Selat Hormuz Geger! F-35 Diduga Menembus Pertahanan Iran dan Menghancurkan Radar Kebanggaan Beijing

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menjadi perhatian dunia setelah muncul laporan mengenai hancurnya sebuah radar anti-siluman buatan Tiongkok yang ditempatkan Iran di salah satu pulau strategis dekat Selat Hormuz. Radar tersebut selama ini dipromosikan sebagai sistem yang mampu mendeteksi pesawat tempur siluman generasi kelima, termasuk F-35 milik Amerika Serikat.

Namun dalam perkembangan terbaru, radar yang digadang-gadang sebagai salah satu simbol kemampuan pertahanan udara modern itu dilaporkan gagal menjalankan fungsinya ketika menghadapi ancaman yang sesungguhnya.

Menurut berbagai laporan yang beredar pada 2 Juni 2026, sebuah pesawat tempur siluman F-35 Amerika Serikat dilaporkan berhasil memasuki wilayah operasi radar tersebut tanpa terdeteksi. Dalam operasi yang berlangsung sangat cepat, pesawat itu disebut menghancurkan instalasi radar hingga tidak lagi dapat beroperasi.

Apabila laporan tersebut terbukti akurat, maka insiden ini menjadi pukulan serius bagi citra teknologi pertahanan udara yang selama ini dipromosikan Beijing kepada negara-negara mitranya.

Radar yang Dirancang untuk Mendeteksi F-35 Justru Gagal Menghadapi F-35

Radar yang ditempatkan Iran tersebut merupakan bagian dari sistem pengawasan udara yang dirancang untuk mengawasi jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz, salah satu titik paling strategis dalam perdagangan energi dunia.

Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan Samudra Hindia. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati kawasan ini setiap harinya. Karena itu, setiap gangguan keamanan di wilayah tersebut berpotensi memengaruhi pasar energi global.

Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok dan Iran memperkuat kerja sama di bidang militer dan teknologi pertahanan. Salah satu bentuk kerja sama tersebut adalah penyediaan sistem radar yang diklaim mampu mendeteksi pesawat siluman modern.

Radar anti-siluman tersebut dipasang untuk mengawasi kemungkinan aktivitas militer Amerika Serikat maupun sekutu-sekutunya di kawasan Teluk Persia.

Namun, laporan terbaru justru menyebutkan bahwa radar tersebut tidak mampu mendeteksi kehadiran F-35 sebelum serangan terjadi. Akibatnya, instalasi yang menjadi tulang punggung sistem pengawasan itu hancur dalam waktu singkat.

Peristiwa ini memunculkan kembali perdebatan lama mengenai efektivitas radar anti-siluman dalam menghadapi teknologi stealth generasi terbaru yang digunakan Angkatan Udara Amerika Serikat.

Narasi Keunggulan Sistem Pertahanan Tiongkok Kembali Dipertanyakan

Insiden ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan sistem pertahanan udara yang selama ini dipromosikan Tiongkok kepada negara-negara sekutunya.

Selama bertahun-tahun, berbagai media resmi Beijing sering menampilkan radar anti-siluman sebagai jawaban terhadap dominasi udara Amerika Serikat. Sistem tersebut diklaim mampu mendeteksi pesawat siluman dari jarak jauh dan memberikan peringatan dini kepada operator pertahanan udara.

Namun apabila radar tersebut benar-benar dihancurkan oleh F-35 tanpa sempat memberikan peringatan efektif, maka klaim mengenai kemampuannya akan menghadapi sorotan serius dari kalangan analis militer internasional.

Sejumlah pengamat menilai bahwa keberhasilan pesawat siluman menembus sistem pertahanan yang dirancang khusus untuk mendeteksinya akan menjadi contoh nyata mengenai kesenjangan teknologi yang masih ada antara kedua pihak.

Kapal dan Awak Tiongkok Dilaporkan Terjebak di Selat Hormuz

Di tengah meningkatnya ketegangan regional, dampak konflik tidak hanya dirasakan oleh Iran.

Menurut informasi yang beredar pada 1 Juni 2026, sejumlah kapal dagang dan awak kapal asal Tiongkok dilaporkan terjebak di kawasan Selat Hormuz selama 49 hari akibat situasi keamanan yang tidak menentu.

Gangguan pelayaran di wilayah tersebut telah menyebabkan keterlambatan distribusi barang dan meningkatkan biaya operasional perusahaan pelayaran internasional.

Kondisi ini memicu reaksi luas di media sosial Tiongkok.

Banyak pengguna internet mempertanyakan kemampuan pemerintah mereka dalam melindungi kepentingan nasional di luar negeri. Beberapa komentar bernada sindiran bahkan menjadi viral.

Salah satu komentar yang banyak dibagikan berbunyi: “Ke mana para ‘serigala perang’ sekarang?”

Komentar lain menyindir bahwa jika klaim diplomasi dan kekuatan nasional Tiongkok benar-benar efektif, maka kapal-kapal Tiongkok seharusnya dapat melintasi kawasan tersebut tanpa hambatan.

Meskipun komentar-komentar tersebut bersifat satir, kemunculannya menunjukkan meningkatnya ketidakpuasan sebagian publik terhadap dampak konflik regional terhadap kepentingan ekonomi Tiongkok.

