia pernah menjadi Ketua Umum HMI Cabang Purwakarta, Ketua KNPI Purwakarta, pengurus KAHMI Jawa Barat, Ketua PGRI Purwakarta, hingga aktif dalam Gerakan Pramuka.

Pengalaman tersebut membentuk pandangannya bahwa pendidikan tidak bisa dikerjakan sekolah sendirian.

Kebaikan, Spiritualitas, dan Pendidikan yang Manunggal

Di balik sosok birokrat yang tegas, Purwanto dikenal memiliki pandangan filosofis yang kuat tentang kehidupan.

Menurutnya, persoalan moral yang muncul di masyarakat modern tidak bisa hanya disalahkan kepada teknologi, media sosial, atau perubahan zaman.

Ia melihat akar masalahnya justru terletak pada kedangkalan pengetahuan dan kurangnya pengasahan batin manusia.

“Pengetahuan yang luas dan gerak batin yang senantiasa diasah akan menumbuhkan perilaku kreatif dan sikap yang bijak. Karena itulah pendidikan dan spiritualitas itu penting. Bagi saya pendidikan dan spiritualitas sesungguhnya manunggal,” katanya.

Pandangan ini kemudian diterjemahkannya dalam berbagai kebijakan pendidikan karakter.

Saat masih memimpin Dinas Pendidikan Purwakarta, ia menjalin kerja sama dengan Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Purwakarta untuk memperkuat pendidikan karakter hingga ke tingkat desa.

Baginya, sekolah tidak mungkin bekerja sendiri.

“Masalah pendidikan adalah tanggung jawab semua pihak. Tidak ada pendidikan yang maju tanpa kolaborasi dari semua unsur masyarakat,” tegasnya.

Ia menyebut konsep tersebut sebagai “partisipasi semesta”, yaitu keterlibatan keluarga, sekolah, pemerintah, desa, organisasi masyarakat, dan lingkungan sosial dalam membentuk karakter anak.

Purwanto juga dikenal sebagai sosok yang berani mengkritisi dampak negatif penggunaan teknologi yang tidak terkendali pada anak-anak.

Ia pernah mengusulkan pembatasan penggunaan telepon genggam bagi anak-anak karena meyakini berbagai bentuk kekerasan dan penyimpangan perilaku sering kali dipicu oleh stimulasi negatif yang diperoleh melalui dunia digital.

Namun di sisi lain, ia tidak anti teknologi. Baginya teknologi harus menjadi alat untuk membangun, bukan merusak karakter.

Karena itulah ketika Jawa Barat meraih Anugerah Pengimbasan dan Pemanfaatan Rumah Pendidikan Terbaik dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada Desember 2025, Purwanto menyebut penghargaan tersebut sebagai bukti bahwa inovasi digital dapat berjalan beriringan dengan pendidikan karakter.

Penghargaan tersebut diberikan atas keberhasilan Jawa Barat memanfaatkan platform Rumah Pendidikan secara optimal.

“Ini adalah bukti komitmen insan pendidikan Jawa Barat yang terus berinovasi dan berkolaborasi untuk kemajuan pelayanan pendidikan,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Tim Sangkuriang dari SMAN 6 Bandung juga berhasil menjadi juara nasional Hackathon Rumah Pendidikan 2025.

Menurut Purwanto, perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) harus dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran yang positif dan produktif.

Sekolah Sebagai Pusat Peradaban

Setelah dipercaya menjadi Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto membawa satu gagasan besar yang sejalan dengan visi Gubernur Dedi Mulyadi, yakni menjadikan sekolah sebagai pusat peradaban.

Baginya, sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat belajar matematika, bahasa, atau sains. Sekolah harus menjadi ruang tumbuhnya budaya, etika, disiplin, dan tanggung jawab sosial.

Karena itulah ia sangat memperhatikan kondisi fisik lingkungan sekolah.

