Geliat penjualan mobil listrik di Indonesia membuka peluang baru bagi berbagai sektor industri, termasuk perusahaan asuransi. Namun di balik pertumbuhan pasar tersebut, kendaraan listrik dinilai memiliki tingkat risiko klaim yang relatif lebih tinggi dibanding mobil bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE).
Marketing-Retail & Digital Business Director Asuransi Astra, Deddy Armand mengatakan bahwa sejatinya, Asuransi Astra melalui Garda Oto, telah menyediakan polis untuk mobil listrik, termasuk sejumlah merek asal Tiongkok yang kini mulai banyak beredar di Indonesia.
”Tapi sejujurnya kita tetap masih lebih banyak dari value chain ekosistem Astra. Namun, kita secara bertahap juga akan melihat peluang yang ada untuk mengembangkan ke produk-produk China,” kata Deddy di Jakarta, Rabu (3/6/2025).
Meski telah menyediakan perlindungan untuk berbagai kendaraan listrik, Asuransi Astra mengakui terdapat sejumlah tantangan yang perlu diperhitungkan dalam bisnis asuransi EV. Salah satunya berkaitan dengan profil risiko kendaraan tersebut.
Technical & Operation Director Asuransi Astra, Mulia K. B. Siregar menambahkan, kemampuan perusahaan asuransi dalam memenuhi klaim menjadi aspek paling penting dalam bisnis ini. Karena itu, penetapan premi harus mempertimbangkan tingkat risiko yang dihadapi.
”Moment of truth bagi asuransi itu adalah apakah mampu membayar klaimnya atau tidak. Secara konsep, preminya, harus cukup untuk risikonya,” tambah Mulia di kesempatan serupa.
Menurut dia, pengalaman klaim kendaraan listrik saat ini masih relatif lebih tinggi dibanding mobil bermesin konvensional.
”EV ini menunjukkan claim experience yang relatif lebih tinggi daripada ICE (internal combustion engine),” terangnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan perusahaan asuransi dalam menyusun skema perlindungan dan penetapan premi kendaraan listrik.
Selain itu, Mulia menilai teknologi kendaraan listrik juga masih berada dalam fase perkembangan, sehingga belum memiliki tingkat kematangan yang setara dengan mobil ICE. Karena itu, berbagai penyesuaian masih akan terus dilakukan seiring berkembangnya ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
“Jadi yang kita lakukan adalah menjembatani kebutuhan konsumen, memastikan melakukan pricing yang memadai, dan menjamin pemenuhan janji kita untuk pemenuhan klaim ketika dibutuhkan,” tandasnya.
Sementara itu kebutuhan perlindungan asuransi untuk kendaraan listrik diperkirakan akan terus meningkat seiring pertumbuhan penjualannya di Indonesia. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan tren pasar mobil listrik masih mencatatkan pertumbuhan positif.
Pada April 2026 misalnya, segmen battery electric vehicle (BEV) atau mobil listrik murni menyumbang pangsa pasar wholesales sebesar 18,34 persen atau sebanyak 14.185 unit dari total pasar nasional.
Sementara itu, sepanjang Januari-April 2026, wholesales mobil listrik mencapai 47.781 unit. Angka tersebut meningkat 89,4 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 25.213 unit.