Beijing Disebut Berkepentingan Menahan Amerika Serikat di Timur Tengah

Sejumlah analis geopolitik menilai bahwa Beijing memiliki kepentingan strategis agar Amerika Serikat tetap terfokus pada konflik-konflik di Timur Tengah.

Dengan Washington terus mengalokasikan sumber daya militer, diplomatik, dan ekonomi ke kawasan tersebut, perhatian Amerika terhadap Indo-Pasifik dan persaingan strategis dengan Tiongkok dinilai dapat berkurang.

Karena itu, stabilitas atau eskalasi di Timur Tengah sering kali dipandang memiliki dampak langsung terhadap keseimbangan kekuatan global.

Namun pendekatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampaknya berbeda.

Dalam wawancara dengan ABC News pada 1 Juni 2026, Trump menyatakan bahwa meskipun terdapat sejumlah hambatan dalam proses diplomatik, ia yakin situasi saat ini mulai bergerak ke arah yang lebih positif.

“Ada sedikit masalah saat ini, tetapi saya sudah mulai membalikkan keadaan,” ujar Trump.

Trump juga menyampaikan optimismenya bahwa Amerika Serikat dan Iran berpotensi mencapai kesepakatan baru dalam waktu dekat yang dapat memperpanjang gencatan senjata serta membuka kembali jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Trump dan Netanyahu Dikabarkan Berselisih Soal Lebanon

Sumber-sumber media Amerika melaporkan bahwa salah satu hambatan utama dalam proses diplomasi muncul setelah Iran mengancam menarik diri dari perundingan akibat serangan Israel terhadap Lebanon.

Menanggapi perkembangan tersebut, Trump dilaporkan melakukan pembicaraan telepon selama hampir dua jam dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Menurut laporan yang beredar, percakapan tersebut berlangsung dalam suasana yang cukup tegang. Trump disebut meminta Israel untuk membatasi eskalasi operasi militernya di Lebanon demi menjaga peluang keberhasilan proses negosiasi dengan Iran.

Tak lama setelah pembicaraan tersebut, Gedung Putih kembali menyampaikan optimisme mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan baru dalam waktu dekat.

Kekhawatiran Munculnya “Kartu Nuklir” Iran

Di tengah upaya meredakan ketegangan, muncul pula berbagai laporan intelijen yang menimbulkan kekhawatiran baru.

Mantan analis CIA, Larry Johnson, dalam sebuah wawancara dengan komentator politik independen Mario Nawfal, mengungkapkan bahwa ia menerima informasi mengenai kemungkinan Iran mengambil langkah yang jauh lebih agresif apabila proses diplomasi gagal.

Menurut Johnson, terdapat skenario di mana Iran tidak hanya menghentikan negosiasi, tetapi juga mempertimbangkan keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Lebih kontroversial lagi, Johnson mengklaim bahwa terdapat spekulasi mengenai kemungkinan Iran menunjukkan kemampuan nuklir tertentu yang diduga diperoleh melalui bantuan pihak ketiga.

Meski klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, pernyataan itu telah memicu diskusi luas di kalangan pengamat keamanan internasional.

Bila skenario tersebut benar-benar terjadi, maka situasi dapat menyerupai strategi yang pernah ditempuh Korea Utara, yaitu menggunakan kemampuan nuklir sebagai alat penangkal untuk mencegah intervensi eksternal.

Trump Dinilai Sedang Bertaruh pada Diplomasi dan Waktu

Sejumlah analis menilai bahwa strategi Trump saat ini berfokus pada kombinasi tekanan ekonomi, tekanan militer terbatas, dan diplomasi intensif.

Tujuannya adalah mencegah kelompok garis keras di Iran memperoleh alasan untuk memperluas konflik regional, sambil memberikan ruang bagi kelompok pragmatis di dalam pemerintahan Iran untuk mempertahankan jalur negosiasi.

Laporan dari berbagai sumber intelijen juga menyebutkan bahwa elite politik Iran saat ini menghadapi perbedaan pandangan yang cukup tajam antara kelompok yang mendukung kompromi dengan Barat dan kelompok yang menginginkan konfrontasi lebih keras.

Dalam konteks tersebut, Washington tampaknya berupaya menghindari langkah-langkah yang justru dapat memperkuat posisi kelompok garis keras.

Sementara itu, perkembangan di Selat Hormuz, termasuk dugaan penghancuran radar anti-siluman oleh F-35, menunjukkan bahwa persaingan teknologi militer dan perebutan pengaruh geopolitik di kawasan Timur Tengah masih jauh dari kata berakhir. Jika ketegangan terus meningkat, kawasan ini berpotensi kembali menjadi pusat perhatian dunia dalam beberapa pekan mendatang.  (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anak 3 Tahun Diikat Ibunya dalam Rumah di Bantul, Tetangga Dengar Tangisan Lirih
• 18 jam lalugrid.id
thumb
IHSG Terus Melemah, Rendahnya Kepercayaan Investor Asing atas Kebijakan Pemerintah Jadi Isu
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Berkonflik dengan Sarwendah, Ruben Onsu Unggah Chat Betrand Peto
• 35 menit lalucumicumi.com
thumb
Istana: Pergantian Pimpinan BGN Sudah Direncanakan Sejak Lama
• 22 jam laludisway.id
thumb
UBSI Dorong Kader Fatayat NU Benda Perkuat Branding Produk Melalui Pelatihan Desain Visual
• 14 jam laluparagram.id
Berhasil disimpan.