Bisnis.com, JAKARTA — Indeks harga konsumen (IHK) untuk komoditas pangan kembali bergerak ke zona inflasi pada Mei 2026 setelah sempat mengalami deflasi pada bulan sebelumnya. Meski demikian, pemerintah menilai kondisi harga pangan nasional masih terkendali di tengah meningkatnya permintaan yang kala itu bertepatan dengan momentum Hari Raya Iduladha.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi komponen bergejolak atau volatile foods mencapai 0,22% secara bulanan pada Mei 2026. Angka tersebut berbalik arah dibandingkan April yang mencatatkan deflasi sebesar 0,88%.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini mengatakan sejumlah komoditas hortikultura menjadi penyumbang utama inflasi pangan pada Mei.
"Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah cabai merah, bawang merah, tomat, beras, dan sawi hijau," ujarnya dalam rilis berita BPS Juni 2026, Selasa (2/6/2026).
Menurut Pudji, kenaikan harga komoditas tersebut dipengaruhi faktor musiman, baik karena siklus produksi maupun meningkatnya konsumsi masyarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha.
"Kenaikan harga sayuran seperti cabai, bawang merah, tomat disebabkan oleh produksi atau hasil panen dan juga peningkatan konsumsi masyarakat yang cenderung bersifat musiman karena adanya hari besar keagamaan," katanya.
Baca Juga
- Harga Pangan Hari Ini 3 Juni: Beras hingga Cabai Melandai
- RI Buka Keran Impor Susu dan Daging Sapi Prancis, Bagaimana Nasib Peternak Lokal?
- Danantara jadi Eksportir Tunggal CPO-Batu Bara Cs, Siapa Paling Terdampak?
Meski demikian, tekanan inflasi pangan masih tertahan oleh sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga.
BPS mencatat daging ayam ras mengalami deflasi sebesar 3,83% secara bulanan, sementara telur ayam ras turun lebih dalam hingga 5,14%. Adapun bawang putih mencatatkan deflasi sebesar 3,06%.
Untuk komoditas beras, BPS melaporkan kenaikan harga masih relatif terbatas. Beras premium mengalami inflasi 0,56% secara bulanan, sedangkan beras medium naik 0,79%.
Sementara itu, inflasi beras di tingkat eceran tercatat sebesar 0,38% pada Mei, lebih rendah dibandingkan April yang mencapai 0,58%.
Pemantauan Badan Pangan Nasional (Bapanas) menunjukkan harga beras medium secara nasional pada 2 Juni 2026 berada di level Rp13.499 per kilogram. Harga tersebut hanya naik tipis 0,32% dibandingkan bulan sebelumnya dan masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan pemerintah terus menjaga keterjangkauan harga pangan melalui pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM).
"Program GPM bertujuan membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga lebih terjangkau dibandingkan harga pasar, terutama saat terjadi kenaikan harga pada periode hari besar keagamaan. Ini juga mendukung pengendalian inflasi," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Menurut Ketut, intensitas pelaksanaan GPM terus ditingkatkan sepanjang tahun ini. Hingga akhir Mei 2026, realisasi GPM telah mencapai 5.037 kali pelaksanaan di 417 kabupaten dan kota.
Angka tersebut melampaui capaian periode Januari–Mei 2025 yang tercatat sebanyak 3.482 kali pelaksanaan.
Pemerintah saat ini memfokuskan stabilisasi harga pada sejumlah komoditas strategis, antara lain beras, jagung, kedelai, cabai, bawang, telur ayam ras, daging ayam ras, daging sapi dan kerbau, gula konsumsi, serta minyak goreng.
"Tingginya pelaksanaan GPM menunjukkan antusiasme masyarakat sekaligus komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan. Hampir semua komoditas tersebut harganya stabil," kata Ketut.





