SLEMAN, KOMPAS - Hingga Rabu (3/6/2026), api spontan masih terus muncul di sebuah rumah warga di Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Tim peneliti pun memetakan lapisan di bawah permukaan tanah untuk mencari sumber gas penyebab api tersebut.
Tim dari Fakultas Teknologi Mineral dan Energi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Yogyakarta itu melakukan penelitian geofisika di area sekitar rumah, Rabu pagi. Rumah milik keluarga Mutfiana (29) tersebut berlokasi di tepi Jalan Godean-Seyegan, Desa Margomulyo, Kecamatan Seyegan, Sleman.
Selama hampir dua pekan terakhir, api bermunculan di rumah itu tanpa dipantik atau spontaneous ignition (penyulutan spontan). Api menyambar berbagai barang di rumah, seperti kain, baju, plastik, kardus, kayu, dan kertas.
Koordinator Tim Peneliti UPN "Veteran" Yogyakarta Ardian Novianto mengatakan, pihaknya memakai metode geolistrik untuk memetakan lapisan batuan di bawah tanah tanpa perlu menggali atau mengebor. Hal ini diharapkan dapat menyingkap pola batuan, struktur, atau fraktur (retakan) di dalam tanah.
Area yang diteliti berada di belakang rumah atau sisi timur. Jaraknya paling dekat sekitar 30 meter dari bangunan rumah hingga paling jauh mencapai sungai kecil yang berjarak sekitar 300 meter. Adapun panjang area penelitian mencapai sekitar 200 meter.
Tim menduga di area itulah terdapat lapisan batuan yang menjadi tempat berkumpulnya gas penyebab kemunculan api spontan di rumah Mutfiana. Berdasarkan penelusuran sejarah, kejadian seperti ini juga pernah muncul di beberapa titik lain di area tersebut.
Ardian mengatakan, data-data hasil pemetaan geolistrik itu akan dianalisis lebih lanjut. "Ini masih proses, belum bisa menyimpulkan secara komprehensif kira-kira nanti hasilnya seperti apa. Nanti kita kombinasikan dengan berbagai data lain untuk menyimpulkannya," ujarnya.
Terkait jenis gasnya, Ardian mengatakan, saat ini belum bisa dipastikan. Dari beberapa pengukuran yang dilakukan sebelumnya, ada indikasi keberadaan gas metana (CH4).
"Namun, pada saat diukur oleh tim ESDM (energi dan sumber daya mineral) kemarin dengan alat, ada metana tapi minor. Apakah ada gas yang lain, kami belum tahu," katanya.
Sebelumnya, tim peneliti Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Senin (1/6/2026) mendeteksi adanya konsentrasi gas hidrogen (H2) di dalam rumah. Namun, hal itu masih harus dianalisis lebih lanjut di laboratorium.
Ardian pun menyebut bisa jadi hidrogen sebagai sumber gas tersebut. Hidrogen dan metana sama-sama bisa terbakar secara spontan. "Mungkin nanti kami (peneliti UPN dan UGM) akan bertemu untuk bersama-sama menyimpulkan," ujarnya.
Sepanjang pengetahuan Ardian, fenomena api spontan ini baru pertama kali terjadi di DIY. Namun, di sejumlah daerah lain, kasus seperti ini pernah ditemukan.
"Di daerah lain ada dan itu (sumbernya) metana, gas dari rawa. Ini fenomena yang bisa terjadi di beberapa tempat," tuturnya.
Sementara itu, Mutfiana mengatakan, hingga Rabu pagi total ,sudah terjadi 87 kali kemunculan api di rumahnya sejak 22 Mei lalu. Pada Rabu tercatat lima kejadian, yakni pada pukul 07.45, 08.35, 09.05, 09.12, dan 09.50 WIB.
Bahkan, pada Senin, kemunculan titik api sudah meluas ke tanah belakang bangunan ruko di sebelah rumahnya. Ruko itu kini ditempati keluarga Mutfiana untuk mengungsi. "Semoga tidak sampai ke dalam ruko," ujarnya.
Saat ini anggota keluarga yang terdiri dari enam orang dewasa itu masih bergantian berjaga selama 24 jam setiap hari untuk mengantisipasi kemunculan api. Semua pintu dan jendela rumah pun selalu dibuka lebar untuk mencegah akumulasi gas yang tak berbau dan berwarna tersebut.
Di daerah lain ada dan itu (sumbernya) metana, gas dari rawa. Ini fenomena yang bisa terjadi di beberapa tempat





