IHSG Rawan Terkoreksi, Analis Rekomendasikan Saham BUMI, AADI, BMRI, SMRA

katadata.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG rawan terkoreksi pada perdagangan saham hari ini, Kamis (4/6). Apabila melihat perdagangan sebelumnya, IHSG anjlok sebesar 4,11% ke level 5.941 pada Rabu (3/6) kemarin, disertai meningkatnya tekanan jual di pasar.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, penurunan tersebut sudah menyentuh area support sekaligus target koreksi yang sebelumnya telah diperkirakan. Menurutnya, secara teknikal pergerakan IHSG saat ini masih berada dalam fase wave [v] dari wave A pada struktur wave (2).

“Cermati area koreksi berikutnya di 5.755–5.814, untuk area penguatan terdekat berada di 5.958–5.984,” tulis Herditya dalam risetnya, Kamis (4/6). 

MNC Sekuritas menetapkan batas support di 5.880–5.755 dan resistance IHSG di 6.111–6.286.

Support adalah area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.  

Sementara resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.

MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness sejumlah saham. Di antaranya PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akumulasi beli di rentang Rp 129–Rp 199 dengan target harga di Rp 162–Rp 199, sementara level stoploss di bawah Rp 126.

Kemudian PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 3.880–Rp 4.010 dengan target harga di Rp 4.220–Rp 4.320, dan  stoploss jika di bawah Rp 3.860.

Sentimen IHSG

Di sisi lain, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai secara teknikal IHSG berada dalam kondisi extremely oversold dan masih dalam tren penurunan.

Ia mencatat level support IHSG berada di 5.839 dan 5.733, sementara resistance di 6.075 dan 6.287. Ia juga mencermati IHSG mencatatkan net sell asing sebesar Rp 864,07 miliar secara harian dan Rp 66,20 triliun secara year-to-date (YTD). Secara kinerja, IHSG sudah babak belur 31,29% ytd. 

Nafan menyarankan investor untuk fokus pada saham-saham pilihan dengan fundamental solid dan saham yang memiliki valuasi murah.

“Fokus terhadap saham yang menunjukkan arah pembalikan tren, dan gunakan manajemen risiko dengan disiplin,” tulis Nafan dalam analisisnya, Kamis (4/6).   

Secara teknikal, Nafan menyebut IHSG sudah berada dalam kondisi kelebihan tekanan jual yang ekstrem berdasarkan indikator RSI, meski tren penurunan masih berlanjut. Sementara itu, indikator Stochastic K%D masih menunjukkan sinyal negatif, meskipun volume perdagangan mulai menguat.

Tekanan pasar juga dipicu sentimen dari rilis peringkat Baa2 (investment grade) oleh Moody’s terhadap Danantara Investment Management (DIM) dengan outlook negatif. Nafan mengatakan kondisi ini meningkatkan potensi penurunan peringkat jika risiko tidak membaik, sehingga direspons negatif oleh pelaku pasar dan memicu aksi jual yang kian menekan IHSG.

Di tengah kondisi tersebut, rupiah juga dilaporkan melemah hingga mendekati level Rp18.000 per dolar AS.

“Para pelaku investor juga mengantisipasi sentimen jangka pendek dari realisasi rebalancing indeks global seperti FTSE Russell yang akan efektif pada 22 Juni 2026, turut memengaruhi pergerakan dana pasif asing yang langsung menyesuaikan portofolionya,” ucap Nafan. 

Dari sisi global, ketegangan antara Washington dan Teheran masih meningkat seiring ketidakpastian arah perundingan perdamaian antara kedua negara. Kondisi ini ikut mendorong naiknya persepsi risiko di kalangan investor.

Selain itu, Nafan juga mencatat pasar menantikan rilis data US Nonfarm Payrolls untuk Mei pada akhir pekan ini. Hasilnya akan menjadi salah satu acuan dalam menentukan ekspektasi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve ke depan.

Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham, di antaranya PT Bumi Resources Tbk (BUMI) buy on weakness dengan area masuk di kisaran Rp 133–Rp 153. Target harga (TP) ditetapkan di level Rp 161, Rp 174, hingga Rp 284, dengan support di Rp 270 dan Rp 262.

Sementara itu, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dinilai oversold dengan rekomendasi buy on weakness pada rentang Rp 7.750–Rp 8.250. Target harga berada di Rp 8.425, Rp 8.825, hingga Rp 9.475, dengan level support di Rp 7.750 dan Rp 7.325.

Mirae juga merekomendasikan saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), buy on weakness dengan area masuk Rp 270–Rp 290. Target harga ditetapkan di Rp 294, Rp 300, hingga Rp 318, dengan support di Rp 270 dan Rp 262.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
OTT KPK di Imipas Jakbar, KPK Buru Wamen Imipas Silmy Karim
• 16 jam lalujpnn.com
thumb
Kejagung Ungkap Hasil Penggeledahan di Kantor BGN: Dokumen dan Barang Bukti Elektronik
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
BI naikkan intensitas intervensi saat nilai tukar tembus Rp18.000
• 29 menit laluantaranews.com
thumb
Bacakan Pledoi, Nicko Sadari Realita Pahit Industri Modal Ventura Nasional
• 14 jam lalukatadata.co.id
thumb
Copot 3 Pimpinan BGN, Prabowo: Saya Sedih, Mengganti Orang yang Saya Sayangi
• 14 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.