Orangtua yang masih menganggap anak sebagai alat investasi untuk merawat mereka di hari tua harus siap-siap kecewa. Zaman berubah, pandangan orang muda pada orang lebih tua ikut berubah. Orang tua masa depan dituntut tetap sehat dan kuat agar hidup produktif dan mandiri tanpa pendampingan anak ataupun orang lebih muda.
Situasi demografi berubah. Ukuran keluarga mengecil dan kondisi ekonomi membuat anak tinggal makin berjauhan dengan orangtua mereka. Di beberapa ”kota pensiunan” makin mudah menemukan orang lansia yang tinggal sendirian.
Gerak mereka umumnya terbatas. Hal ini disebabkan sistem tata kota dan sistem transportasi publik di sejumlah daerah tidak mendukung kehidupan warga lansia.
Di sisi lain, pandangan orang muda terhadap orang tua juga berubah. Tekanan ekonomi, media sosial, dan gaya hidup membuat sebagian orang muda menganggap merawat orangtua adalah beban dan bukan merupakan kewajiban anak.
Tuntutan sosial itu dianggap menghambat orang muda untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan mereka. Toh, menurut mereka, anak tidak pernah minta dilahirkan orangtua.
Perubahan nilai dan pandangan masyarakat terkait perawatan lansia itu, menurut peneliti demografi muda dan pendiri Youthlab Indonesia, Muhammad Faisal, di Jakarta, Selasa (2/6/2026), tak lepas dari cara pandang warga saat ini yang menjadikan orang muda sebagai acuan kehidupan. Nilai-nilai orangtua dianggap tak relevan dengan zaman dan tidak bermanfaat bagi kehidupan.
Pola budaya yang menurut antropolog Margaret Mead (1901-1978) disebut sebagai budaya prefiguratif itu membuat orang tua harus belajar ke orang muda tentang arti kehidupan, kebahagiaan, dan kesuksesan.
Cara pandang ini juga membuat orang-orang paruh baya berumur 40-60 tahun bersikap, memiliki gaya hidup, hingga orientasi masa depan ala orang muda berusia 20-30 tahun.
Nilai dalam masyarakat yang terfokus pada orang muda itu tidak lepas dari cara pandang yang menganggap hidup hanya sekali (you only live once/YOLO). Akibatnya, tiap orang perlu mengoptimalkan pengalaman hidup dan menikmati kebahagiaan mereka selagi masih muda dan jika mungkin, tetap muda.
Perubahan nilai dan pandangan masyarakat terkait perawatan lansia itu tidak terlepas dari cara pandang masyarakat saat ini yang menjadikan orang muda sebagai acuan kehidupan.
Negara pun punya andil dalam perubahan nilai tersebut. Pembangunan kelanjutusiaan hanya dianggap sebagai urusan kesehatan, sosial, dan keagamaan semata.
Keberadaan lansia hanya dianggap sebagai sosok lemah di hari tua yang tidak perlu dilibatkan langsung dalam pembangunan. Akibatnya, dalam berbagai seremoni pemerintahan dan kenegaraan, dibandingkan anak dan remaja, lansia senantiasa tersisihkan, bahkan dilupakan.
Padahal, struktur penduduk Indonesia sudah berubah. Pada tahun 2025, ada sekitar 34 juta penduduk lansia atau hampir menyamai jumlah seluruh penduduk Malaysia.
Para lansia itu terkonsentrasi di 16 provinsi yang memiliki populasi menua dan menampung sekitar 75 persen penduduk Indonesia. Jumlah itu akan terus membesar seiring akan datangnya bonus demografi kedua. Namun investasi negara untuk lansia masih sangat terbatas.
Perubahan nilai itu, di satu sisi berdampak positif karena membuat orang tua senantiasa memiliki pola pikir, semangat, dan cara hidup energik layaknya orang orang muda.
Namun, pola budaya itu juga membuat banyak orang tua lupa untuk bersikap sesuai umur biologisnya. Padahal, masyarakat menuntut orang tua untuk mampu bersikap bijak dan arif selayaknya orang tua sesuai perkembangan psikologinya.
Banyak orang takut menjadi tua dan malu dipanggil kakek atau nenek karena lingkungan meminggirkan peran orang tua. Dalam seremoni pemerintahan di berbagai tingkatan, lansia hampir tak pernah terlihat keberadaannya dibandingkan anak muda. Persoalan ini akhirnya membuat warga tercerabut dari wawasan, kearifan, dan pengalaman lansia.
Nilai yang bertumpu pada orang muda itu juga membuat perawatan lansia masa depan menghadapi tantangan tidak mudah. “Dulu saat nilai hidup bertumpu pada orang tua (postfiguratif), pengasuhan orang lanjut usia dilakukan dalam keluarga karena orang tua dianggap mampu memberikan warna dalam keluarga, pada anak dan cucu, secara langsung,” kata Faisal.
