Bisnis.com, JAKARTA — Ajang Bisnis Indonesia Awards (BIA) 2026 sudah memasuki tahap finalisasi penjaringan dan penetapan pemenang oleh para dewan juri. Kali ini, penetapan pemenang BIA 2026 diukur dari kekuatan finansial, pertumbuhan, tata kelola, hingga kontribusi kepada masyarakat.
BIA 2026 ini mengusung tema “Where Growth Meets Strength” yang menitikberatkan pada kategori finansial maupun nonfinansial.
Ketua Dewan Juri Bisnis Indonesia Awards 2026 sekaligus Senior Economist at Creco Research Raden Pardede mengatakan dewan juri menetapkan sejumlah indikator utama dalam proses penilaian, mulai dari kekuatan keuangan, pertumbuhan bisnis, kinerja pasar modal bagi perusahaan terbuka, hingga aspek tata kelola perusahaan.
Dalam ajang BIA 2026, penilaian utama bertumpu pada kinerja perusahaan sepanjang 2025. Meski data tahun-tahun sebelumnya turut diperhitungkan sebagai pembanding, bobot terbesar tetap diberikan pada capaian terbaru perusahaan.
Raden menjelaskan metodologi penjurian menempatkan profitabilitas sebagai syarat mutlak. Alhasil, hanya perusahaan yang membukukan keuntungan yang dapat melaju dalam proses seleksi perusahaan terbaik pada BIA 2026.
“Kami lihat bahwa ada penekanan dilihat pembukuan yang di tahun 2025. Kita juga memang melihat juga mempertimbangkan juga tahun 2023 atau 2024, tetapi bobotnya itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan bobot yang tahun 2025,” kata Raden seusai babak penjurian akhir Bisnis Indonesia Awards (BIA) 2026 di Wisma Bisnis Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2026).
Baca Juga
- Proses Penjurian Bisnis Indonesia Awards (BIA) 2026 Masuki Tahap Akhir
Raden menjelaskan penilaian Bisnis Indonesia Awards 2026 menitikberatkan pada kinerja perusahaan sepanjang 2025 sebagai periode evaluasi utama. Meski dewan juri turut mempertimbangkan capaian pada 2023 dan 2024, bobot penilaiannya jauh lebih kecil dibandingkan dengan kinerja terbaru perusahaan. Selain itu, profitabilitas menjadi syarat mutlak dalam proses seleksi
“Kalau dia tidak profitable, kami tidak masukkan di dalam calon untuk diseleksi. Jadi dari yang masuk seleksi itu hanya perusahaan-perusahaan yang membukukan profit keuntungan,” jelasnya.
Di samping itu, Raden menyampaikan proses penjurian tidak hanya mengandalkan pendekatan kuantitatif. Dalam hal ini, dewan juri juga melakukan penilaian kualitatif untuk memastikan setiap indikator perusahaan secara menyeluruh dan berimbang.
Adapun, perusahaan yang mencatatkan kinerja keuangan tinggi belum tentu unggul apabila terdapat indikator lain yang dinilai kurang seimbang. Sebagai contoh, perusahaan dengan pertumbuhan dan profitabilitas tinggi dapat kehilangan poin apabila porsi saham beredar di publik (free float) dinilai terlalu kecil dibandingkan pesaingnya dalam kategori yang sama.
Selain itu, dewan juri juga mempertimbangkan aspek tata kelola melalui pendekatan, termasuk berbagai informasi yang berkembang di ruang publik mengenai reputasi perusahaan maupun pemilik usaha yang menjadi bahan pertimbangan dalam proses penilaian. Meski begitu, dia juga mengungkap salah satu tantangan dalam proses seleksi adalah memastikan perusahaan yang dibandingkan berada dalam skala usaha yang relatif setara.
“Jadi kami upayakan supaya perbandingannya itu andai seperti apple-to-apple, yang kita perbandingkan satu dengan lain itu adalah perusahaan-perusahaan yang bisa dibandingkan. Jangan terlampau perusahaannya sangat kecil dibandingkan dengan perusahaan besar. Rasanya tidak cocok dibandingkan untuk membuat dalam satu kategori,” terangnya.
Tak berhenti di sana, dewan juri BIA 2026 juga menelusuri latar belakang kepemilikan perusahaan guna memastikan aspek tata kelola dan transparansi bisnis berjalan dengan baik. Seiring rampungnya proses penjurian, Raden berharap para pemenang Bisnis Indonesia Awards 2026 dapat menjadikan penghargaan tersebut sebagai motivasi untuk terus meningkatkan kinerja dan mempertahankan pertumbuhan usaha di tengah berbagai tantangan ekonomi, baik global maupun domestik.
Selain Raden Pardede, dewan juri BIA 2026 terdiri dari anggota dewan juri terdiri atas Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Eduardus Tandelilin; Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih; dan Presiden Direktur Bisnis Indonesia Group Arif Budisusilo.





