Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat kapasitas pembangkit listrik nasional mencapai 108 gigawatt (GW) hingga April 2026. Namun, sebagian besar kapasitas tersebut masih berasal dari pembangkit berbasis energi fosil.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan kapasitas pembangkit yang berada di wilayah usaha PT PLN (Persero) mencapai 79,05 GW atau sekitar 73% dari total kapasitas terpasang nasional.
Dari kapasitas tersebut, pembangkit milik PLN dan grup menyumbang 48,79 GW atau 45% dari total kapasitas nasional. Sementara itu, pembangkit milik Independent Power Producer (IPP) mencapai 29,27 GW atau 27%, pembangkit sewa sekitar 1%, serta pemegang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik untuk Kepentingan Sendiri (IUPTLS) yang terhubung ke sistem PLN sebesar 0,14 GW.
Tri menjelaskan bahwa dari total kapasitas pembangkit terpasang sebesar 108 GW, sebanyak 91,58 GW atau 85% masih menggunakan energi fosil.
"Kalau kita lihat dari jenis energi yang digunakan, pembangkit masih menggunakan energi fosil sebesar 91,58 GW atau 85%," ucap Tri dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (4/6/2026).
Secara rinci, kapasitas pembangkit listrik berbahan bakar batu bara mencapai 60,53 GW atau 56% dari total kapasitas nasional. Selanjutnya, pembangkit berbahan bakar gas sebesar 24,72 GW atau 23%, tenaga air 7,6 GW atau 7%, serta pembangkit berbahan bakar minyak (BBM) sebesar 6 GW atau 6%.
Baca Juga
- Viral Keluhan Tagihan Listrik Membengkak, PLN Buka Suara
- Perubahan Iklim Jadi Tantangan Sistem Listrik Interkoneksi Modern
- DEN Dorong Penguatan Infrastruktur Listrik usai Blackout Sumatra
Adapun kapasitas pembangkit energi baru terbarukan (EBT) lainnya terdiri atas tenaga surya sebesar 1,62 GW atau 2%, panas bumi 2,75 GW atau 3%, dan biomassa 3,67 GW atau 3%.
Meski demikian, Tri menyebut bauran EBT berdasarkan kapasitas pembangkit telah mencapai 17,89% per April 2026. Realisasi tersebut melampaui target tahun ini yang ditetapkan sebesar 16,46%.
"Porsi ini tentu cukup menggembirakan dan menunjukkan kinerja yang cukup positif dari energi baru terbarukan," ucap Tri.
Kendati demikian, dia mengakui batu bara masih menjadi sumber energi utama dalam sistem ketenagalistrikan nasional berdasarkan perbandingan target dan realisasi bauran energi periode 2025–2026.
Sementara itu, produksi listrik nasional yang berasal dari PLN, IPP, wilayah usaha lain, dan IUPTLS mencapai 165,51 terawatt hour (TWh) hingga April 2026.
Produksi tersebut terdiri atas PLN sebesar 61,79 TWh, IPP 55,03 TWh, IUPTLS 40,29 TWh, serta wilayah usaha lain sebesar 8,4 TWh.





