Pengasah Pisau Keliling Hadapi Minimnya Regenerasi

kompas.com
7 jam lalu
Cover Berita

DEPOK, KOMPAS.com - Suara "asah pisau... asah gunting... asah golok..." yang dahulu akrab terdengar di lingkungan permukiman kini semakin jarang ditemui.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, maraknya barang murah, dan perubahan pola konsumsi masyarakat, profesi pengasah pisau keliling perlahan tersingkir dari lanskap ekonomi perkotaan.

Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, menilai profesi pengasah pisau keliling merupakan bagian dari ekonomi informal yang memiliki peran penting dalam memperpanjang usia pakai barang rumah tangga.

Namun, profesi tersebut menghadapi tantangan besar karena permintaan jasa yang semakin menyusut dan minimnya regenerasi pelaku.

"Saya melihat tukang asah pisau keliling sebagai bagian dari ekonomi informal perkotaan yang bergerak di sektor jasa perawatan dan perbaikan. Mereka sebenarnya menjalankan praktik yang sejalan dengan konsep circular economy karena memperpanjang umur pakai barang yang dimiliki masyarakat," kata Adrian saat dihubungi Kompas.com, Rabu (3/6/2026).

Baca juga: Dari Buruh Pabrik Jadi Pengasah Pisau, Jalan Panjang Marno Menjemput Rezeki

Dalam perspektif ekonomi, jasa pengasahan pisau membantu mengurangi konsumsi barang baru.

Pisau yang tumpul tidak langsung dibuang, melainkan diperbaiki agar dapat digunakan kembali.

Namun, manfaat tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan nilai ekonomi yang diterima para pelakunya.

KOMPAS.com/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Papan tanda kuning bertuliskan ASAH PISAU Rp. 1000 SUKMAJAYA DEPOK yang terpasang di bagian depan setang sebuah sepeda tua, Rabu (3/5/2026).

Menurut Adrian, persoalan utama profesi ini terletak pada struktur pasarnya yang sempit dan tidak terjadwal.

"Permintaannya ada, tetapi jarang dan tersebar. Tukang asah pisau harus berkeliling mencari pelanggan tanpa kepastian akan mendapatkan pekerjaan setiap hari. Sementara tenaga, waktu, dan biaya operasional tetap harus dikeluarkan," ujarnya.

Selain menghadapi pasar yang terbatas, pengasah pisau keliling juga harus bersaing dengan berbagai alternatif yang kini tersedia.

Masyarakat dapat membeli alat pengasah sendiri, membeli pisau baru dengan harga murah, atau memanfaatkan jasa profesional yang lebih mudah ditemukan melalui platform digital.

Baca juga: Bertahan di Tengah Modernisasi, Pengasah Pisau Keliling Depok Andalkan Pelanggan Setia

Akibatnya, profesi ini berada dalam tekanan dari berbagai arah. Di satu sisi, harga jasa yang ditawarkan relatif rendah.

Di sisi lain, konsumen memiliki semakin banyak pilihan pengganti.

"Rendahnya daya tawar harga menjadi masalah. Banyak konsumen menganggap jasa ini sederhana sehingga enggan membayar lebih tinggi. Padahal keterampilan mengasah pisau membutuhkan pengalaman dan ketelitian," tutur Adrian.

Kondisi tersebut juga berdampak pada regenerasi profesi.

Menurut Adrian, generasi muda cenderung tak mau menekuni pekerjaan yang dianggap tidak memiliki kepastian pendapatan maupun jenjang karier.

Menurutnya, anak muda saat ini mempertimbangkan prospek jangka panjang.

Mereka melihat apakah sebuah pekerjaan punya peluang berkembang, pendapatan stabil, dan status sosial yang lebih baik.

“Dalam konteks itu, profesi pengasah pisau keliling kurang menarik dibanding pekerjaan informal lain seperti kurir, ojek online, atau usaha berbasis digital," kata dia.

Meski demikian, Adrian menilai keterampilan mengasah pisau masih memiliki nilai ekonomi apabila mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Baca juga: Nestapa Korban Hanania Travel: Tergiur Rekor MURI, Gagal Umrah, Kini Tuntut Ganti Rugi Rp 100 Miliar

Menurut dia, masa depan profesi ini bukan lagi mengandalkan model berkeliling tanpa tujuan pasti, melainkan bertransformasi menjadi layanan yang lebih profesional dan terjadwal.

"Yang perlu dipertahankan bukan bentuk kerjanya yang rentan, tetapi keterampilannya. Pengasah pisau bisa membangun pelanggan tetap, menjangkau pelaku usaha kuliner, memanfaatkan WhatsApp, dan membuat layanan yang lebih terorganisasi," ujar Adrian.

Bertahan dengan Pikulan di Tengah Kota

Tantangan yang digambarkan Adrian tampak nyata dalam keseharian Ujang (58), pengasah pisau keliling yang ditemui Kompas.com di kawasan Pancoran Mas, Depok, Selasa (2/6/2026).

Di usia yang tidak lagi muda, Ujang masih berjalan kaki menyusuri jalan-jalan permukiman sambil memikul peralatan pengasah di atas bahunya.

Pikulan bambu yang dibawanya berisi batu gerinda, alat asah, dan perlengkapan perbaikan sederhana.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Setiap pagi sekitar pukul 07.00 WIB, ia berangkat dari rumah kontrakannya dan mulai menyusuri sejumlah wilayah seperti Pancoran Mas, Depok Lama, hingga Rangkapan Jaya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cuaca Riau 3 Juni 2026, BMKG Ingatkan Fenomena Ini
• 21 jam lalujpnn.com
thumb
Erick Thohir Bocorkan Strategi Besar Timnas Indonesia, John Herdman Berani Andalkan Wonderkid demi Dongkrak Ranking FIFA
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Usung Teknologi Hybrid Pintar, Simak Spesifikasi Lengkap Jetour T1 i-DM
• 8 jam lalumedcom.id
thumb
3 Prajurit Kopassus Penculik danPembunuh Kacab Bank Didorong Motivasi Miliki Uang Banyak
• 7 jam lalurctiplus.com
thumb
Bos Bank BUMN Sebut Ada Fenomena Repo SBN Buat Borong SRBI
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.