DEPOK, KOMPAS.com - Suara "asah pisau... asah gunting... asah golok..." yang dahulu akrab terdengar di lingkungan permukiman kini semakin jarang ditemui.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, maraknya barang murah, dan perubahan pola konsumsi masyarakat, profesi pengasah pisau keliling perlahan tersingkir dari lanskap ekonomi perkotaan.
Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, menilai profesi pengasah pisau keliling merupakan bagian dari ekonomi informal yang memiliki peran penting dalam memperpanjang usia pakai barang rumah tangga.
Namun, profesi tersebut menghadapi tantangan besar karena permintaan jasa yang semakin menyusut dan minimnya regenerasi pelaku.
"Saya melihat tukang asah pisau keliling sebagai bagian dari ekonomi informal perkotaan yang bergerak di sektor jasa perawatan dan perbaikan. Mereka sebenarnya menjalankan praktik yang sejalan dengan konsep circular economy karena memperpanjang umur pakai barang yang dimiliki masyarakat," kata Adrian saat dihubungi Kompas.com, Rabu (3/6/2026).
Baca juga: Dari Buruh Pabrik Jadi Pengasah Pisau, Jalan Panjang Marno Menjemput Rezeki
Dalam perspektif ekonomi, jasa pengasahan pisau membantu mengurangi konsumsi barang baru.
Pisau yang tumpul tidak langsung dibuang, melainkan diperbaiki agar dapat digunakan kembali.
Namun, manfaat tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan nilai ekonomi yang diterima para pelakunya.
Menurut Adrian, persoalan utama profesi ini terletak pada struktur pasarnya yang sempit dan tidak terjadwal.
"Permintaannya ada, tetapi jarang dan tersebar. Tukang asah pisau harus berkeliling mencari pelanggan tanpa kepastian akan mendapatkan pekerjaan setiap hari. Sementara tenaga, waktu, dan biaya operasional tetap harus dikeluarkan," ujarnya.
Selain menghadapi pasar yang terbatas, pengasah pisau keliling juga harus bersaing dengan berbagai alternatif yang kini tersedia.
Masyarakat dapat membeli alat pengasah sendiri, membeli pisau baru dengan harga murah, atau memanfaatkan jasa profesional yang lebih mudah ditemukan melalui platform digital.
Baca juga: Bertahan di Tengah Modernisasi, Pengasah Pisau Keliling Depok Andalkan Pelanggan Setia
Akibatnya, profesi ini berada dalam tekanan dari berbagai arah. Di satu sisi, harga jasa yang ditawarkan relatif rendah.
Di sisi lain, konsumen memiliki semakin banyak pilihan pengganti.
"Rendahnya daya tawar harga menjadi masalah. Banyak konsumen menganggap jasa ini sederhana sehingga enggan membayar lebih tinggi. Padahal keterampilan mengasah pisau membutuhkan pengalaman dan ketelitian," tutur Adrian.
Kondisi tersebut juga berdampak pada regenerasi profesi.
Menurut Adrian, generasi muda cenderung tak mau menekuni pekerjaan yang dianggap tidak memiliki kepastian pendapatan maupun jenjang karier.
Menurutnya, anak muda saat ini mempertimbangkan prospek jangka panjang.
Mereka melihat apakah sebuah pekerjaan punya peluang berkembang, pendapatan stabil, dan status sosial yang lebih baik.
“Dalam konteks itu, profesi pengasah pisau keliling kurang menarik dibanding pekerjaan informal lain seperti kurir, ojek online, atau usaha berbasis digital," kata dia.
Meski demikian, Adrian menilai keterampilan mengasah pisau masih memiliki nilai ekonomi apabila mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Baca juga: Nestapa Korban Hanania Travel: Tergiur Rekor MURI, Gagal Umrah, Kini Tuntut Ganti Rugi Rp 100 Miliar
Menurut dia, masa depan profesi ini bukan lagi mengandalkan model berkeliling tanpa tujuan pasti, melainkan bertransformasi menjadi layanan yang lebih profesional dan terjadwal.
"Yang perlu dipertahankan bukan bentuk kerjanya yang rentan, tetapi keterampilannya. Pengasah pisau bisa membangun pelanggan tetap, menjangkau pelaku usaha kuliner, memanfaatkan WhatsApp, dan membuat layanan yang lebih terorganisasi," ujar Adrian.
Bertahan dengan Pikulan di Tengah KotaTantangan yang digambarkan Adrian tampak nyata dalam keseharian Ujang (58), pengasah pisau keliling yang ditemui Kompas.com di kawasan Pancoran Mas, Depok, Selasa (2/6/2026).
Di usia yang tidak lagi muda, Ujang masih berjalan kaki menyusuri jalan-jalan permukiman sambil memikul peralatan pengasah di atas bahunya.
Pikulan bambu yang dibawanya berisi batu gerinda, alat asah, dan perlengkapan perbaikan sederhana.
Setiap pagi sekitar pukul 07.00 WIB, ia berangkat dari rumah kontrakannya dan mulai menyusuri sejumlah wilayah seperti Pancoran Mas, Depok Lama, hingga Rangkapan Jaya.





