PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menargetkan panjang jalur kereta aktif di Indonesia mencapai lebih dari 7.000 kilometer (km) pada 2030 dan meningkat drastis hingga 37.000-60.000 km pada 2045.
Direktur Utama (Dirut) KAI Bobby Rasyidin mengatakan target itu menjadi bagian dari transformasi jangka panjang perusahaan menuju operator kereta kelas dunia.
“Staging pertama tahun 2025 kami telah melakukan establishment itu dari transformasi credibility-nya, jadi soul-nya atau jiwanya sudah kami set up di tahun 2025 sampai dengan tahun 2030 kami akan fokus di sana,” ujar Bobby saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, di Kompleks Parlemen Jakarta, Rabu (3/6).
Saat ini, panjang rel aktif di Indonesia baru sekitar 6.700 km dengan pendapatan perusahaan sebesar Rp 35,7 triliun.
“Di mana pada saat ini panjang rel itu hanya 6.700 km, revenue perusahaan itu Rp 35,7 triliun, diharapkan di tahun 2030 rel akan jumlah panjangnya akan lebih dari 7.000 km dengan revenue sekitar Rp 66 triliun,” ucapnya.
KAI juga menargetkan pendapatan perusahaan mencapai Rp 120-150 triliun pada 2040.
Kata Bobby, KAI juga ingin meningkatkan kontribusi bisnis Transit Oriented Development (TOD) terhadap pendapatan perusahaan, meniru model bisnis operator kereta Jepang.
“Perlu ada gambaran sedikit, struktur dari revenue kita pada saat ini fairbox dan logistik itu sekitar 96 persen dan hanya 4 persen itu dari TOD. Kalau kita berkaca dengan JR Japan Railways, itu mereka dari Fairbox dan logistik mereka itu 60 persen, 40 persen itu dari Transit Oriented Development,” jelas Bobby.
KAI menargetkan tahap transformasi berikutnya berlangsung hingga 2045 sebagai titik balik perusahaan menuju standar operator kelas dunia. Di mana, pada 2045 ditarget 37 ribu-60 ribu km panjang rel kereta.
“Stage berikutnya adalah achieve world class standard in core capabilities, ini kita sebut dengan staging inflection point, di mana nanti diharapkan hasilnya itu di tahun 2035, indikasinya kita memerlukan sekitar 37.000 sampai 60.000 kilometer di tahun 2045,” kata Bobby.
Dia menjelaskan pengembangan jaringan rel akan dilakukan melalui reaktivasi jalur-jalur lama di Pulau Jawa yang sebelumnya sudah ada sejak era kolonial Belanda.
“Di Jawa itu yang aktif itu kurang dari 7.000, sementara waktu zaman Belanda itu, itu sudah 10.000 (km) sebenarnya Jawa. Jadi kita bukan nambah jumlah rail di Jawa ini, tapi malah berkurang,” ujarnya.
Butuh Dana Rp 1,2 T buat Perbaiki Keselamatan 1.638 Perlintasan KA Sebidang
Selain pengembangan jaringan, KAI juga menyoroti persoalan keselamatan di perlintasan sebidang. Saat ini ada hampir 4.000 perlintasan sebidang di Indonesia, dengan sekitar 1.810 di antaranya tidak dijaga.
“Perlu diketahui di Indonesia ini perlintasan sebidang itu ada sekitar 4.000. Jadi ada 3.800 sekian gitu ya, itu yang diidentifikasi,” ujarnya.
Menurut Bobby, sebanyak 172 perlintasan liar dengan lebar jalan dua meter telah ditutup oleh KAI.
Sementara untuk 1.638 perlintasan lain dengan lebar jalan lebih dari dua meter, KAI bakal memasang portal pengaman dan membangun flyover untuk 40 titik yang ramai.
“Nah untuk JPL-nya sendiri, kami sudah melakukan estimasi kebutuhan dari Capex-nya itu sekitar Rp 1,2 triliun,” ujar Bobby.
Katanya, kebutuhan operasional penjagaan perlintasan mencapai sekitar Rp 700 miliar per tahun dengan kebutuhan lebih dari 8.000 petugas.
Di sisi lain, Direktur Portofolio Management dan Teknologi Informasi KAI I Gede Darmayusa mengatakan perusahaan juga tengah menyiapkan program peremajaan sarana kereta yang sudah berusia tua.
“Ada beberapa sarana kita yang umurnya sudah di atas 30 tahun atau 35 tahun. Di world class operator, rata-rata umur sarana itu maksimal sekitar 20 tahun,” ujar Gede.
KAI menargetkan penggantian 151 unit lokomotif, 26 DEMU/BEMU, 328 unit kereta, 15 train set KRD, serta 650 unit gerbong ketel dalam lima tahun ke depan.
“Nah ini yang akan sudah menjadi rencana penggantian 5 tahun ke depan,” katanya.