Keputusan untuk merawat orang tua itu sangat bergantung kepada kondisi ekonomi.
Kini, perawatan lansia justru dipandang sebagai beban keluarga. Pertimbangan ekonomi, waktu yang habis terbuang percuma, hingga beban mental yang harus ditanggung membuat banyak orang muda enggan merawat orangtua dan berharap mereka bisa hidup mandiri. Padahal, merawat lansia sejatinya merupakan persiapan jadi orang tua.
Peneliti geropsikologi yang juga dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Lathifah Hanum mengatakan, dari riset disertasinya tentang relasi orangtua dan anak yang tinggal serumah di Universitas Queensland Australia tahun 2026 menunjukkan orang muda Indonesia sejatinya tetap ingin merawat orangtua mereka saat lansia sebagai wujud bakti mereka.
“Namun, keputusan merawat orangtua itu sangat bergantung kepada kondisi ekonomi,” katanya.
Situasi ekonomi saat ini di seluruh dunia sedang tidak baik-baik saja. Berbagai jenis pekerjaan mengalami tekanan dan disrupsi serta banyak pemutusan hubungan kerja. Pada saat bersamaan, jumlah pengangguran melonjak tinggi. Hal itu membuat orang muda fokus menjaga pekerjaan mereka agar tetap berpenghasilan dan memiliki hidup layak.
Banyak di antara mereka juga bertahan dalam pekerjaan yang kurang disukai demi bisa bertahan hidup, bisa membantu menghidupi orangtua, bisa mengajak orangtua tinggal bersama, atau minimal tidak lagi menjadi beban orangtua saat pulang ke rumah orangtua.
Kondisi tersebut membuat banyak orang muda harus merantau, tinggal sendiri jauh dari keluarga, dan seringkali dibayang-bayangi ketakutan belum sempat menunjukkan bakti meski orangtua semakin menua.
Selain ekonomi, keputusan untuk tinggal bersama orangtua juga sangat bergantung pada kualitas relasi mereka. Orang muda bukan tidak paham budaya Indonesia yang lebih mengutamakan orangtua atau anak memiliki tanggung jawab merawat orangtua mereka saat lansia.
Namun, sering kali konflik justru muncul saat anak tinggal bersama orangtua. “Jika tidak tinggal serumah bisa membuat suasana lebih damai, mengapa harus memaksakan tinggal bersama?” tuturnya.
Lansia masa depan harus lebih mandiri mengingat mereka akan tinggal sendiri dan jauh dari anak-anaknya. Orang tua harus sehat dan tetap aktif sehingga bisa merawat dan mengurus diri sendiri.
Banyak hal perlu dipertimbangkan untuk mengajak orangtua yang lansia tinggal bersama, terutama jika anak sudah menikah dan hidup bersama pasangan. Mengajak orangtua tinggal bersama berisiko menyinggung perasaan dan menimbulkan ketidakadilan bagi pasangan atau orangtua pasangan.
Belum lagi relasi menantu dan mertua seringkali tidak harmonis. Kondisi itu membuat banyak pasangan suami-istri memilih tinggal terpisah dari orangtua demi menghindari kerepotan psikologi yang pasti muncul.
Tantangan yang sering muncul saat anak dan orangtua tinggal bersama yakni adanya kesenjangan komunikasi. Meski status mereka adalah orangtua dan anak, mereka tetap berasal dari generasi yang berbeda.
Situasi ini mengakibatkan sering muncul kesalahan persepsi, beda istilah atau kata yang digunakan, hingga timbul ketegangan di antara kedua belah pihak. Permasalahan ini sering membuat anak lebih memilih diam dan malas melatih diri agar bisa memahami ‘bahasa’ orangtua.
Meski akan makin banyak orangtua yang tinggal sendiri, terpisah dengan anak-anaknya, Hanum yakin kondisi itu tidak akan memicu lonjakan lansia yang telantar akibat tak memiliki tempat tinggal atau terlantar akibat masalah finansial.
Pasalnya, Statistik Penduduk Lanjut Usia 2025 menunjukkan 93,15 persen lansia tinggal di rumah milik sendiri atau milik anggota rumah tangga, bahkan 53,98 persen lansia berstatus kepala keluarga dalam keluarga multigenerasi.
Selain itu 54,21 persen lansia masih harus bekerja, khususnya lansia dengan pendidikan rendah, karena tidak memiliki pensiun atau tabungan hari tua. Bahkan, banyak lansia masih harus menghidupi anak dan cucu mereka.
“Saya tidak yakin akan makin banyak lansia yang telantar akibat kondisi finansialnya. Namun, akan makin banyak lansia telantar akibat persoalan nonfinansial, terutama dalam perawatan orangtua,” tambah Hanum.
