Kata Bos Kimia Farma (KAEF) soal Rencana Lepas dari Bio Farma

katadata.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Badan Usaha MIlik Negara (BUMN) Farmasi bakal mengalami perombakan. Kabar itu mencuat di tengah rencana Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia melepaskan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dari holding-nya, PT Bio Farma (Persero).  

Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam, membenarkan adanya rencana itu yang disebut "de-holdingisasi". Kendati demikian, Djagad menegaskan Kimia Farma masih menunggu arahan lebih lanjut dari Bio Farma terkait pelaksanaan rencana itu.

Ia menjelaskan, Kimia Farma saat ini posisinya sebagai objek sehingga keputusan ada di tangan Bio Farma selaku induk usaha. “Apakah akan dilakukan tahun ini atau tahun depan? Saya tidak bisa menjawab,” kata Djagad di Jakarta, Kamis (4/6). 

Dia juga mengungkapkan, Danantara telah meminta BUMN, termasuk Kimia Farma, untuk meninjau kembali struktur perusahaan dan melakukan penataan. Langkah itu demi mendukung upaya penyederhanaan (streamlining) perusahaan.

Menurutnya, langkah itu selaras dengan rencana de-holdingisasi yang tengah disiapkan. Sementara itu, untuk agenda streamlining, perusahaan telah mulai mengkaji langkah-langkah efisiensi, termasuk kemungkinan pengurangan jumlah entitas anak usaha sebagai bagian dari penataan struktur grup.

“Itu kami sedang berproses lakukan pengajian dari struktur organisasi kami yang tadi kami sampaikan, itu berapa yang akan dilakukan streamlining, kami sedang berproses,” ucap Djagad.

Sebelumnya Presiden Prabowo Subianto menegaskan arah kebijakan rasionalisasi terhadap BUMN. Prabowo menekankan bahwa reformasi BUMN bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan hasil usaha negara yang selama ini masih rendah.

Sebagai emiten farmasi pelat merah, KAEF juga tengah menggencarkan transformasi bisnis demi mendukung kinerja perusahaan sekaligus memperkuat industri farmasi nasional. 

Aksi itu salah satunya dengan meninggalkan produk-produk komoditas berbiaya tinggi ke lini produk inovatif bermargin tebal (high margin). KAEF juga memperkuat pengelolaan biaya secara menyeluruh, baik pada komponen harga pokok produksi maupun biaya operasional.

Sepanjang 2025, emiten BUMN itu menjalankan program restrukturisasi keuangan sehingga rugi tahun berjalan susut 63,3% dari Rp 1,2 triliun menjadi Rp 443,3 miliar.  

Djagad mengatakan efisiensi operasional dan optimalisasi portofolio produk high margin membuat laba bruto naik menjadi Rp 3,06 triliun dari sebelumnya Rp 2,95 triliun. Kemudian di awal 2026, laba bersih KAEF melonjak 197,79% menjadi Rp 123,6 miliar. 

“Strategi penyehatan ini tidak hanya berhasil membuat perusahaan berbalik dari rugi menjadi laba, namun juga memperkuat ketahanan bisnis KAEF di tengah ketidakpastian makroekonomi global,” ungkap Djagad dalam keterangannya, Rabu (3/6).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iran Marah AS Serang Kapal Tankernya, Ancam Pembalasan!
• 23 jam laludetik.com
thumb
Wamen Imipas Ditahan KPK, Istana Ingatkan Perintah Prabowo Soal Lawan Korupsi
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Bisnis Indonesia Awards 2026: Seleksi Ketat, Cuan dan Tata Kelola Perusahaan Jadi Penentu
• 20 jam lalubisnis.com
thumb
Ketua Komisi XIII DPR: Revisi UU HAM Demi Kepentingan Warga
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Prabowo Jelaskan Alasan Enggan Banyak Berkomentar soal Kasus Hukum di BGN
• 4 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.