Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada di bawah tekanan. Pada Kamis (4/6/2026) pagi, kurs rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS setelah sebelumnya ditutup di posisi Rp17.966 per dolar AS pada perdagangan Rabu (3/6/2026), melansir CNN.
Berdasarkan data pasar yang dikutip berbagai lembaga keuangan, rupiah pada pukul 06.20 WIB diperdagangkan di kisaran Rp18.001 per dolar AS atau melemah sekitar 0,43% dibandingkan posisi sebelumnya. Dalam 24 jam terakhir, mata uang Garuda bahkan sempat menyentuh level Rp18.013 per dolar AS, menjadi salah satu titik terlemah dalam periode perdagangan terbaru.
Peristiwa Rupiah tembus Rp 18.000 menjadi perhatian luas ekonom karena level tersebut selama ini dianggap sebagai batas psikologis penting bagi pasar keuangan Indonesia. Ketika kurs melewati angka tersebut, pelaku pasar biasanya mulai mencermati risiko yang lebih besar terhadap stabilitas ekonomi, inflasi, dan arus modal asing.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Rupiah melemah hingga menyentuh level tersebut?
Rupiah Tembus Rp18.000, Apa Sebabnya?Pelemahan rupiah yang terjadi pada awal Juni sebenarnya bukan peristiwa yang muncul secara mendadak. Dalam beberapa pekan terakhir, nilai tukar rupiah terus bergerak mendekati level Rp18.000 per dolar AS sebelum akhirnya menembus batas tersebut pada perdagangan Kamis pagi.
Sehari sebelumnya, rupiah ditutup melemah 127,5 poin atau sekitar 0,71% ke level Rp17.966 per dolar AS. Tekanan yang berlanjut pada perdagangan berikutnya membuat kurs bergerak melewati ambang psikologis Rp18.000. Data pasar bahkan menunjukkan dolar AS sempat menyentuh kisaran Rp18.010, kemudian bergerak menuju sekitar Rp 18.015 per dolar AS per pukul 7, pagi ini.
Fenomena Rupiah tembus Rp 18.000 menjadi sorotan dunia internasional karena level tersebut sering dijadikan indikator sentimen investor terhadap kondisi ekonomi nasional. Semakin jauh nilai tukar bergerak dari level fundamental yang dianggap ideal, semakin besar pula perhatian pasar terhadap risiko ekonomi yang mungkin muncul.
Ada sejumlah faktor yang menyebabkan Rupiah melemah dalam beberapa waktu terakhir. Faktor terbesar berasal dari kondisi global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan ekonomi.
Salah satu pemicu utama adalah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Israel, Lebanon, dan Iran membuat pasar global khawatir terhadap gangguan pasokan energi dunia. Ketika risiko geopolitik meningkat, investor biasanya memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman atau safe haven, termasuk dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim As Syuaibi menilai ketidakpastian negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran turut memperburuk sentimen pasar, melansir dari Antara News. Laporan yang menyebut komunikasi antara Washington dan Teheran terhenti dalam beberapa hari terakhir memunculkan spekulasi bahwa proses diplomasi mengalami kebuntuan.
Ketidakpastian tersebut mendorong penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah. Akibatnya, Rupiah melemah karena permintaan terhadap dolar meningkat secara signifikan.
Selain konflik geopolitik, lonjakan harga minyak dunia juga menjadi faktor penting. Kenaikan harga energi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan berpotensi memperlambat pemulihan ekonomi di berbagai negara.
Pengaruh The Fed terhadap Pergerakan RupiahTekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari konflik geopolitik. Melansir dari Liputan6, Pasar juga mencermati perkembangan ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi mempengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral AS atau The Fed.
Data terbaru menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di Amerika Serikat meningkat di luar perkiraan pasar pada April 2026. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa ekonomi AS masih relatif kuat sehingga membuka peluang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Ekspektasi tersebut membuat investor global cenderung mempertahankan investasi dalam aset berbasis dolar AS karena menawarkan tingkat imbal hasil yang menarik. Akibatnya, aliran modal ke negara berkembang menjadi lebih terbatas dan menambah tekanan terhadap mata uang lokal.
Faktor Domestik yang Mempengaruhi Nilai TukarSelain sentimen eksternal, terdapat sejumlah faktor domestik yang ikut mempengaruhi pergerakan kurs rupiah. Salah satunya adalah data inflasi Indonesia pada Mei 2026 yang tercatat sebesar 0,28% secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan inflasi April yang berada di level 0,13%.
Meski kenaikan inflasi tersebut masih dalam batas yang relatif terkendali, pasar tetap mencermatinya sebagai salah satu indikator kondisi ekonomi domestik.
Di sisi lain, muncul berbagai spekulasi yang berkembang di pasar mengenai kondisi fiskal pemerintah dan arah kebijakan ekonomi nasional. Rumor tersebut ikut mempengaruhi psikologi investor dan memperbesar tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek.
Dilansir dari Kontan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa pelemahan rupiah disebabkan oleh kebijakan fiskal yang buruk. Menurutnya, kondisi fiskal Indonesia justru menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya, terutama dari sisi penerimaan pajak yang terus bertumbuh.
Purbaya juga membantah kabar bahwa pemerintah meminta perbankan melakukan stress test dengan asumsi kurs rupiah berada di atas Rp18.000 per dolar AS. Ia menegaskan bahwa rumor tersebut tidak pernah berasal dari pemerintah.



