Pantau - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bali mengantisipasi risiko inflasi yang dipicu dinamika ekonomi, ketidakpastian geopolitik, hari besar keagamaan, serta pengaruh cuaca sepanjang 2026.
“Kami siapkan sinergi dan inovasi,” ungkap Kepala Perwakilan BI Bali Achris Sarwani di Denpasar, Rabu.
BI bersama pemerintah provinsi serta sembilan pemerintah kabupaten dan kota di Bali menyiapkan sejumlah langkah pengendalian, mulai dari pasar murah, pemantauan harga berkala, pengawasan distribusi elpiji bersubsidi, hingga fasilitasi distribusi pangan.
Waspadai Kenaikan Permintaan dan Cuaca EkstremAchris menjelaskan peningkatan permintaan barang dan jasa saat Hari Raya Galungan dan Kuningan pada pertengahan Juni 2026 menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi.
Selain itu, musim libur sekolah yang bertepatan dengan puncak kunjungan wisatawan nusantara berpotensi meningkatkan tekanan terhadap harga sejumlah komoditas.
BI juga mencermati dampak peralihan musim hujan ke musim kemarau yang disertai potensi El Nino yang dapat memicu gangguan cuaca dan kekeringan di sejumlah sentra produksi pangan.
Ketidakpastian global turut menjadi perhatian karena berpotensi mendorong kenaikan harga energi, termasuk bahan bakar rumah tangga dan BBM nonsubsidi yang telah mengalami kenaikan sejak 1 Juni 2026.
Inflasi Bali Masih Dalam Target NasionalBerdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, inflasi bulanan pada Mei 2026 mencapai 0,42 persen, lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang sebesar 0,01 persen.
Kenaikan inflasi terutama dipengaruhi oleh naiknya harga beras, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, cabai merah, serta tarif angkutan udara.
Secara tahunan, inflasi Bali meningkat dari 2,08 persen pada April 2026 menjadi 2,99 persen pada Mei 2026.
“Meskipun inflasi meningkat, level inflasi masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 1,5-3,5 persen,” ujar Achris.
BI dan TPID Bali juga memperkuat kerja sama antar-daerah melalui perumda pangan serta meningkatkan penyebarluasan informasi terkait operasi pasar dan pasar murah untuk menjaga stabilitas harga di tengah potensi tekanan inflasi.




