Bisnis.com, JAKARTA - Piala Dunia FIFA 2026 di Kanada, Meksiko dan Amerika Serikat akan menghadirkan kembalinya Austria yang sangat dinanti, setelah terakhir kali tampil di panggung global pada 1998, meskipun sebelumnya telah berpartisipasi dalam tujuh edisi ajang utama putra FIFA tersebut.
Peraih medali perunggu 1954 itu memastikan posisi puncak di grup kualifikasi mereka lewat hasil imbang 1-1 saat menjamu Bosnia dan Herzegovina pada 18 November 2025, dan kini akan bertekad menebus waktu yang hilang di Amerika Utara.
Dihadapkan dengan Bosnia dan Herzegovina, Rumania, Siprus dan San Marino di Grup H kualifikasi UEFA, pasukan Rangnick melesat ke posisi puncak dengan memenangkan lima laga pertama mereka. Awal yang gemilang ini termasuk kemenangan terbesar dalam sejarah negara tersebut, yakni kemenangan 10-0 atas San Marino pada Oktober 2025. Marko Arnautovic tampil sebagai bintang dalam laga tersebut dengan membukukan empat gol untuk menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang masa bagi negaranya.
Baca Juga
- Batal Jadi Konsultan di MU, Rangnick Pilih Fokus Jadi Pelatih Timnas Austria
- Profil Timnas Austria di Grup C Euro 2020, Alaba Jadi Tumpuan
- Mendiang Alfred Riedl, dari Timnas Austria ke Skuad Merah Putih
Meskipun absen pada edisi perdana ajang akbar global di Uruguay, Austria memasuki edisi kedua empat tahun kemudian di Italia sebagai salah satu favorit juara. Status tersebut layak mereka sandang, bersama julukan Wonder Team, berkat torehan impresif yang hanya mencatat dua kekalahan dalam 28 pertandingan antara April 1931 hingga dimulainya turnamen.
Edisi terakhir penampilan Austria di turnamen puncak sepak bola dunia terjadi di Prancis pada 1998. Di bawah komando Herbert Prohaska, Austria diundi melawan Italia, Kamerun dan Cile di Grup B. Turnamen tersebut terbukti penuh drama bagi Austria, yang secara luar biasa selalu mencetak gol pada masa tambahan waktu babak kedua di ketiga pertandingan mereka. Meskipun hal itu mencerminkan sikap pantang menyerah mereka, sebuah gol pada menit ke-92 yang hanya memperkecil ketertinggalan pada laga pamungkas melawan Italia ternyata tidak cukup dan datang terlalu terlambat. Pasukan Prohaska akhirnya takluk 2-1 dan tersingkir dengan dua poin — hanya terpaut satu poin dari Cile di posisi kedua — akibat hasil imbang 1-1 pada dua laga lainnya.