Karena itu, lansia masa depan harus lebih mandiri mengingat mereka akan tinggal sendiri dan jauh dari anak-anaknya. Orang tua harus sehat dan tetap aktif sehingga bisa merawat dan mengurus diri sendiri. Dengan kemandirian itu, mereka bisa hidup, berkegiatan harian, mengunjungi layanan kesehatan, atau berwisata secara mandiri tanpa perlu didampingi oleh anak atau orang lain.
Pemerintah perlu mulai banyak berinvestasi untuk lansia, tidak fokus kepada anak dan remaja semata.
Perubahan nilai yang mengancam perawatan lansia masa depan itu, menurut Faisal, dipicu oleh globalisasi teknologi digital yang membuat masyarakat lebih pragmatis.
Media sosial menjadi sarana termudah untuk membandingkan capaian diri dengan orang lain. Situasi tersebut makin kompleks seiring dengan dinamika sosial, ekonomi, dan politik global yang akhirnya turut memengaruhi kehidupan keluarga.
Selain itu perubahan nilai itu tak lepas dari pergeseran orientasi spiritualitas warga. Masyarakat yang makin modern membuat segala tindakannya dilakukan demi mengejar keuntungan dan kebahagiaan material semata. Penghormatan dan bakti ke orang tua yang menekankan pada spritualitas makin ditinggalkan karena tak masuk kalkulasi ekonomi.
Berkaca dari studi ‘Blue Zones’ di sejumlah negara yang memiliki komunitas masyarakat berumur panjang dan sehat, lanjut Faisal, salah satu kunci pendorong panjangnya usia lansia yakni kuatnya dukungan dan interaksi sosial yang membuat mereka senantiasa terhubung dengan yang lain dan hidup dengan tujuan.
Indonesia pun sejatinya memiliki nilai-nilai itu. Budaya mengajarkan masyarakat untuk senantiasa menghargai orang tua karena usia maupun kearifan, pengetahuan, dan kedalaman ilmu kehidupan yang dimiliki. Dalam banyak budaya Nusantara, usia tua dianggap sebagai jalan pulang, bukan jalan akhir, menuju kehidupan lebih abadi dibandingkan dunia materi.
Kompleksnya situasi yang dihadapi dan jumlah lansia yang terus membesar membuat pemerintah perlu mulai banyak berinvestasi untuk lansia, tidak fokus kepada anak dan remaja semata.
Investasi lansia itu, lanjut Faisal, dilakukan bukan semata untuk meningkatkan usia harapan hidup, tetapi menjadikan hidup lansia berkualitas sehingga mereka masih berperan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan negara.
Hanum juga sepakat bahwa kompleksnya persoalan yang dihadapi membuat negara harus hadir untuk memastikan agar setiap orang muda memiliki pekerjaan dan penghidupan yang layak.
Dari pekerjaan itulah mereka bisa menabung, membantu merawat orangtua mereka, hingga memiliki jaminan pensiun atau tabungan untuk menopang kehidupan lansia mereka sendiri di masa depan.
Negara harus hadir untuk memastikan agar setiap orang muda memiliki pekerjaan dan penghidupan yang layak sehingga bisa menabung, membantu merawat orangtua mereka, hingga memiliki tabungan untuk menopang kehidupan lansia mereka di masa depan.
“Menambah pekerjaan seharusnya menjadi prioritas pemerintah saat ini,” katanya. Upaya ini bukan hanya membantu orang muda menghidupi diri sendiri, tetapi juga memudahkan dalam merawat lansia.
Selain itu, pemerintah perlu mulai berinvestasi dengan menciptakan lingkungan ramah lansia. Cara ini dilakukan bukan sebatas membangun taman lansia, tapi juga menciptakan sistem transportasi dan trotoar ramah bagi lansia yang memakai tongkat maupun kursi roda.
Dengan sistem perjalanan yang mendukung, maka warga lansia bisa mandiri mengakses layanan publik, fasiltas kesehatan, hingga berpergian sendirian.
“Pola pikir yang mewajibkan anak merawat orangtuanya sejatinya juga tak sehat bagi lansia karena akan membuat mereka terlalu bergantung pada anak atau orang lain,” ujar Hanum. Kebergantungan akan menurunkan kemandirian lansia yang memengaruhi kesehatan fisik, mental, dan kesejahteraan mereka.
Pada akhirnya, semua akan menjadi tua. Dalam 20 tahun ke depan atau tepat 100 tahun kemerdekaan Indonesia, 1 dari 5 penduduk adalah lansia. Butuh persiapan panjang dan matang agar para lansia tersebut bisa hidup lebih baik dibanding lansia saat ini.
Dengan demikian, bonus demografi kedua benar-benar bisa digapai, tidak terbuang sia-sia seperti bonus demografi yang pertama.





