Jakarta: Pencemaran mikroplastik sudah ada di mana-mana, termasuk di tubuh manusia. Mikroplastik adalah partikel plastik yang sangat kecil, berukuran antara 1 mikrometer sampai 5 milimeter.
Dosen Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Vina Listiawati, menjelaskan, mikroplastik dibagi menjadi dua jenis, yakni mikroplastik primer dan sekunder. Mikroplastik primer adalah partikel plastik yang sengaja diproduksi dalam ukuran kecil seperti manik-manik mikro atau microbeads yang digunakan pada produk kecantikan scrub wajah, pasta gigi, dan bahan baku pembuatan prouk pelastik.
"Atau juga pelet plastik yang biasanya digunakan sebagai bahan baku pembuatan produk plastik," kata Vina, mengutip laman resmi UMS, Rabu, 3 Juni 2026.
Baca Juga :
Studi Ungkap Mikroplastik Jadi Pembawa Patogen dan Bakteri Kebal Antibiotik"Persebaran masif mikroplastik juga sampai masuk ke dalam tubuh organisme. Kontaminasi mikroplastik ditemukan pada ikan hingga mamalia laut," ungkap Vina. Mikroplastik di Tubuh Manusia Mikroplastik ditemukan pada manusia. Mengutip The Guardian dari ums.ac.id, mikroplastik ditemukan di dalam air susu ibu atau ASI pada sejumlah ibu di Italia. Dari 34 ibu sehat, 75 persennya mengandung mikroplastik. Sebelumnya, tim peneliti Italia juga menemukan mikroplastik pertama di dalam plasenta bayi pada 2020 silam.
"Pada manusia, mikroplastik juga ditemukan dalam darah, paru-paru, plasenta ibu hamil, air susu ibu, tinja, bahkan jaringan arteri manusia," terang Vina.
Beberapa contoh bahaya mikroplastik pada manusia, antara lain: Peradangan (inflamasi) Mikroplastik berperan sebagai partikel asing yang memicu respons imun kronis di jaringan usus dan paru-paru. Gangguan sistem endokrin Bahan kimia seperti BPA dan ftalat yang terkandung dalam plastik dapat meniru hormon estrogen, sehingga mengganggu keseimbangan hormonal, berpotensi memengaruhi kesuburan, perkembangan janin, dan metabolisme Risiko kardiovaskuler Mikroplastik ditemukan dalam plak arteri karotis. Pasien yang plaknya mengandung mikroplastik memiliki risiko 4,5 kali lebih rentan mengalami gangguan kardiovaskuler dibandingkan dengan pasien yang memiliki plak tanpa mikroplastik. Dampak pada janin dan anak Paparan kimia plastik selama masa kehamilan dan pertumbuhan awal anak berpotensi mengganggu perkembangan neurologis dan hormonal.
Ilustrasi plastik. Foto: Freepik
Vina menyebut, mengatasi mikroplastik bukan tanpa tantangan. Beberapa faktor yang membuat mikroplastik sulit dikendalikan, antara lain ukurannya yang sangat kecil, sumber yang beragam dan tersebar, sifat plastik yang murah dan mudah, akumulasi jangka panjang, ketidaksetaraan kapasitas teknologi global, dan kurangnya regulasi internasional yang mengikat."Kombinasi faktor-faktor tersebut yang menjadikan mikroplastik bukan sekadar masalah sampah biasa, melainkan krisis sistemik yang memerlukan respons di tingkat kebijakan, teknologi, ekonomi, dan budaya secara bersamaan," tegas Vina.




