Hilangnya Menu Rawon, Terong Balado, dan Opor Ayam di Etalase Warteg...

kompas.com
20 jam lalu
Cover Berita

TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com - Kondisi ekonomi yang tak menentu mulai berdampak pada keberlangsungan usaha mikro di wilayah Pamulang, Tangerang Selatan.

Sejumlah pengusaha warteg mengeluhkan merosotnya daya beli masyarakat yang bahkan dinilai lebih berat dibandingkan masa pandemi Covid-19.

Lonjakan harga bahan baku yang mencapai 40 hingga 100 persen juga memaksa pedagang melakukan langkah ekstrem dengan menghapus menu tertentu.

Baca juga: Harga Bahan Pokok Naik, Pedagang Warteg di Bekasi Akali Belanja hingga Kurangi Porsi

Hery (42), pemilik Warteg 21 di Pamulang, terpaksa menghentikan penjualan menu terong balado, opor ayam, hingga rawon yang sebenarnya cukup disukai pembeli.

"Terong naik dari Rp 8.000 ke Rp 16.000 per kilo, naiknya 100 persen. Rawon juga harga jeroannya naik dari Rp 30.000 ke Rp 55.000. Modal dan harga jualnya sudah tidak ketemu, jadi terpaksa saya hapus dari menu," ujar Hery saat ditemui Kompas.com, Rabu (3/6/2026).

Biaya belanja harian yang biasanya sekitar Rp 500.000, kini melonjak menjadi Rp 800.000 untuk jumlah barang yang sama.

Selain bahan pangan, harga pendukung seperti kantong plastik pun naik nyaris dua kali lipat.

Lebih parah dari pandemi Covid-19

Lina (37), pengelola Warteg Gria Bahari di Pamulang, mengungkapkan bahwa penurunan jumlah pelanggan saat ini mencapai 50 persen.

Wanita yang sudah belasan tahun mengelola warteg ini mengakui bahwa situasi sekarang jauh lebih sulit diprediksi.

"Saya di sini meneruskan usaha orang tua, sudah belasan tahun lah. Kalau saya bandingkan, jujur masih mending zaman Covid dah. Pas social distancing, orang masih butuh makan dan daya beli masih kuat. Kalau sekarang bener-bener berat, orang mau makan saja susah," ujar Lina.

Menurutnya, situasi penjualannya cukup berubah dibandingkan 2 hingga 3 tahun lalu.

"2 tahun lalu, 3 tahun yang lalu, pelanggan tuh makan tuh masih berani. 'Gue mau makan nih, nasi, telur sama gorengan, es teh manis.' Lah sekarang tuh orang makan tuh mungkin satu hari sekali, itupun kalau kebagiannya di warteg sini, yang lain enggak kebagian jajan," kata dia.

Baca juga: Jeritan Pedagang Warteg: Harga Sembako Naik, Keuntungan Menipis, Pembeli Makin Sepi

Pedagang guling tikar

Tekanan akibat melambungnya harga kebutuhan pokok yang tidak dibarengi dengan kenaikan pendapatan mulai memicu ditutupnya usaha.

Berdasarkan pengamatan Lina, banyak rekan sesama pedagang kuliner di sekitar tempatnya berjualan yang menyerah dan memilih pulang ke kampung halaman.

Kondisi ini diperkuat dengan banyaknya pintu kontrakan di lingkungan sekitar yang kini kosong ditinggalkan para pedagang kecil.

"Sampai ibu-ibu kontrakan di belakang bilang, 'Kalau ada yang cari kontrakan itu ada empat pintu kosong'. Semuanya pedagang pada pulang kampung, ada pedagang pecel ayam, ada soto. Mereka sudah tidak kuat bayar perpanjang kontrak karena modalnya habis untuk nombok belanja," ungkap Lina.

Lina menambahkan, para pedagang tersebut memilih berhenti beroperasi karena modal usaha terus tergerus oleh harga bahan baku yang naik, sementara harga jual ke pelanggan tidak mungkin dinaikkan.

Baca juga: Ayam Sering Sisa, Pembeli Warteg di Bogor Kini Lebih Pilih Lauk Sederhana

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
Desakan operasi pasar

Di tengah kondisi yang kian terjepit, para pengusaha UMKM ini berharap pemerintah tidak hanya sekadar duduk di balik meja. Mereka mendesak adanya langkah nyata untuk menstabilkan harga pangan yang kian liar.

"Tolong Pak, nih lihat, Pak, rakyat kamu nih, gitu kan. Jangan di atas cuman hanya sekadar duduk-duduk aja. Lihat ke lapangan. Coba cross check, harganya berapa nih," pungkas Lina.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bupati Wajo Jemput 384 Jemaah Haji Kloter 4 di Bandara Sultan Hasanuddin
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Kejari Bersama Inspektorat Takalar Edukasi Aparat Desa, Dorong Tata Kelola Bersih dan Transparan
• 2 jam laluharianfajar
thumb
Bikin Iri: 5 Mata Uang Negara Ini Menang Telak Lawan Dolar, Ada Israel
• 3 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Hamparan Sampah Muncul di Pesisir Muara Angke Jakut, Membentang Bak Pulau
• 7 jam lalukompas.com
thumb
Gubernur Sherly Tjoanda Menyatakan Hilirisasi Nikel Ubah Ekonomi Maluku Utara dan Dorong Pertumbuhan Tinggi
• 11 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.