China menegaskan bahwa tidak ada praktik kerja paksa di negaranya. Beijing mengkritik rencana tarif impor tambahan Amerika Serikat (AS).
IDXChannel - China menegaskan bahwa tidak ada praktik kerja paksa di negaranya. Beijing mengkritik rencana tarif impor tambahan Amerika Serikat (AS) yang didasari tuduhan tersebut.
AS baru-baru ini mengumumkan rencana tarif impor tambahan hingga 12,5 persen untuk sekitar 60 negara. Mereka dituduh gagal mengatasi praktik kerja paksa.
“Kami menentang penggunaan dalih untuk pemberlakuan tarif," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning kepada wartawan di Beijing, dilansir dari Anadolu Agency pada Kamis (4/6/2026).
Selain China, negara yang masuk dalam daftar tersebut antara lain Uni Eropa, Kanada, Meksiko, India, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia.
“Perang perdagangan dan tarif tidak menguntungkan siapa pun. Masalah ekonomi dan perdagangan harus diselesaikan melalui dialog atas dasar kesetaraan dan timbal balik,” kata Mao.
AS dan China adalah dua negraa dengan ekonomi terbesar di dunia, dengan produk domestik bruto masing-masing sekitar USD32 triliun dan USD20,8 triliun.
Tahun lalu, kedua pihak terlibat dalam perang tarif sebelum kemudian mengumumkan gencatan. Sejak itu, keduanya sepakat untuk menurunkan bea masuk pada barang-barang tertentu dalam upaya menstabilkan hubungan. (Wahyu Dwi Anggoro)