Ketika meninjau SMAN 2 Subang pada Juni 2025, Purwanto bahkan meminta pembongkaran bangunan garasi sekolah yang dianggap kumuh dan tidak sesuai dengan kebijakan larangan pelajar membawa kendaraan bermotor ke sekolah.

“Sekolah merupakan pusat peradaban,” katanya.

Pandangan tersebut kemudian diwujudkan dalam Standardisasi Sekolah Jawa Barat 2026.

Melalui kebijakan itu, seluruh SMA, SMK, dan SLB di Jawa Barat diwajibkan menerapkan standar pengelolaan lingkungan yang mencakup empat aspek utama: pengelolaan sampah, sistem air limbah, penataan bangunan, dan penghijauan.

Menurut Purwanto, kebersihan lingkungan sekolah merupakan bagian dari pendidikan karakter.

“Sekolah harus menjadi ruang belajar yang bersih. Keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk mengabaikan kebersihan lingkungan,” tegasnya.

Ia bahkan dikenal sering melakukan inspeksi mendadak ke sekolah-sekolah dan memberikan teguran langsung apabila menemukan kondisi lingkungan yang tidak terawat.

Bagi Purwanto, disiplin tidak cukup diajarkan melalui ceramah. Disiplin harus hadir dalam tata ruang, kebiasaan, dan budaya sehari-hari.

Menata Masa Depan Jawa Barat Melalui Pendidikan

Kini, setelah lebih dari setahun memimpin Dinas Pendidikan Jawa Barat, berbagai program besar mulai berjalan.

Pada tahun anggaran 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengalokasikan Rp112,5 miliar untuk membangun 24 unit sekolah baru yang terdiri atas 17 SMA negeri, 4 SMK negeri, dan 3 SLB negeri.

Pembangunan tersebut diproyeksikan menambah daya tampung sekitar 5.000 peserta didik baru mulai tahun 2027.

Menurut Purwanto, pembangunan infrastruktur pendidikan bukan sekadar membangun gedung.

“Melalui pembangunan ini kami berharap dapat meningkatkan kapasitas layanan pendidikan, memperpendek jarak tempuh peserta didik ke satuan pendidikan, serta mewujudkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan layak,” ujarnya.

Komitmen itu sejalan dengan upaya pemerintah pusat yang terus memperkuat digitalisasi pendidikan melalui penguatan ekosistem data pendidikan nasional.

Bagi Purwanto, pendidikan masa depan harus mampu memadukan teknologi, karakter, lingkungan, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Di balik seluruh kebijakan dan program yang ia jalankan, ada satu keyakinan yang terus dipegangnya hingga hari ini.

Ia percaya bahwa kebaikan adalah fondasi utama kehidupan.

Pengalaman hidupnya yang pernah ditolong banyak orang membuatnya meyakini bahwa manusia tidak pernah benar-benar hidup sendiri.

“Kebaikan itu teman abadi kita,” katanya.

Menurut Purwanto, teman sekolah akan berpisah, rekan kerja akan berganti, bahkan keluarga suatu saat akan menempuh jalannya masing-masing. Namun kebaikan yang pernah dilakukan akan tetap hidup, bahkan setelah seseorang meninggalkan dunia.

Mungkin itulah sebabnya ia begitu percaya pada pendidikan karakter. Sebab pada akhirnya, tujuan tertinggi pendidikan bukan hanya melahirkan orang pintar, melainkan melahirkan manusia yang mampu menghadirkan kebaikan bagi sesama.

Kebaikan di Era Digital

Komitmen Purwanto dalam membangun karakter generasi muda tidak hanya diwujudkan melalui kebijakan pendidikan formal, tetapi juga melalui perhatian terhadap ekosistem digital yang digunakan anak-anak dan remaja.

Jauh sebelum menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, saat masih memimpin Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Purwanto telah menunjukkan perhatian serius terhadap tantangan dunia digital yang dihadapi peserta didik. Ia meyakini bahwa kemajuan teknologi harus diarahkan untuk memperkuat karakter, bukan justru menjadi sarana yang merusak perkembangan moral generasi muda.

