PADANG, KOMPAS — Tim investigasi Polisi Militer Komando Daerah Militer (Pomdam) XX/Tuanku Imam Bonjol menemukan satu proyektil peluru nyasar yang melukai mahasiswa di Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat. Proyektil kaliber 9 milimeter itu diduga berasal dari pistol, berbeda dengan senjata yang digunakan anggota TNI saat latihan tembak.
Kepala Penerangan Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol, Kolonel Kavaleri Taufiq, di Padang, Rabu (3/6/2026), mengatakan, satu proyektil itu didapat dari paha kiri korban, Nova Wirantika (25). Berdasarkan kalibernya, proyektil itu lebih mengarah ke amunisi pistol alih-alih senjata laras panjang.
“Latihan tembak dengan senjata laras panjang, kaliber proyektilnya 5,56 mm. Saat ini yang kami temukan adalah kaliber 9 mm. Artinya, sedikit berbeda. Tim investigasi sedang melaksanakan uji balistik,” kata Taufiq, dalam jumpa pers, di markas Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol, Kota Padang, Rabu sore.
Taufiq menjelaskan, pistol dengan peluru kaliber 9 mm umum digunakan aparat penegak hukum, termasuk TNI. Tim investigasi Pomdam tengah mendalami apakah saat latihan tembak personel juga menggunakan pistol atau tidak.
Tim juga mengumpulkan bukti dan keterangan lainnya terkait berbagai kemungkinan asal peluru nyasar tersebut.
Menurut Taufiq, untuk sementara, peluru nyasar yang melukai dua orang di UNP diduga berasal dari aktivitas latihan tembak dari Batalion Teritorial Pembangunan (YTP) 897/Singgalang di Lapangan Tembak Lapai. Lokasi latihan tembak dari lokasi jatuhnya korban jaraknya relatif jauh, yaitu sekitar 800 m.
Tidak tertutup kemungkinan peluru nyasar itu berasal dari sumber yang lain mengingat jauhnya lokasi lapangan tembak. Sebab, kata Taufiq, juga beredar desas-desus bahwa di sekitar lokasi jatuhnya korban terdengar suara tembakan, meskipun tim investigasi belum menemukan saksi.
“Kemungkinan-kemungkinan dan asumsi-asumsi lain masih kami cari. Yang paling mungkin adalah (berasal dari) latihan (tembak) karena digelar di saat bersamaan dengan kejadian,” ujar Taufiq sembari mendorong warga yang punya informasi agar memberikan keterangan demi membantu proses penyelidikan.
Taufiq menambahkan, tim investigasi Pomdam juga tengah mencari proyektil lainnya yang mengenai tangan korban Guruh Guwino (22). “Kami masih mencari proyektil lain, apakah betul dari senjata yang sama,” ujarnya.
Komandan Pomdam XX/Tuanku Imam Bonjol (TIB) Kolonel CPM Laksono Puji Lisdianto mengatakan, pihaknya telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) sejak adanya laporan peluru nyasar yang melukai dua orang di UNP, Selasa (2/6/2026).
Selain olah TKP, kata Laksono, tim hingga Rabu sudah memintai keterangan sepuluh saksi, antara lain teman-teman korban Nova yang berada di TKP, petugas keamanan UNP, dan personel TNI yang tengah mengikuti latihan tembak di Lapangan Tembak Lapai.
Berdasarkan keterangan para saksi di TKP, mereka tidak mendengar suara tembakan di sekitar lokasi jatuhnya korban. “Beberapa orang yang kami tanyakan, mereka tidak mendengar,” kata Laksono.
Laksono menambahkan, dalam proses penyelidikan ini, tim juga berkoordinasi dengan pihak eksternal, yaitu dari Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumbar, sebagaimana arahan dari Pangdam XX/Tuanku Imam Bonjol, Mayor Jenderal Arief Gajah Mada.
Taufiq ataupun Laksono belum dapat memastikan kapan proses investigasi ini tuntas karena butuh waktu untuk mengungkap kasus ini hingga terang. Walakin, Pomdam memastikan investigasi akan dilakukan secara menyeluruh dan transparan.
Sebelumnya, insiden peluru nyasar melukai dua orang di alun-alun depan Rektorat UNP di daerah Air Tawar, Kota Padang, Selasa (2/6/2026) sore. Kedua korban itu adalah Nova Wirantika, mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial UNP dan teman dekatnya Guruh Guwino.
Sekretaris UNP Erianjoni membenarkan peristiwa tersebut. Kecelakaan peluru rekoset atau peluru nyasar itu terjadi pada Selasa sekitar pukul 17.00 WIB.
“(Peluru) diperkirakan berasal dari lokasi latihan tembak TNI di Lapai, yang berjarak 800 m dari kampus induk UNP Air Tawar Padang,” katanya, Rabu (3/6/2026).
Saat kejadian, kata Erianjoni, dua korban dalam posisi duduk bersama teman-teman mereka di alun-alun depan Rektorat UNP. Tiba-tiba Nova dan Guruh terkena peluru nyasar. Tim medis UNP segera melarikan kedua korban ke Rumah Sakit Hermina Padang.
“Korban Nova Wirantika harus menjalani operasi Selasa malam karena peluru masih bersarang di paha kirinya,” ujar Erianjoni.
Adapun Guruh Guwino yang terluka di bagian tangan telah mendapat tindakan medis dan dirujuk ke Rumah Sakit Tentara (RST) Reksodiwiryo Padang untuk proses pemulihan.
Ditambahkan Erianjoni, Rektor UNP Krismadinata sesaat setelah kejadian berkoordinasi dengan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XX/Tuanku Imam Bonjol, Mayor Jenderal Arief Gajah Mada, dan jajarannya terkait peristiwa ini.
Salah satu poin dari pertemuan tersebut, kata Erianjoni, juru bicara TNI Brigadir Jenderal Heri Prakosa mengatakan, TNI akan menginvestigasi kejadian tersebut sekaligus mencarikan solusi agar peristiwa serupa tidak lagi terulang.
“Tidak akan ada lagi latihan menembak di sekitar kampus UNP Air Tawar. Pihak TNI juga menyatakan akan menanggung semua pembiayaan atau perawatan sampai korban sembuh,” kata Erianjoni.
Berdasarkan pantauan pada Rabu sore, lokasi jatuhnya korban peluru nyasar sudah kembali normal. Sejumlah mahasiswa duduk-duduk di rumput alun-alun Rektorat UNP tersebut.
Lokasi itu biasanya memang jadi tempat bagi mahasiswa beristirahat ataupun berfoto merayakan momen seminar proposal dan sidang skripsi.





