Bisnis.com, BANDUNG — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak langsung pada pelaksanaan proyek infrastruktur Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Sejumlah paket pekerjaan jalan bahkan sempat sepi peminat karena kontraktor menilai biaya konstruksi yang terus meningkat membuat proyek tidak lagi memberikan keuntungan yang memadai.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkapkan, kenaikan kurs dolar sempat mengganggu proses lelang sejumlah proyek infrastruktur yang digelar Pemprov Jabar. Kondisi tersebut menyebabkan beberapa tender yang biasanya diperebutkan kontraktor justru tidak mendapatkan peserta.
"Sebetulnya, itu yang mengakibatkan kemarin beberapa kegiatan Pemprov Jabar lelangnya sempat tidak ada peminat," ujar Dedi Mulyadi, Rabu (3/6/2026).
Menurut Dedi, hasil evaluasi menunjukkan minimnya peserta lelang dipicu melonjaknya biaya pembangunan seiring pelemahan rupiah. Kenaikan kurs dolar berdampak pada harga berbagai material konstruksi, mulai dari semen, hot mix (aspal), hingga beton.
"Biasanya orang antre rebutan. Setelah saya analisis, faktor penyebabnya harga. Mereka menghitung tidak ada untungnya," katanya.
Baca Juga
- KDM Ancam Tak Teken RAPBD Jika Anggaran Infrastruktur Tak Capai 7,5%
- Dedi Mulyadi Tarik Pinjaman Rp2 Triliun untuk Proyek Infrastruktur Jabar
- KDM: Bangun Infrastruktur Itu Mudah, Ini yang Bikin Berat..
Meningkatnya harga material membuat kontraktor lebih berhati-hati mengikuti tender proyek pemerintah. Mereka menilai nilai kontrak yang ditawarkan tidak lagi sebanding dengan risiko kenaikan biaya produksi akibat fluktuasi kurs.
Meski demikian, Pemprov Jabar akhirnya melakukan evaluasi terhadap sejumlah paket pekerjaan sehingga proyek-proyek tersebut kembali menarik minat pelaku usaha konstruksi.
"Tetapi akhirnya ada juga peminatnya setelah kita lakukan evaluasi," katanya.
Berdasarkan data Bank Indonesia, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.940,10 per dolar AS pada Rabu (3/6/2026). Posisi tersebut menjadi salah satu level terlemah dalam beberapa bulan terakhir dan memberi tekanan pada biaya pembangunan infrastruktur yang bergantung pada bahan baku serta komponen yang sensitif terhadap pergerakan dolar.
Saat ini Pemprov Jabar tengah mengerjakan sejumlah proyek strategis, di antaranya rekonstruksi dan pelebaran Jalan Raya perbatasan Bandung-Garut dari lebar 9 meter menjadi 12 meter, pembangunan dan perbaikan jalan provinsi di berbagai daerah, serta proyek jembatan dan sarana konektivitas antarwilayah.
Dedi memastikan dampak pelemahan rupiah masih dapat diantisipasi melalui penyesuaian perhitungan biaya dan negosiasi dalam pelaksanaan proyek.
"Nilai tukar dolar mempengaruhi harga semen, hot mix, beton, semuanya berpengaruh. Tapi sampai hari ini masih bisa kita negosiasikan," katanya.
Di sisi lain, pihaknya mengakui pelemahan rupiah tidak selalu berdampak negatif bagi seluruh sektor usaha. Menurutnya, kondisi tersebut menciptakan dua konsekuensi berbeda bagi pelaku ekonomi, terutama antara sektor yang berorientasi ekspor dan yang bergantung pada bahan baku impor.
"Dampaknya pasti ada dua variabelnya. Yang ekspor pasti merasa untung, tapi yang bahan bakunya impor pasti berat. Pasti ada yang dirugikan dan diuntungkan, tapi saya berharap ke depan dolar bisa lebih stabil," ujar Dedi.