Sekitar dua tahun lalu, Purwanto memfasilitasi sebuah webinar pengenalan Gan Jing World (GJW), sebuah platform digital yang mengusung konsep “Dunia Bersih” dan mengampanyekan slogan “Kebaikan itu Keren”. Kegiatan tersebut diikuti para kepala sekolah dan guru dari berbagai jenjang pendidikan di Kabupaten Purwakarta.

Dalam forum tersebut, para pendidik diperkenalkan pada alternatif ruang digital yang dinilai lebih ramah bagi keluarga, dunia pendidikan, dan pengembangan karakter anak. Menurut Purwanto, dunia pendidikan perlu mengenalkan kepada peserta didik berbagai pilihan platform yang dapat mendukung tumbuhnya budaya literasi, kreativitas, dan nilai-nilai positif.

Ketertarikan Purwanto terhadap platform tersebut bukan sekadar sebagai pengamat. Ia bahkan memiliki kanal pribadi di Gan Jing World yang berisi berbagai konten mengenai pendidikan karakter, kepemimpinan, nilai kebajikan, serta refleksi tentang pembangunan manusia.

Bagi Purwanto, literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan menggunakan teknologi. Literasi digital juga harus membekali generasi muda dengan kemampuan memilih informasi yang sehat, membangun kebiasaan bermedia yang bertanggung jawab, serta menumbuhkan kesadaran etis dalam memanfaatkan teknologi.

Pandangan ini sejalan dengan filosofi yang selama ini ia pegang, yakni bahwa pendidikan dan spiritualitas tidak dapat dipisahkan. Teknologi, menurutnya, hanyalah alat. Yang menentukan arah penggunaannya adalah karakter manusia yang mengendalikan teknologi tersebut.

Karena itu, ketika berbicara mengenai masa depan pendidikan, Purwanto selalu menempatkan pendidikan karakter sebagai fondasi utama. Kemajuan digital, kecerdasan buatan, dan berbagai inovasi teknologi akan membawa manfaat besar apabila dibimbing oleh nilai-nilai moral yang kuat.

Di tengah derasnya arus informasi yang membanjiri kehidupan anak-anak dan remaja saat ini, Purwanto melihat pentingnya menghadirkan ruang-ruang digital yang mampu menginspirasi, mengedukasi, dan menumbuhkan kebiasaan berbuat baik. Baginya, membangun karakter generasi masa depan tidak hanya dilakukan di ruang kelas, tetapi juga di ruang digital tempat anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya.

Karena itulah, berbagai upaya penguatan literasi digital yang sehat dan berbasis nilai kebajikan menjadi bagian dari ikhtiar panjang yang terus ia dorong, baik ketika memimpin pendidikan di Purwakarta maupun setelah dipercaya mengemban amanah yang lebih besar di Jawa Barat.

Dan di tengah berbagai tantangan moral yang dihadapi generasi muda saat ini, keyakinan sederhana itu tampaknya menjadi kompas yang terus menuntun langkah Purwanto dalam memimpin pendidikan Jawa Barat. Ia meyakini bahwa kebaikan masih menjadi pilar peradaban.

April Gunawan turut berkontribusi pada laporan ini


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
11 Daerah di Riau Tetapkan Status Siaga Darurat Karhutla, Pemadaman Masih Berlangsung
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Mahasiswa Cyber University Rancang Sistem Bursa Berjangka
• 3 jam lalurepublika.co.id
thumb
Trump Siapkan Tarif Baru untuk 60 Negara, Termasuk RI
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Penampakan Kantor BGN yang Digeledah Sejak Dini Hari, Pegawai Tak Boleh Masuk
• 3 jam laludisway.id
thumb
Oditur: 4 Terdakwa Kasus Andrie Yunus Lakukan Extra-legal Revenge
• 4 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.