Iran Incar Nasionalisasi Selat Hormuz, Ketegangan dengan AS Kian Memanas

pantau.com
3 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Iran menyatakan ingin melakukan nasionalisasi Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat terkait pengelolaan dan akses pelayaran di kawasan tersebut.

Juru bicara presidium Parlemen Iran Abbas Goudarzi mengatakan langkah itu terinspirasi dari kebijakan nasionalisasi industri minyak Iran pada 1951 yang dipelopori tokoh politik Mohammad Mosaddegh.

"Hari ini, kami ingin menasionalisasikan Selat Hormuz," kata Goudarzi, seperti dikutip kantor berita ISNA.

Iran Dorong Kendali Pelayaran Selat Hormuz

Pernyataan tersebut muncul ketika Amerika Serikat berulang kali mendesak Iran membuka Selat Hormuz untuk pelayaran bebas dan menghentikan rencana pungutan biaya bagi kapal yang melintas.

Sebaliknya, Iran berencana membentuk mekanisme bersama Oman untuk mengatur lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, termasuk penerapan bea lintas bagi kapal-kapal internasional.

Langkah itu berpotensi mengubah tata kelola salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia yang menjadi akses utama pengiriman minyak dan LPG dari kawasan Teluk Persia ke pasar global.

Pada 28 Mei lalu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan Oman bahwa Washington akan menindak pihak yang memfasilitasi pemungutan bea lintas yang ditetapkan Iran.

Dampak terhadap Pasar Energi Global

Ketegangan yang terus meningkat antara Iran dan AS turut memicu gangguan di Selat Hormuz.

Blokade di jalur strategis tersebut telah mengganggu produksi dan ekspor minyak serta memicu lonjakan harga energi di berbagai negara.

Presiden AS Donald Trump bahkan mengancam akan "meledakkan" Oman apabila negara tersebut berupaya mengambil kendali atas selat tersebut.

Penutupan atau pembatasan akses Selat Hormuz dinilai berdampak langsung terhadap rantai pasok energi global karena jalur itu menjadi salah satu koridor pelayaran minyak terpenting di dunia.

Kenaikan harga minyak akibat gangguan distribusi juga mulai memengaruhi harga berbagai produk industri di sejumlah negara yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
WURI 2026: President University Ranking 165 Dunia, Top 100 di 18 Kategori Inovasi
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dasco Sebut Nanik S Deyang Punya Rekam Jejak Lapangan Kuat
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kuasa Hukum Nilai Kasus Chromebook Janggal, Pendukung Desak Pembebasan Nadiem Makarim
• 4 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Mendorong Masa Depan Agentic Commerce: DOKU MCP Server dan Protokol Agent Payments dari Google
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Dudung soal Pencopotan Dadan Hindayana: Presiden Tak Mau Ada Korupsi di BGN
• 27 menit laluliputan6.com
Berhasil disimpan.