Finlandia bersiap menjadi negara pertama di dunia yang mengoperasikan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah nuklir di bawah tanah. Fasilitas bernama Onkalo itu dibangun sekitar 433 meter di bawah permukaan tanah di kawasan Eurajoki, Finlandia barat daya.
Onkalo, yang berarti gua dalam bahasa Finlandia, dibangun di dalam batuan dasar stabil yang berusia 1,9 miliar tahun. Setelah puluhan tahun dunia kebingungan mencari solusi aman untuk limbah nuklir berbahaya, proyek Onkalo kini hampir siap beroperasi sepenuhnya.
Otoritas Keselamatan Radiasi dan Nuklir Finlandia (STUK) dijadwalkan merilis penilaian akhir mereka pada Juni 2026. Jika disetujui dan lulus, izin operasi akan segera diterbitkan oleh pemerintah setempat.
"Kami berharap dapat memulai operasional baik akhir tahun ini, atau kemungkinan besar awal tahun depan," kata Chief Executive operator nuklir Teollisuuden Voima Oyj (TVO), Philippe Bordarier, mengutip AFP.
Mengenal TPA Sampah Nuklir OnkaloBahan bakar nuklir bekas yang saat ini masih didinginkan di kolam air sementara di PLTN Olkiluoto, tidak jauh dari Laut Baltik, akan menjadi limbah pertama yang akan dikirim ke Onkalo.
Fasilitas dengan anggaran pembangunan mencapai 1 miliar euro atau sekitar Rp 17,6 triliun itu dibangun sejak 2004. Ia dirancang untuk menampung hingga 6.500 ton uranium dari lima reaktor nuklir aktif di Finlandia.
Berikut adalah tahapan pengemasan dan penyimpanan limbah nuklir di Onkalo agar tetap aman di bawah tanah:
Kapsul Tembaga: Di permukaan tanah, limbah radioaktif akan dimasukkan ke dalam tabung tembaga tebal yang sangat tahan terhadap korosi.
Pengeboran Lubang: Tabung-tabung tersebut diturunkan ke lubang yang telah dibor di dasar terowongan bawah tanah.
Penyegelan Tanah Liat: Lubang tersebut kemudian diisi dengan tanah liat bentonit untuk mencegah masuknya air tanah ke area tabung.
Sumbat Beton: Terowongan sepanjang 300 meter yang sudah penuh akan disegel secara permanen menggunakan sumbat beton bertulang baja.
Lauri Parviainen, ahli kimia dari Posiva, perusahaan pengelola situs tersebut, menjelaskan limbah ini akan tetap sangat aktif selama puluhan ribu tahun. Baru setelah 100.000 tahun, kadar radioaktifnya meluruh hingga setingkat dengan bijih uranium alami.
Risiko jangka panjang dan sikap publikMenyimpan limbah berbahaya selama ratusan ribu tahun memicu kekhawatiran ilmiah.
Pakar keselamatan nuklir di STUK, Jarkko Kyllonen, mengungkapkan skenario risiko jangka panjang yang diwaspadai meliputi korosi pada tabung tembaga serta potensi gempa bumi di masa depan. Meski demikian, Kyllonen menyebut hasil penilaian risiko selama bertahun-tahun menunjukkan indikasi yang positif.
Menariknya, di saat proyek serupa di Prancis menghadapi penolakan keras dari publik, proyek Onkalo justru mendapatkan dukungan yang cukup luas dari masyarakat Finlandia. Menurut profesor ilmu sosial di LUT University, Matti Kojo, publik setempat memiliki tingkat kepercayaan yang sangat tinggi terhadap penilaian ilmiah yang dikeluarkan oleh STUK.
Namun, kritik keras tetap disuarakan oleh organisasi lingkungan seperti Asosiasi Konservasi Alam Finlandia.
"Tidak ada yang bisa menjamin keamanan Onkalo hingga ribuan tahun ke depan," ungkap sang direktur, Tapani Veistola.
Di bawah undang-undang Finlandia, limbah nuklir yang dihasilkan di dalam negeri dilarang keras untuk diekspor dan harus dikelola sendiri. Kebijakan ini merupakan perubahan besar sejak regulasi diubah pada tahun 1994, di mana sebelumnya limbah tersebut sempat diekspor ke Rusia.




