Polemik unggahan lambang Garuda oleh BRIN pada peringatan Hari Lahir Pancasila mungkin hanya berlangsung beberapa hari di media sosial. Kesalahan tersebut telah diklarifikasi dan diperbaiki.
Namun di balik peristiwa itu, ada pertanyaan yang lebih besar yang layak direnungkan: Mengapa bangsa yang memiliki banyak ilmuwan, peneliti, dan inovator masih sering terlambat memberi kepercayaan kepada kemampuan anak bangsanya sendiri?
Pertanyaan ini sesungguhnya tidak hanya berkaitan dengan BRIN. Ia menyentuh persoalan yang lebih mendasar dalam ekosistem inovasi Indonesia.
Selama bertahun-tahun, Indonesia melahirkan banyak individu kreatif yang menghasilkan karya di bidang teknologi, sains, industri, maupun budaya. Sebagian berhasil mendapat pengakuan internasional. Namun tidak sedikit yang harus melalui jalan panjang sebelum karyanya diterima di negeri sendiri.
Salah satu contoh yang cukup dikenal adalah jBatik, perangkat lunak yang dikembangkan oleh tiga pemuda Bandung dengan memanfaatkan konsep matematika fraktal untuk menghasilkan berbagai motif batik. Inovasi tersebut memperlihatkan bahwa teknologi dan budaya tidak harus dipertentangkan. Justru keduanya dapat saling memperkuat.
Namun seperti banyak gagasan baru lainnya, penerimaan tidak selalu datang dengan mudah. Sebagian orang memandang teknologi sebagai ancaman bagi tradisi. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa kebudayaan yang bertahan adalah kebudayaan yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Fenomena seperti ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia. Sejarah dunia dipenuhi kisah para inovator yang pada awalnya diragukan sebelum akhirnya mengubah peradaban. Thomas Edison berkali-kali mengalami kegagalan sebelum berhasil mengembangkan lampu pijar yang praktis digunakan masyarakat.
Wright Bersaudara pernah dianggap terlalu berkhayal ketika meyakini manusia dapat terbang menggunakan mesin. Bahkan, Albert Einstein sempat menghadapi skeptisisme terhadap teori-teorinya yang kemudian mengubah cara manusia memahami alam semesta.
Pelajaran dari berbagai kisah tersebut sederhana: ide besar hampir selalu lahir sebagai sesuatu yang tidak biasa. Karena itu, masyarakat yang maju tidak terburu-buru menolak gagasan baru hanya karena terdengar berbeda.
Kisah serupa juga dapat ditemukan di Indonesia. Ada inovator yang mengembangkan kendaraan listrik ketika isu transisi energi belum menjadi perhatian utama. Ada pula peneliti yang menghasilkan teknologi material yang kemudian digunakan oleh industri internasional. Sebagian dari mereka justru memperoleh apresiasi lebih dahulu dari luar negeri sebelum mendapat perhatian luas di dalam negeri.
Tentu tidak semua hambatan berasal dari pemerintah. Dunia usaha, perguruan tinggi, media, dan masyarakat juga memiliki tanggung jawab dalam menciptakan iklim inovasi yang sehat. Namun ada satu pola yang sering berulang: kita lebih cepat meragukan daripada mendukung.
Sebuah gagasan baru dianggap terlalu berbeda. Sebuah terobosan dinilai terlalu berisiko. Sebuah inovasi diminta membuktikan dirinya berkali-kali sebelum diberi kesempatan berkembang.
Padahal, negara-negara yang kini menjadi pusat teknologi dunia tumbuh karena keberanian mereka memberi ruang kepada eksperimen. Tidak semua ide berhasil. Tidak semua penelitian menghasilkan terobosan. Namun, kesempatan untuk mencoba tetap diberikan karena mereka memahami bahwa inovasi lahir dari proses panjang yang tidak selalu pasti.
Di Indonesia, keberhasilan sering kali baru dihargai setelah memperoleh validasi dari luar negeri. Ketika sebuah karya mendapat penghargaan internasional, perhatian mulai datang. Ketika seorang inovator mendapat pengakuan dunia, kebanggaan nasional pun muncul.
Pola seperti ini seharusnya menjadi bahan evaluasi bersama. Sebab bangsa yang maju tidak dibangun hanya oleh orang-orang pintar. Bangsa yang maju dibangun oleh lingkungan yang mampu mengenali dan mendukung potensi mereka sejak awal.
Pendiri Apple, Steve Jobs, pernah mengatakan,
Kalimat itu mengingatkan bahwa kemajuan tidak lahir dari rasa takut terhadap perubahan, tetapi dari keberanian memberi ruang kepada gagasan yang berbeda.
Dalam konteks itu, polemik Garuda BRIN dapat menjadi pengingat bahwa kemajuan membutuhkan dua hal sekaligus: inovasi dan kualitas. Kita membutuhkan kreativitas, tetapi juga ketelitian. Kita membutuhkan teknologi, tetapi juga tanggung jawab. Kita membutuhkan gagasan baru, tetapi juga keberanian untuk mendukung mereka yang melahirkannya.
Indonesia memiliki banyak anak muda berbakat, ilmuwan cerdas, dan inovator yang mampu bersaing di tingkat global. Yang masih perlu diperkuat adalah budaya yang menghargai kualitas dan memberi kepercayaan sejak awal, bukan setelah pengakuan datang dari luar negeri.
Karena jika kepercayaan itu terus datang terlambat, kita akan terus menyaksikan pola yang sama: inovasi lahir di Indonesia, berkembang di luar negeri, lalu kita sibuk bertanya "Mengapa kesempatan itu tidak tumbuh di rumah sendiri?"





